← Beranda

Kamu Sedang Quarter Life Crisis Jika Punya 6 Pikiran Ini Terus Menerus Menurut Psikologi

Mohammad Maulana IqbalRabu, 12 Maret 2025 | 19.35 WIB
Pikiran yang menandakan sedang quarter life crisis menurut psikologi

JawaPos.com – Quarter life crisis adalah fase penuh kebingungan yang sering dialami saat seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, karier, dan hubungan mereka.

Dalam psikologi, krisis ini ditandai dengan munculnya berbagai pikiran yang berulang, seperti merasa tertinggal dari teman sebaya, takut membuat keputusan yang salah, atau mempertanyakan makna hidup.

Jika kamu sering mengalami pikiran seperti ini secara terus-menerus, bisa jadi kamu sedang berada dalam fase quarter life crisis dan butuh cara untuk mengatasinya.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (12/3), diterangkan bahwa terdapat enam pikiran yang menandakan seseorang sedang quarter life crisis menurut psikologi.

1. Merasa tidak tahu arah hidup
Kecemasan ini sering muncul setelah melihat orang lain yang tampaknya sudah memiliki karir sukses atau pengalaman hidup yang menarik di media sosial.

Menurut para psikolog, perasaan ini berasal dari kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan yang dihadapi.

Sekitar 77% generasi milenial merasa tertinggal dalam pencapaian tonggak kehidupan dibandingkan dengan teman sebaya mereka.

Ketidakpastian bukanlah kegagalan pribadi, melainkan bagian alami dari proses eksplorasi diri.

Fase ini merupakan masa pengujian berbagai jalur karir, hubungan, dan nilai-nilai personal yang meskipun terasa tidak menentu, justru menjadi landasan penting untuk pertumbuhan.

Daripada melihatnya sebagai krisis, lebih baik memandangnya sebagai tahap pembelajaran yang berharga.

Salah satu cara mengatasi perasaan ini adalah dengan menetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat berfungsi sebagai penunjuk arah dalam perjalanan hidup.

Langkah-langkah kecil dapat membangun momentum yang akhirnya meredakan ketidakpastian yang lebih besar.

Baca Juga: 8 Sifat Unik Orang Dewasa yang Tumbuh di Kelas Menengah Bawah, Menurut Psikologi

2. Merasa tertinggal dari orang lain
Pemikiran ini sering muncul setelah bertemu dengan teman lama atau melihat cerita kesuksesan orang lain di media sosial.

Data dari National Institute of Mental Health menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dapat meningkatkan respons stres dan bahkan berkontribusi pada gejala depresi ringan jika dilakukan secara kronis.

Manusia secara alami cenderung mengevaluasi kemajuan diri dalam kaitannya dengan orang lain, sering kali lupa bahwa setiap orang memiliki jadwal dan perjalanan hidup yang berbeda.

Budaya kita terkadang mengkondisikan adanya daftar universal yang harus diikuti semua orang: lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan impian, menikah, dan membeli rumah.

Jika pikiran ini terus muncul, cobalah latihan menulis dengan mencatat tiga hal yang membanggakan dalam hidup Anda saat ini.

Mengalihkan fokus dari apa yang kurang ke apa yang telah Anda capai dapat memutus siklus perbandingan yang tidak sehat.

Perjalanan hidup Anda tidaklah tertinggal—hanya sedang berkembang dengan kecepatannya sendiri.

3. Keinginan untuk mengubah karir secara drastis
Krisis seperempat kehidupan dapat memicu keinginan untuk melakukan perubahan drastis dalam karir atau pindah ke tempat baru.

Saat menatap bilik kantor atau tugas kerja harian yang sama, muncul pikiran “Tidak mungkin ini saja hidup saya.”

Dorongan untuk melarikan diri ini bisa menandakan keinginan tulus untuk jalur yang berbeda, tetapi juga bisa menjadi respons terhadap stres atau kelelahan mental.

Kelelahan kerja sering menyamar sebagai keinginan untuk “lari dan memulai dari awal,” padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah istirahat, perspektif baru, atau perubahan bertahap.

Penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah Anda tertarik pada arah baru yang spesifik, atau hanya ingin lari dari frustasi saat ini?

Jika benar-benar tertarik pada bidang berbeda, eksplorasi langkah demi langkah merupakan pendekatan yang bijak.

Jika hanya kelelahan, liburan atau istirahat kesehatan mental mungkin memperlihatkan bahwa Anda sebenarnya tidak ingin meninggalkan karir saat ini.

4. Kekhawatiran tentang hubungan dan keluarga
Hubungan romantis dan keluarga sering menjadi sumber kecemasan bagi mereka yang mengalami krisis seperempat kehidupan.

Orang-orang di sekitar mungkin sudah berpasangan, merencanakan pernikahan, atau bahkan memiliki anak, sementara Anda masih belum yakin atau belum melihat kemungkinan itu dalam waktu dekat.

Studi yang diterbitkan dalam The American Journal of Family Therapy menemukan bahwa orang dewasa muda semakin menunda pernikahan dan memiliki anak untuk mengejar pendidikan atau tujuan karir.

Pergeseran ini tidak selalu sejalan dengan ekspektasi budaya yang lebih tradisional, sehingga menimbulkan perasaan cemas atau tidak normal jika belum menetap.

Semakin umum bagi orang untuk mempertanyakan apakah mereka menginginkan jalur konvensional dalam hal hubungan dan keluarga.

Fokus pada nilai-nilai inti dapat membantu mengatasi kebingungan ini dengan mempertanyakan apa yang benar-benar diinginkan dalam struktur hubungan atau keluarga, bukan apa yang diharapkan orang lain.

5. Tekanan finansial yang tidak terduga
Stres keuangan menjadi pemicu utama krisis seperempat kehidupan bagi banyak orang dewasa muda.

Pinjaman pendidikan, biaya hidup yang terus naik, dan gaji tingkat pemula dapat terasa seperti beban berat yang tidak terduga.

Banyak yang membayangkan stabilitas finansial setelah lulus kuliah, hanya untuk menemukan bahwa pengeluaran dunia nyata bertambah dengan cepat.

Kekhawatiran finansial menempati peringkat tiga besar stressor bagi orang dewasa di usia 20-an.

Kemandirian finansial sering digambarkan secara romantis, padahal banyak faktor seperti pasar kerja dan biaya hidup regional berada di luar kendali individu.

Ketika saldo rekening bank tidak mencerminkan masa depan yang dibayangkan, mudah terjebak dalam ketakutan, rasa malu, atau perasaan gagal.

Pembuatan rencana keuangan yang realistis dan penganggaran yang jelas dapat membantu meredakan sebagian kecemasan ini dengan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang aliran keuangan.

6. Pencarian tujuan hidup yang belum jelas
Tujuan hidup merupakan konsep yang besar dan kompleks yang sering membebani pikiran selama krisis seperempat kehidupan.

Banyak yang merasa semua orang telah menemukan “panggilan” mereka, sementara diri sendiri masih berpindah dari satu minat ke minat lain.

Adam Grant mendiskusikan bagaimana orang sering mencampuradukkan tujuan dengan gairah, mengharapkan satu misi besar dalam hidup, padahal tujuan bisa berkembang seiring waktu dan muncul dari tempat yang tidak terduga.

Tujuan hidup tidak harus berupa ide yang mengubah dunia; bisa sesederhana membantu orang lain di komunitas atau berusaha menjadi pemimpin yang penuh kasih di pekerjaan saat ini.

Ketika terjebak dalam mode “saya butuh tujuan”, urgensi dapat melumpuhkan dan menimbulkan pikiran bahwa tidak ada gunanya mencoba apapun jika belum menemukan panggilan utama.

Salah satu cara untuk keluar dari pola pikir ini adalah dengan mencoba mini-usaha atau proyek yang selaras dengan keingintahuan saat ini.

Luangkan waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang menarik minat, melihat bagaimana rasanya, apa yang dipelajari, dan apakah hal tersebut memicu minat yang lebih dalam.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho