← Beranda

Orang yang Mudah Tersinggung Saat Bercanda Biasanya Pernah Mengalami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa

Silvia SulistiaraSelasa, 15 April 2025 | 05.23 WIB
Ilustrasi seseorang yang mudah tersinggung saat bercanda. (Freepik)

JawaPos.com - Kita sering mendengar pepatah lama, “Sticks and stones may break my bones, but words will never hurt me.” Namun, kenyataannya tak semudah itu.

Bagi sebagian orang, kata-kata tetap bisa menyakitkan, apalagi jika diucapkan dalam bentuk candaan yang sekilas terlihat sepele.

Sedikit bercanda di antara teman memang bisa jadi momen menyenangkan. Bahkan, bisa mempererat hubungan. Namun, bagi sebagian orang, lelucon ringan justru bisa memicu perasaan tak nyaman yang sulit mereka jelaskan.

Pernah bertanya-tanya kenapa ada orang yang mudah tersinggung saat bercanda? Ternyata, ada alasan di sebaliknya. Orang-orang ini biasanya pernah mengalami pengalaman tertentu saat tumbuh dewasa yang membentuk cara mereka merespons sesuatu hingga sekarang.

Bukan berarti mereka tak punya selera humor atau terlalu sensitif. Ada proses panjang di sebaliknya. Dilansir dari Geediting pada Senin (14/4), berikut ini tujuh pengalaman masa kecil yang kerap dialami orang yang mudah tersinggung saat bercanda.

1. Pernah Mengalami Perundungan Saat Kecil
Pengalaman masa kecil sangat memengaruhi reaksi seseorang ketika dewasa. Bagi yang pernah menjadi korban perundungan, candaan ringan bisa terasa menyakitkan, meski maksudnya hanya bercanda. Luka lama bisa terbuka kembali saat mendengar kata-kata yang mengingatkan mereka pada masa itu.

Bayangkan seperti lagu yang rusak di bagian tertentu, setiap diputar selalu mengulang di bagian yang sama. Begitu pula dengan orang yang pernah dibully, candaan bisa memicu kenangan tak menyenangkan. Ini bukan soal sensitif, tetapi soal trauma yang seharusnya kita pahami bersama.

2. Minim Dukungan Positif Saat Tumbuh Dewasa
Ada juga orang yang tumbuh tanpa banyak mendapatkan apresiasi. Mungkin mereka bukan anak yang paling menonjol di keluarga, kalah bersinar dibanding saudara-saudara lain. Meski tak mengalami hal buruk secara langsung, kurangnya dukungan bisa membuat seseorang meragukan diri sendiri.

Saat seseorang tidak terbiasa mendapat pengakuan, candaan sekecil apa pun bisa terasa seperti sindiran atau ejekan. Bukan karena ingin dipuji terus, tetapi karena harga diri dan rasa percaya diri mereka tak terbangun dengan kuat sejak kecil.

3. Dibesarkan Orang Tua yang Terlalu Kritis
Tumbuh di lingkungan yang penuh kritik membuat seseorang terbiasa hidup dalam tekanan. Setiap langkah, keputusan, bahkan kesalahan kecil terus disorot. Orang tua mungkin berniat baik, tetapi caranya justru meninggalkan bekas.

Akibatnya, saat bercanda pun, orang ini jadi waspada dan menganggap semua ucapan sebagai kritik. Bukan karena tak bisa menerima lelucon, tetapi karena terbiasa menghadapi teguran, candaan ringan pun bisa terasa seperti serangan.

4. Mengalami Pengabaian Emosional
Bukan soal materi, tetapi tentang perhatian dan dukungan emosional. Ada orang yang dibesarkan dalam keluarga yang cenderung cuek dan tak terbiasa menunjukkan perasaan. Semua emosi dipendam, pertanyaan seperti “kamu baik-baik saja?” dijawab dengan “nggak apa-apa” meski sebenarnya sebaliknya.

Akibatnya, saat dewasa mereka kesulitan memahami dan mengelola perasaan. Saat orang lain bercanda, mereka mungkin tak bisa membedakan mana yang tulus bercanda dan mana yang menyakitkan. Ini bukan soal mudah tersinggung, tetapi soal cara mereka memahami dunia emosional yang dulu tak pernah diajarkan.

5. Cenderung Introvert
Meski terkesan tak berkaitan, sifat introvert juga berpengaruh pada respons seseorang terhadap candaan. Sekitar separuh populasi dunia termasuk dalam kategori ini. Introvert biasanya memproses segala sesuatu lebih dalam, termasuk perkataan orang lain.

Akibatnya, candaan ringan pun bisa terasa serius bagi mereka. Bukan karena tak suka bercanda, tetapi karena cara berpikir mereka yang lebih detail dan penuh pertimbangan. Bukan kekurangan, hanya cara berinteraksi yang berbeda.

6. Mengalami Kecemasan Sosial
Bayangkan harus terus berhati-hati dalam situasi sosial, takut salah bicara, atau menjadi bahan tertawaan. Itulah yang dirasakan orang dengan kecemasan sosial. Setiap interaksi serasa berjalan di atas tali, takut terjatuh kapan saja.

Dalam kondisi seperti itu, candaan kecil pun bisa terasa berat. Bukan karena mereka tak bisa diajak bercanda, tetapi karena mereka sedang berusaha keras agar tetap tenang di situasi sosial. Semua jadi terasa lebih berat dari yang orang lain bayangkan.

7. Pernah Mengalami Trauma
Trauma, baik secara fisik, emosional, maupun psikologis, meninggalkan bekas yang sulit hilang. Pengalaman traumatis bisa mengubah cara otak memandang ancaman. Hal-hal kecil yang dianggap biasa saja oleh orang lain, bisa menjadi pemicu ketakutan bagi orang yang pernah trauma.

Candaan yang bagi sebagian orang tak berarti apa-apa, bisa terasa mengancam. Ini bukan soal lebay atau drama, tetapi tentang mekanisme alami tubuh dan pikiran untuk bertahan dari sesuatu yang pernah menyakitkan. Penting bagi kita untuk lebih peka terhadap kondisi ini.

Kalau kamu merasa termasuk dalam orang-orang yang mudah tersinggung saat bercanda, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Hidup memang membentuk kita lewat berbagai pengalaman, sering kali tanpa kita sadari.

Memahami asal-usul reaksi ini jadi langkah awal untuk bertumbuh. Mudah tersinggung bukan berarti lemah, justru kamu kuat karena berhasil bertahan. Kabar baiknya, kamu bisa perlahan membangun cara pandang baru.

Dengan kesadaran diri dan empati, kita bisa belajar membedakan mana yang benar-benar ancaman dan mana yang hanya candaan ringan. Butuh waktu, tetapi setiap langkah kecil tetap layak dirayakan.

Jadi, yuk kita lebih bijak saat bercanda dan lebih peka terhadap orang lain. Karena setiap orang punya cerita, luka, dan cara bertahan masing-masing.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho