JawaPos.com – Keputusan untuk memiliki anak bukanlah perkara sepele. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari kesiapan emosional, mental, hingga finansial.
Namun, menurut psikologi, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang mulai siap memiliki anak.
Jika beberapa pikiran ini pernah terlintas di benak kamu, maka mungkin ini saatnya mempertimbangkan langkah besar dalam hidupmu untuk menimang anak.
Dilansir dari geediting.com pada Jumat (7/3), diterangkan bahwa terdapat delapan pikiran dalam benak yang menandakan seseorang sudah siap untuk mempunyai anak menurut psikologi.
1. Pergeseran prioritas
Suatu ketika, kamu mungkin mendapati dirimu sibuk mengejar karir, petualangan pribadi, atau jadwal sosial yang padat. Namun tiba-tiba kamu menyadari bahwa keinginanmu mulai berubah arah.
Kamu mungkin tidak lagi terlalu memikirkan pembelian barang mewah berikutnya dan lebih fokus pada menciptakan lingkungan yang mendukung untuk anggota keluarga baru.
Perubahan orientasi ini bisa muncul dalam hal-hal kecil—seperti mengorbankan rencana akhir pekanmu untuk menjaga keponakan, dan mengejutkannya, kamu menikmatinya.
Transisi kehidupan besar sering dimulai dengan sinyal-sinyal internal yang halus. Rasa prioritas yang bergeser tidak selalu berarti kamu bosan dengan kehidupanmu saat ini, melainkan mencerminkan keinginan yang semakin besar untuk sesuatu yang lebih bermakna atau memberi nutrisi.
Ketika dorongan batin itu menjadi terus-menerus, mungkin saatnya mengeksplorasi bagaimana hal tersebut selaras dengan visi masa depanmu.
2. Keinginan berbagi nilai
Banyak calon orangtua merasakan kerinduan baru untuk berbagi keyakinan, latar belakang budaya, atau kreativitas mereka dengan generasi berikutnya.
Mereka membayangkan mengajarkan anak-anak mereka cara menghadapi tantangan hidup atau mendorong mereka untuk mengembangkan kompas moral yang kuat.
Ini seperti teman dekat yang menjadi bersemangat tentang isu lingkungan dan bermimpi membesarkan anak yang menghargai keberlanjutan, sehingga ia mulai meneliti metode pengasuhan ramah lingkungan bahkan sebelum hamil.
Keingintahuan tentang membimbing seseorang menuju masa depan yang lebih cerah bisa menjadi dorongan kuat menuju menjadi orangtua.
3. Kesiapan untuk pertumbuhan pribadi
Mengasuh anak sering digambarkan sebagai kursus intensif dalam kesabaran, empati, dan ketahanan.
Beberapa orang mencapai titik di mana mereka secara aktif mencari tingkat pengembangan pribadi tersebut.
Mereka tidak naif tentang tantangan, tetapi tertarik dengan kemungkinan menjadi lebih penyayang dan adaptif. Sebuah penelitian di Frontiers of Psychiatry menyoroti bahwa banyak orangtua mengalami pergeseran mendalam dalam kecerdasan emosional setelah memiliki anak.
Tanggung jawab sehari-hari, bercampur dengan kebutuhan konstan untuk memahami kebutuhan anak, dapat mempercepat penemuan diri dengan cara yang tidak bisa dicapai oleh membaca atau pencarian jiwa saja.
Jika prospek itu lebih membangkitkan semangat daripada mengintimidasi, itu mungkin salah satu tanda yang lebih jelas bahwa kamu siap.
4. Keinginan menciptakan tradisi bermakna
Beberapa orang sering berangan-angan tentang ritual liburan atau sarapan pancake di hari Minggu dengan anak-anak kecil di sekitar meja.
Mereka dapat membayangkan perayaan ulang tahun di masa depan, foto hari pertama sekolah, dan jejak tangan kecil di plester.
Percikan itu bisa menunjukkan kegembiraan yang tulus untuk sisi pembangunan warisan dari pengasuhan anak.
Ini kurang tentang mencentang tonggak kehidupan dan lebih tentang menenun kenangan yang bertahan lebih dari seumur hidup.
5. Pertimbangan anak dalam rencana jangka panjang
Perhatikan pikiran seperti, “Bisakah seorang anak cocok di rumah ini?” atau “Apakah jadwal pekerjaan ini memungkinkan saya menjemput anak dari penitipan?”
Ketika lamunan dan perencanaan praktis mulai menyatu, itu pertanda besar bahwa pikiranmu sedang mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua.
Menurut penelitian dari Mindful.org, membayangkan skenario masa depan adalah salah satu cara orang menguji perubahan hidup secara mental sebelum berkomitmen.
Kamu tidak perlu memiliki semua jawaban — ini lebih tentang kesediaan untuk menyesuaikan rutinitas dan tujuanmu untuk mengakomodasi kebutuhan anak.
Jika pertimbangan ini sering muncul, bawah sadarmu mungkin memberi tahu bahwa kamu siap untuk sesuatu yang baru.
6. Penerimaan perubahan waktu luang
Menjadi orangtua sering berarti menukar brunch spontan dan maraton film malam hari dengan waktu menyusui, membacakan cerita, atau membantu pekerjaan rumah.
Ada saat ketika individu beralih dari menakuti perubahan itu menjadi melihatnya sebagai pertukaran yang berharga.
Jika gagasan mengubah jadwalmu tidak membuatmu takut tetapi justru terasa seperti tantangan yang siap kamu hadapi, itu mungkin menandakan kamu berada dalam pola pikir yang tepat.
7. Pemahaman parenting sebagai misi bersama
Keyakinan bahwa kamu bisa—atau harus—melakukan segalanya sendiri dapat menyebabkan kelelahan di bidang apa pun, terutama pengasuhan anak.
Menyadari bahwa kamu akan membutuhkan dan menginginkan jaringan pendukung adalah petunjuk lain bahwa kamu sedang tumbuh menjadi peran calon orangtua.
Ini bukan hanya tentang memiliki pasangan; itu bisa berarti bersandar pada keluarga besar, teman, atau bahkan sumber daya profesional.
Dari pengamatan, mereka yang mengakui upaya tim yang terlibat seringkali kurang kewalahan ketika realitas pengasuhan anak muncul.
Mereka sudah mulai memikirkan siapa yang bisa mereka hubungi ketika mereka membutuhkan beberapa jam istirahat atau telinga bijaksana untuk mendapatkan nasihat.
8. Kesediaan menghadapi ketidakpastian
Siapa pun yang jujur tentang membesarkan anak akan mengatakan tidak ada waktu yang sempurna.
Bahkan orangtua yang paling siap mengakui mereka menghadapi kejutan dan kemunduran.
Merasa nyaman dengan ketidakpastian itu menunjukkan kesiapan emosional. Kamu mungkin mendengar suara internal yang mengatakan, “Saya akan mencari tahu sambil jalan,” alih-alih menunggu hari mitos ketika keuangan, hubungan, dan pertumbuhan pribadi semuanya selaras dengan mulus.
Pergeseran dari menginginkan kontrol total hingga menerima hal yang tidak diketahui bisa menjadi tanda inti kesiapan.
Bagaimanapun, anak-anak tidak mengikuti naskah, dan setiap tahap baru perkembangan mereka dapat membawa kegembiraan dan rintangan yang tidak terduga.