JawaPos.com - Ketika mendengar kata 'jorok', sebagian besar orang akan membayangkan seseorang yang bermalas-malasan dan hidup tak teratur.
Seseorang yang hidup jorok, umumnya akan membiarkan piring kotor menumpuk, atau memiliki meja kerja yang berantakan.
Namun tahukah Anda, bahwa ada sisi psikologis yang menarik di balik kebiasaan hidup yang terlihat tidak rapi dan jorok ini?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang hidupnya cenderung jorok justru memiliki karakteristik unik yang bisa menjadi kekuatan tersendiri.
Salah satu sifat yang sering dikaitkan dengan individu yang berantakan adalah kreativitas.
Sebuah studi dari University of Minnesota menemukan bahwa lingkungan yang tidak teratur dapat memicu pemikiran inovatif, karena pikiran mereka tidak tertuju pada aturan yang kaku.
Selain kreativitas, ada beberapa sifat lain yang umumnya dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya tidak terlalu memperhatikan kebersihan dan kerapian.
Lalu, selain kreativitas, sifat apa lagi yang sering dimiliki oleh mereka yang hidupnya jorok? Simak penjelasannya berikut ini!
Dilansir dari Geediting, inilah tujuh sifat dan ciri psikologis orang yang hidupnya jorok, berdasarkan pandangan ilmu Psikologi.
1. Kreativitas
Penumpukan barang yang berantakan seringkali dinilai sebagai hasil sampingan dari pikiran yang aktif dan kreatif.
Penataan barang yang tampak asal-asalan, mungkin tampak tidak teratur bagi orang lain.
Namun bagi orang yang menanganinya, itu adalah sistem unik mereka.
Psikolog berpendapat bahwa orang-orang kreatif cenderung melihat dunia secara berbeda.
Mereka cenderung keluar dari norma-norma konvensional, termasuk cara mereka mengelola ruang.
Material yang berserakan dapat berfungsi sebagai representasi fisik dari proses kreatif otak. Kekacauan yang tidak menentu namun tetap produktif.
2. Penundaan
Menurut penelitian, ada hubungan yang jelas antara penundaan dan kekacauan.
Orang yang berantakan tidak berencana untuk hidup dalam kekacauan, itu terjadi begitu saja karena mereka terus menunda bersih-bersih hingga nanti.
Masalahnya, nanti berubah menjadi besok, lalu minggu depan, dan sebelum mereka menyadarinya, mereka sudah mengarungi tumpukan cucian dan surat yang belum dibuka.
Bukan berarti mereka tidak melihat kekacauan. Mereka melihatnya, namun merapikan terasa seperti tugas yang sangat besar sehingga mereka lebih suka mengabaikannya sampai mereka benar-benar harus membereskannya.
3. Rendahnya kesadaran
Ada orang yang secara alamiah terkondisikan untuk bersikap rapi dan teratur, sementara yang lain tidak.
Dalam psikologi, hal ini mengarah pada kehati-hatian, yaitu ciri kepribadian yang terkait dengan disiplin diri, tanggung jawab, dan perhatian terhadap detail.
Orang yang berantakan biasanya mendapat peringkat rendah dalam area ini, yang berarti mereka tidak terlalu mementingkan ketertiban atau struktur.
Mereka adalah tipe orang yang kehilangan kunci lima kali sehari, lupa janji temu, dan membiarkan barang-barang berserakan tanpa benar-benar menyadarinya.
Bukan berarti mereka tidak peduli. Hanya saja mereka tidak menganggapnya sebagai prioritas. Jika mereka harus memilih antara membersihkan dan melakukan hal lain, mereka akan memilih yang terakhir tanpa ragu.
Karena mereka pada dasarnya tidak mendambakan keteraturan, mereka seringkali kesulitan mempertahankan rutinitas yang dapat menjaga segala sesuatunya tetap rapi.
4. Impulsivitas
Orang yang berantakan seringkali berjuang melawan impulsivitas, yaitu bertindak berdasarkan keinginan sesaat alih-alih berpikir ke depan.
Jika mereka ingin menonton TV, mereka akan meletakkan barang-barangnya di sofa tanpa berpikir dua kali.
Membersihkan memerlukan tingkat perencanaan dan pengendalian diri yang tidak dimiliki secara alami oleh orang-orang yang impulsif.
Mereka tidak berhenti untuk berpikir, "Mungkin saya harus menyingkirkan ini sekarang, jadi tidak menumpuk nanti". Sebaliknya, mereka berpikir "saya akan melakukannya saat saya menginginkannya."
5. Kurangnya rutinitas
Orang-orang yang menjaga tempat tinggalnya tetap bersih biasanya mengikuti suatu sistem atau rutinitas, seperti mereka mencuci piring setelah makan atau menyisihkan hari tertentu untuk mencuci pakaian.
Sedangkan mereka yang terlihat jorok, tidak punya struktur seperti itu. Mereka membersihkan saat mereka harus melakukannya, bukan karena itu bagian dari rutinitas mereka.
Tanpa kebiasaan yang pasti, segala sesuatunya akan cepat terabaikan. Satu sesi pembersihan yang terlewat berubah menjadi dua sesi, dan sebelum mereka menyadarinya, semuanya menjadi tidak terkendali.
Karena mereka tidak mempunyai rencana dalam mengerjakan tugas-tugas, mereka sering melakukan segala sesuatunya dengan tergesa-gesa, panik di menit-menit terakhir, alih-alih dalam langkah-langkah kecil yang dapat dikelola.
6. Kesulitan dengan fungsi eksekutif
Fungsi eksekutif dapat membantu orang merencanakan, mengatur, dan menyelesaikan tugas secara efisien, dan itu benar-benar memengaruhi tingkat kerapian seseorang.
Ketika seseorang mengalami kesulitan dalam hal ini, menjaga kebersihan bisa terasa seperti tantangan yang mustahil.
Ini bukan sekadar kemalasan, ini adalah kesulitan nyata dalam memecah tugas dan menindaklanjutinya.
Bagi orang-orang ini, bahkan hal-hal sederhana seperti memutuskan di mana akan mulai membersihkan dapat terasa membebani.
Alih-alih menyelesaikan satu hal kecil pada satu waktu, mereka membeku, menghindarinya, dan membiarkan kekacauan semakin menumpuk.
Kelelahan mental karena mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan seringkali lebih berat daripada tugas itu sendiri.
7. Kewalahan
Kekacauan bukan disebabkan oleh kecerobohan, melainkan karena merasa terlalu kewalahan untuk mengatasinya.
Ketika hidup terasa penuh tekanan, bersih-bersih bisa terasa seperti hal yang paling tidak penting dalam daftar, sehingga terus dikesampingkan.
Padahal, kekacauan yang tidak segera di selesaikan justru dapat menjadi sumber stres lainnya.
Berdasarkan ilmu psikologi, ruang yang berantakan dapat membuat seseorang merasa terkuras secara mental.
Bahkan, kekacuan juga dapat berujung pada lebih banyak kekacauan yang lebih besar.
***