JawaPos.com - Menangis setelah mengalami mimpi buruk bisa meninggalkan perasaan berat bahkan setelah tersadar. Tetapi, menangis saat tidur ternyata bukan hal yang harus dikhawatirkan secara berlebihan.
Jika anda masih bisa menangis, tandanya seseorang belum mati rasa, anda masih manusia. Manusia akan selalu merasakan emosi dan air mata adalah salah satu cara kita memproses emosi.
Pada bayi menangis saat tidur biasanya terjadi saat transisi tidur, saat mereka belum terbiasa berpindah dari satu fase tidur ke fase lainnya.
Sementara itu, bagi orang dewasa, menangis saat tidur menandakan adanya perasaan lelah secara emosional, kondisi kesehatan mental, atau pengalaman traumatis yang dapat memicu tangisan saat tidur maupun saat terbangun.
Berbeda dengan usia lansia, saat di tahap usia ini menangis saat tidur berkaitan dengan gejala demensia, tantangan kesehatan mental, dan emosional akibat proses penuaan dan tekanan akibat perubahan hidup yang sedang mereka jalani.
Mengutip dari laman www.verywellmind.com berikut adalah penjelasan secara lengkap mengapa seseorang bisa menangis tanpa sadar saat tertidur.
Penyebab anda menangis saat tidur:
Transisi tidur
Salah satu tahap tidur adalah Rapid Eye Movement (REM) atau tidur ringan. Karena belum terbiasa berpindah dari tidur pulas ke dalam tidur ringan, seseorang akan merasa tidak nyaman. Bayi paling sering mengalami transisi tidur yang ditandai dengan tangisan terus menerus saat tidur.
Teror di malam hari
Teror malam adalah gangguan tidur yang biasanya tidak diingat ketika terbangun. Gejalanya bisa meliputi bergerak liar, berteriak, berjalan di dalam tidur, dan menangis saat tidur ataupun setelahnya. Teror malam ini biasanya berkurang ketika anak berumur sepuluh tahun.
Mimpi buruk
Mimpi buruk yang intenz dapat menyebabkan seseorang menangis saat terbangun. Biasanya tangisan ini diikuti dengan keadaan takut dan cemas. Mimpi buruk secara psikologis berkaitan dengan cara yang sulit dalam memproses emosi, seperti stres dan kecemasan.
Emosi terpendam
Setiap orang memiliki cara berbeda di dalam menghadapi duka. Ada yang terbuka dan segera mencari bantuan, sementara yang lain memilih untuk menyimpan perasaan dan tetap sibuk seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, di malam hari emosi yang ditekan bisa muncul dan menyebabkan gangguan tidur, termasuk menangis saat tidur.
Kecemasan dan stres
Masalah pekerjaan, hubungan asmara, keluarga, dan keuangan, hingga kesehatan bisa memicu rasa stres yang berat. Otak kita memproses tekanan tersebut dan ketika tidur, emosi kita bekerja untuk menyeimbangkan semuanya. Tangisan saat tidur bisa menjadi gambaran dari beban stres dan kecemasan yang anda alami. Tidur membantu otak membentuk memori emosional, empati, dan mengatur reaktivitas emosional.
Parasomnia
Parasomnia mencakup gangguan seperti berjalan atau berjalan saat tidur. Parasomnia bisa disebabkan oleh perasaan stres, cemas, dan perubahan yang drastis dalam pola tidur.
Depresi
Depresi adalah gangguan suasana hati yang menimbulkan kesedihan secara terus menerus, putus asa, dan hilangnya minat terhadap aktivitas yang dulu menyenangkan. Orang depresi lebih beresiko tinggi mengalami gangguan tidur, dengan gejala utamanya adalah sering menangis tanpa sebab yang jelas.
Depresi di pagi hari
Depresi di pagi hari ditandai dengan tidur yang terlalu lama, bangun dalam keadaan kesal, sulit memulai aktivitas di pagi hari, dan merasa hari akan berjalan buruk.
Demensia
Penderita demensia sering mengalami gangguan tidur yang dipicu karena kerusakan pada hipotalamus dan batang otak. Penderita demensia bisa mengalami kesulitan tidur, sering tidur siang, mudah marah di malam hari, dan sering terbangun.
Perubahan obat-obatan
Konsumsi obat-obatan tertentu bisa mengganggu pola tidur. Terutama jika obat tersebut mempengaruhi sistem saraf pusat. Contoh obat-obatan tersebut antara lain: antidepresan, antikonvulsan, obat penyakit jantung atau diabetes.
Kondisi secara medis
Terkadang tangisan saat tidur bukan disebabkan karena faktor emosional atau mental, tetapi karena masalah fisik yang membuat mata berair. Kondisi ini bisa terjadi karena alergi, konjungtivitis, atau saluran air mata yang tersumbat.