JawaPos.com – Di era informasi saat ini, membedakan berita benar dan berita bohong alias hoaks bisa menjadi pekerjaan sulit.
Masalahnya bukan hanya pada misinformasi yang beredar di luar sana, namun bagaimana seseorang bereaksi terhadapnya.
Dilansir Geediting, berikut 7 ciri kepribadian orang yang mudah terpancing misinformasi dan berita bohong menurut psikologi.
- Kurangnya berpikir kritis
Orang-orang yang sering mempercayai berita bohong cenderung kurang memiliki keterampilan berpikir kritis.
Mereka sering menerima informasi begitu saja tanpa mempertanyakan sumber atau validitasnya.
Mereka melihat judul dan langsung mempercayainya, tanpa bertanya apa-apa.
- Kerentanan emosional
Misinformasi dan berita bohong sering kali memengaruhi emosi, di mana ini memancing reaksi yang kuat, seperti marah, takut, atau gembira.
Saat seseorang dikuasai emosi yang kuat, maka ia cenderung tidak berpikir kritis tentang informasi yang dikonsumsi.
- Literasi digital rendah
Orang-orang dengan literasi digital rendah cenderung lebih percaya pada berita bohong karena mereka mungkin kesulitan membedakan sumber yang dapat diandalkan dan tidak.
Di era digital ini, meningkatkan keterampilan literasi digital seseorang dapat menjadi alat yang ampuh dalam mengidentifikasi dan menjauhi informasi palsu.
- Bias konfirmasi
Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk menafsirkan bukti baru sebagai konfirmasi terhadap keyakinan atau nilai yang sudah ada.
Namun, ini dapat membutakan seseorang terhadap kebenaran dan membuatnya rentan terhadap berita palsu.
- Isolasi sosial
Percaya atau tidak, koneksi sosial berperan penting dalam cara seseorang menafsirkan dan menanggapi informasi.
Ketika terisolasi secara sosial, seseorang dapat menjadi lebih rentan terhadap misinformasi dan berita bohong.
Ini karena dia tidak memiliki perspektif beragam dan diskusi kritis yang menyertai jaringan sosial yang kuat.
- Terlalu percaya diri
Terlalu percaya diri sebenarnya dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap misinformasi.
Bahkan orang yang paling berpengetahuan terkadang dapat tertipu oleh informasi palsu yang disusun dengan baik.
- Kurangnya kejelian media
Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa kecakapan dalam menggunakan media merupakan kunci untuk mengenali berita bohong.
Orang yang kurang memiliki pemahaman media sering kali merasa sulit membedakan antara sumber yang dapat diandalkan dan yang tidak dapat diandalkan.
Menjadi paham media berarti mengetahui bagaimana industri berita beroperasi, memahami perbedaan antara fakta dan opini, dan menyadari bahwa tidak semua sumber diciptakan sama.