JawaPos.com – Media sosial memberi kebebasan untuk berbagi apa saja, tetapi bukan berarti semua hal layak untuk dipublikasikan.
Tanpa disadari, postingan yang terlihat sepele bisa berdampak negatif terhadap privasi, keamanan, bahkan citra diri di mata orang lain.
Menurut psikologi, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial, baik untuk menjaga keselamatan pribadi maupun menghindari konsekuensi sosial yang tidak diinginkan.
Lantas, apa saja hal yang sebaiknya tidak kamu posting?
Dilansir dari Hack Spirit pada Kamis (13/3), diterangkan bahwa terdapat sepuluh hal tang tidak boleh kamu posting di media sosial menurut psikologi.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Revitalisasi Pabrik Gula Assembagoes, Polisi Geledah Kantor PTPN XI di Surabaya
1. Pertengkaran yang sedang berlangsung
Membagikan drama yang belum terselesaikan dengan teman atau keluarga dapat mengundang penilaian publik dan memperburuk emosi negatif.
Konsep “penularan emosional” dalam psikologi menunjukkan bahwa ketika kita menyiarkan ketegangan, hal ini dapat menyebarkan stres dengan cepat ke lingkungan sekitar.
Daniel Goleman, penulis Emotional Intelligence, menyatakan bahwa emosi kita bisa “menular” dan meluapkan perasaan di forum publik justru dapat memperburuk situasi alih-alih menyelesaikannya.
Ketika konflik dibagikan secara terbuka, opini dari orang-orang yang hanya mengetahui sebagian cerita seringkali tidak membantu penyelesaian. Membuka masalah pribadi di jagat maya dapat memicu intervensi yang tidak perlu dan bahkan memperumit penyelesaian konflik.
Ketegangan yang dibagikan secara online juga cenderung terekam permanen dan dapat muncul kembali di masa depan. Privasi dalam penyelesaian konflik justru lebih efektif dan menghindari munculnya pihak ketiga yang tidak diperlukan.
Alih-alih membagikan perselisihan di platform digital, komunikasi langsung dengan pihak terkait lebih disarankan oleh para ahli psikologi.
2. Keluhan yang berlebihan
Negativitas yang terus-menerus menciptakan lingkungan beracun bagi diri sendiri dan juga pengikut di platform online. Hal ini dapat menyebabkan orang lain berhenti mengikuti atau lebih buruk lagi, menurunkan persepsi mereka tentang kita sebagai individu.
Bias negativitas—yang dicetuskan oleh psikolog Roy F. Baumeister—menyatakan bahwa kita secara alami lebih memperhatikan peristiwa negatif daripada yang positif dalam hidup.
Dengan selalu menampilkan negativitas, kamu memperkuat perasaan dan pikiran negatif tersebut dalam diri sendiri dan orang lain. Mengeluh secara berlebihan di ruang publik digital dapat mempengaruhi reputasi profesional seseorang dalam jangka panjang.
Ekspresi kekesalan yang konstan juga dapat menciptakan lingkaran setan di mana kamu semakin terfokus pada hal-hal negatif. Para ahli menyarankan untuk mencatat perasaan secara pribadi terlebih dahulu sebagai alternatif yang lebih sehat.
Memproses negativitas secara offline bisa menjadi katarsis tanpa menyeret orang lain ke dalam pusaran emosi yang tidak menyenangkan.
3. Foto atau video pribadi yang tidak pantas
Membagikan gambar pribadi secara berlebihan (terutama yang terlalu eksplisit) dapat merusak reputasi dan mengundang perhatian yang tidak diinginkan dari berbagai pihak.
Konsep persona dari Carl Jung menjelaskan bahwa kita mengenakan “topeng” berbeda dalam lingkungan sosial yang berbeda pula dalam kehidupan sehari-hari.
Konten yang sangat pribadi atau provokatif mungkin bertentangan dengan persona profesional yang kamu butuhkan dalam aspek kehidupan lainnya.
Foto-foto yang terlalu pribadi dapat dengan mudah disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab di dunia digital. Kesan yang ditimbulkan dari konten pribadi yang tidak pantas sering bertahan jauh lebih lama dari yang diperkirakan.
Setiap unggahan visual meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus sepenuhnya dari internet. Para psikolog menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum membagikan konten visual personal.
Perlu diingat bahwa kontrol terhadap foto dan video hilang segera setelah diunggah ke platform digital.
4. Berita palsu atau tidak terverifikasi
Menyebarkan informasi yang salah dapat merusak kredibilitas dan berkontribusi pada kebingungan yang sudah merajalela secara online dewasa ini.
Teori disonansi kognitif Leon Festinger menunjukkan bagaimana kita berusaha mempertahankan konsistensi internal dalam pemikiran kita.
Setelah membagikan informasi yang menyesatkan, kamu mungkin mendapati diri mempertahankannya—tidak peduli seberapa lemah sumbernya—hanya untuk menghindari ketidaknyamanan mengakui kesalahan.
Penyebaran informasi tidak akurat dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun dengan pengikut atau koneksi online. Berita yang tidak terverifikasi berpotensi memperburuk persepsi keliru di masyarakat dan melanggengkan kebohongan.
Dampak dari penyebaran hoaks sering melampaui lingkaran sosial dan dapat mempengaruhi diskursus publik yang lebih luas.
Kepercayaan yang rusak akibat membagikan informasi palsu sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Para ahli menyarankan untuk selalu memeriksa sumber dan keakuratan informasi sebelum memutuskan untuk membagikannya di jagat digital.
5. Informasi keuangan detail
Mempublikasikan pendapatan, detail rekening, atau keberhasilan finansial besar di platform online dapat mengundang penipu atau memicu iri hati di kalangan pengguna lain.
Teori perbandingan sosial yang dikembangkan oleh Leon Festinger menjelaskan bagaimana kita mengukur nilai diri dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Memamerkan keuntungan finansial mungkin membuat pengikut merasa inferior, atau bisa mengundang perbandingan negatif yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Informasi keuangan pribadi dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan yang menargetkan kamu secara spesifik.
Detail finansial yang dibagikan secara online dapat digunakan untuk menciptakan profil yang komprehensif oleh pencuri identitas. Kebiasaan memamerkan kemapanan material sering menimbulkan ketegangan sosial yang tidak perlu dalam komunitas digital.
Para psikolog menyarankan untuk menjaga kerahasiaan informasi sensitif sebagai langkah perlindungan preventif. Pembagian pencapaian finansial sebaiknya dilakukan dengan sangat selektif dan dalam konteks yang tepat.
6. Informasi rahasia pekerjaan
Melanggar perjanjian kerahasiaan atau kerahasiaan tempat kerja dapat menyebabkan masalah hukum dan secara serius merusak reputasi profesional seseorang. Manajemen kesan, konsep yang dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman, menekankan bagaimana kita berusaha mengendalikan kesan yang dimiliki orang lain tentang kita.
Membocorkan informasi perusahaan yang sensitif secara tidak sengaja meninggalkan kesan negatif yang bertahan lama—tidak peduli seberapa baik niat kamu sebelumnya.
Pelanggaran kerahasiaan kerja dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari pemberi kerja dan rekan kerja.
Tindakan ini juga berpotensi mengakhiri karir atau mempersulit prospek kerja di masa depan. Dalam beberapa kasus, pembagian informasi kerja dapat melanggar undang-undang kerahasiaan dagang dan mengakibatkan tuntutan hukum.
Para ahli menyarankan untuk selalu mempertimbangkan implikasi profesional sebelum membagikan informasi terkait pekerjaan. Kerahasiaan profesional merupakan komponen penting dalam membangun reputasi yang dapat diandalkan di dunia kerja.
7. Lokasi pribadi secara real-time
Memberitahu dunia bahwa kamu sedang tidak berada di rumah (dan tepatnya di mana kamu berada) dapat membuatmu rentan terhadap pencurian atau penguntitan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Efek disinhibisi online menggambarkan bagaimana kita menjadi kurang waspada saat berkomunikasi secara digital dengan orang lain.
Kita sering lupa bahwa platform digital bukanlah sekadar obrolan ruang tamu yang nyaman—terkadang lebih seperti meneriakkan detail pribadi di jalan yang ramai dan dapat didengar siapa saja.
Membagikan lokasi real-time secara konsisten menciptakan pola yang dapat diprediksi oleh orang yang berniat jahat. Fitur check-in yang menunjukkan pergerakan reguler dapat dimanfaatkan untuk memetakan rutinitas harian seseorang.
Para ahli keamanan siber menyarankan untuk selalu menunda posting tentang perjalanan hingga kamu telah kembali ke rumah. Privasi lokasi merupakan komponen penting dalam strategi keamanan personal di era digital.
Kesadaran akan risiko keamanan fisik akibat berbagi lokasi real-time perlu ditingkatkan di kalangan pengguna platform online.
8. Pamer terselubung
“Humblebrag” atau pamer terselubung sering terkesan tidak tulus, dan orang dapat merasakan kesombongan yang tersembunyi di baliknya. Hal ini dapat mengikis kepercayaan dari waktu ke waktu dan merusak hubungan sosial.
Teori verifikasi diri menunjukkan bahwa kita menginginkan orang lain melihat kita sebagaimana kita melihat diri sendiri.
Ketika kamu melakukan pamer terselubung, kamu melukiskan potret yang tidak konsisten—mengklaim kerendahan hati namun sebenarnya memancing pujian.
Kontradiksi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi mereka yang membacanya dan menurunkan persepsi autentisitas. Pamer secara tidak langsung sering terdeteksi oleh audiens dan dipandang sebagai ketidakjujuran sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa orang lebih menghargai ketulusan daripada kesempurnaan yang dibuat-buat dalam interaksi sosial.
Para psikolog menyarankan untuk mengembangkan kepercayaan diri yang memungkinkan pencapaian dibagikan dengan cara yang tulus.
Keseimbangan antara berbagi keberhasilan dan mempertahankan kerendahan hati merupakan keterampilan sosial yang perlu dikembangkan dalam komunikasi digital.
9. Status pasif-agresif
Unggahan ambigu yang ditujukan pada individu tertentu tanpa menyebutkan nama mereka dapat menciptakan ketegangan dan spekulasi di antara teman dan pengikut online.
Carl Rogers, pelopor dalam psikologi humanistik, menekankan pentingnya komunikasi autentik dalam hubungan interpersonal.
Pembaruan status pasif-agresif adalah kebalikannya—mereka menyembunyikan perasaan sebenarnya di balik pernyataan samar atau sarkastik, menghambat koneksi yang tulus antar individu.
Komunikasi tidak langsung ini menciptakan lingkungan sosial yang dipenuhi kecurigaan dan interpretasi yang salah. Alih-alih menyelesaikan masalah, postingan pasif-agresif cenderung memperburuk ketegangan yang sudah ada sebelumnya.
Pendekatan ini juga mencerminkan ketidakmampuan menghadapi konflik secara langsung dan konstruktif. Para ahli komunikasi menekankan pentingnya berbicara langsung dengan pihak yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah.
Keterbukaan dan kejujuran dalam komunikasi digital sama pentingnya dengan komunikasi tatap muka untuk menjaga hubungan yang sehat.
10. Komentar politik impulsif
Melompat ke dalam isu-isu polarisasi tanpa pemikiran yang cermat dapat mengasingkan pengikut dan meningkatkan konflik dalam lingkaran sosial.
Bias konfirmasi—kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada—berarti orang akan sering merespons dengan reaksi emosional, daripada rasional.
Hal ini dapat menyebabkan pertempuran bolak-balik yang tidak produktif alih-alih wacana yang sehat dan membangun. Postingan politik yang tidak dipikirkan dengan matang dapat dengan cepat merusak hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Polarisasi yang terjadi di jagat maya sering mencerminkan ketidakmampuan untuk memahami sudut pandang yang berbeda. Para ahli menyarankan untuk mendukung pendapat dengan sumber kredibel daripada sekadar pernyataan umum yang memicu emosi.
Diskusi politik yang produktif memerlukan kesediaan untuk mendengarkan dan mempertimbangkan berbagai perspektif dengan pikiran terbuka.
Kemampuan untuk terlibat dalam dialog politik yang bermakna merupakan keterampilan yang perlu dikembangkan di era informasi digital yang penuh dengan pandangan yang bertentangan.