← Beranda

7 Frasa Menghakimi yang Digunakan Orang dengan IQ Jongkok Menurut Psikologi

Mohammad Maulana IqbalRabu, 19 Maret 2025 | 20.56 WIB
frasa menghakimi yang digunakan orang dengan IQ jongkok menurut psikologi. (Freepik/ freepik)

 

JawaPos.com – Dalam psikologi, cara seseorang berbicara dan memilih frasa kerap mencerminkan tingkat kecerdasan dan kematangan berpikirnya.

Orang dengan kepribadian yang cenderung menghakimi biasanya menunjukkan pola komunikasi yang dangkal, bahkan terkesan merendahkan orang lain tanpa disadari.

Mereka kerap melontarkan frasa yang justru menunjukkan ketidakmampuan memahami situasi secara objektif dan bijak.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah IQ jongkok, yang menggambarkan perilaku minim empati, kurangnya kapasitas berpikir kritis, dan kecenderungan menilai segala sesuatu secara sempit.

Menurut psikologi, ada tujuh frasa menghakimi yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan karakter seperti ini, dan sayangnya kerap terdengar dalam kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (19/3), diterangkan bahwa terdapat tujuh frasa menghakimi yang digunakan orang dengan IQ jongkok menurut psikologi.

Baca Juga: 7 Frasa yang Akan Menghancurkan Kepercayaan Diri Anak Anda, Menurut Psikolog Parenting

1. Kamu salah

Komunikasi yang efektif seringkali tercermin dari pilihan kata seseorang dalam percakapan sehari-hari.

Ungkapan “Kamu salah” menunjukkan kurangnya kecerdasan emosional karena langsung menutup diskusi tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain.

Orang yang menggunakan ungkapan ini cenderung mengambil kesimpulan terburu-buru dan menolak pendapat orang lain tanpa pertimbangan matang.

Seperti yang dikatakan psikolog Carl Rogers, “Esensi dari kreativitas adalah kebaruannya, sehingga kita tidak memiliki standar untuk menghakiminya.”

Mengenali pola komunikasi ini dapat membantu kita mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang lebih baik dan mendorong dialog yang lebih bermakna.

2. Aku sudah tahu itu akan terjadi

Pernahkah berbicara dengan seseorang yang selalu mengklaim “Aku sudah tahu itu akan terjadi” setelah suatu peristiwa terjadi?

Ungkapan ini merupakan bentuk bias hindsight, dimana seseorang merasa telah memprediksi hasil setelah kejadian berlangsung.

Psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya “Thinking, Fast and Slow” menyatakan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan pemahaman mereka tentang dunia dan meremehkan peran kebetulan dalam berbagai peristiwa.

Sikap ini mengabaikan faktor-faktor tak terduga dan malah menganggap semua hasil adalah berkat wawasan pribadi.

Dengan mengenali perilaku ini, kita bisa menjadi lebih rendah hati, terbuka untuk belajar, dan tidak terlalu cepat menilai dalam percakapan sehari-hari.

Baca Juga: Pantas Anak Muda Tutup Kuping, 7 Frasa dari Generasi Baby Boomer yang Terdengar Ketinggalan Zaman dan Tidak Relevan

3. Memang begitu sifatku

Ungkapan “Memang begitu sifatku” sering digunakan untuk membenarkan tindakan atau sikap yang tidak berkenan.

Kata-kata ini pada dasarnya menunjukkan ketidaksiapan seseorang untuk berubah atau mempertimbangkan sudut pandang alternatif.

Psikolog terkenal Abraham Maslow pernah mengatakan, “Dalam setiap momen kita memiliki dua pilihan: melangkah maju menuju pertumbuhan atau mundur menuju keamanan.”

Dengan memahami implikasi dari ungkapan ini, kita dapat menantang diri sendiri untuk lebih terbuka terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk berubah dan berkembang sepanjang hidup mereka.

4. Hanya hitam atau putih

Ungkapan “Hanya hitam atau putih” mencerminkan pemikiran dikotomis yang memandang segala sesuatu dalam ekstrem tanpa ruang untuk area abu-abu.

Orang yang menggunakan ungkapan ini sering kesulitan melihat nuansa dalam situasi dan gagal mengenali kompleksitas kehidupan.

Mereka cenderung melabeli hal-hal sebagai baik atau buruk, benar atau salah, tanpa menghargai kompleksitas yang ada.

Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa orang yang terlibat dalam pemikiran dikotomis lebih cenderung mengalami kondisi emosional negatif dan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah.

Memahami keterbatasan pemikiran hitam-putih dapat membantu kita menghargai kompleksitas kehidupan dan menciptakan percakapan yang lebih bermakna.

5. Bukan salahku

Pernahkah bertemu dengan seseorang yang tidak pernah bertanggung jawab atas tindakannya dan selalu mengatakan “Bukan salahku”? Ungkapan ini merupakan contoh klasik dari perilaku mengelak, di mana seseorang mengalihkan kesalahan kepada orang lain daripada mengakui tanggung jawab pribadi. Perilaku ini membatasi pertumbuhan pribadi dan merusak hubungan dengan orang lain. Psikolog Albert Bandura pernah mengatakan, “Orang dengan keyakinan tinggi terhadap kemampuannya mendekati tugas-tugas sulit sebagai tantangan yang harus dikuasai daripada ancaman yang harus dihindari.” Menerima tanggung jawab adalah langkah penting menuju pertumbuhan pribadi dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.

6. Aku tidak peduli

Frasa “Aku tidak peduli” mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam.

Ungkapan ini bisa menjadi cara untuk menjauhkan diri dari orang lain atau menghindari keterlibatan emosional.

Ini juga bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari kritik atau penolakan. Psikolog Carl Jung pernah mengatakan, “Apa yang kamu tolak tidak hanya bertahan tetapi akan tumbuh lebih besar.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa dengan menyangkal atau menghindari perasaan kita dengan ungkapan seperti “Aku tidak peduli,” kita mungkin justru memperkuat emosi yang coba kita hindari.

Mengenali motif di balik ungkapan ini dapat membantu kita terhubung lebih otentik dengan perasaan kita dan berkomunikasi lebih efektif dengan orang lain.

7. Terserah

“Terserah” adalah ungkapan yang sering digunakan untuk mengakhiri percakapan atau menghindari diskusi lebih lanjut.

Ini adalah respons yang tidak komitmen dan dapat terkesan pasif-agresif atau acuh tak acuh.

Pengguna ungkapan ini mungkin menghindari konflik, tetapi dalam prosesnya, mereka juga menghambat komunikasi yang bermakna.

Seperti yang dikatakan psikolog Rollo May, “Komunikasi mengarah pada komunitas, pada pemahaman, keintiman, dan saling menghargai.”

Dengan pemahaman ini, menghindari ungkapan yang bersifat menolak seperti “terserah” dapat mendorong percakapan yang lebih sehat dan konstruktif.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti