JawaPos.com - Tumbuh besar bersama saudara yang lebih tua bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, tetapi bagi sebagian orang, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ketika saudara menjadi pengganggu, dampaknya dapat bertahan lama bahkan setelah masa kanak-kanak.
Diperlakukan tidak adil, direndahkan, atau terus-menerus dibuat merasa kecil olah seorang kakak, baik kakak laki-laki maupun perempuan, tidak hanya membentuk karakter tetapi juga membentuk siapa Anda nantinya.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman-pengalaman akan memengaruhi kepribadian, hubungan, bahkan cara Anda menangani tantangan dalam hidup. Meskipun ini bisa menjadi hal berat, pengalaman ini juga akan memberi orang-orang kekuatan dan keterampilan bertahan hidup tertentu.
Dilansir dari Geediting, inilah tujuh ciri orang yang sering berkembang di kemudian hati ketika semasa kanak-kanak diganggu oleh saudaranya yang lebih tua.
1. Meningkatnya empati
Orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini sering kali mengembangkan rasa empati yang mendalam. Mereka pernah mengalami bagaimana rasanya merasa tidak berdaya, tidak didengarkan, atau diremehkan, dan mereka tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama.
Hal ini dapat menjadikan mereka teman yang sangat penyayang, rekan kerja yang penuh perhatian, dan bahkan pemimpin yang hebat. Mereka cenderung memperhatikan ketika orang lain sedang berjuang dan cenderung memberikan bantuan dengan kebaikan dan dukungan.
Tentu saja, terlalu banyak empati terkadang dapat menyebabkan kecenderungan untuk menyenangkan orang lain, tetapi ketika diseimbangkan dengan baik, itu menjadi kekuatan yang luar biasa.
2. Kemandirian yang kuat
Bila Anda tumbuh bersama kakak yang terus-menerus merendahkan atau menekan, Anda akan segera belajar bahwa Anda tidak bisa selalu bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan.
Pengalaman semacam itu memaksa Anda untuk menjadi mandiri, dan terkadang lebih awal daripada yang seharusnya dilakukan kebanyakan anak. Anda mungkin mengalami saat di mana kakak Anda tidak mengizinkan Anda untuk ikut bermain, mengabaikan saat Anda butuh bantuan, atau mengabaikan ide-ide Anda seolah-olah itu tidak penting.
Awalnya, itu menyakitkan. Namun seiring berjalannya waktu, Anda akan berhenti berharap mereka akan mendukung dan mencari tahu sendiri masalahnya. Kemandirian itu melekat dalam diri.
Anda tidak menunggu orang lain menyelesaikan masalah yang dialami, tetapi bertindak sendiri. Meskipun tidak mudah untuk mengembangkannya, Anda sekarang dapat melihat bahwa hal itu membuatku lebih tangguh dan mandiri sebagai orang dewasa.
3. Kecerdasan emosional yang tinggi
Orang yang pernah diganggu oleh kakaknya sering kali menjadi sangat peka terhadap emosi orang-orang di sekitar mereka. Ketika Anda tumbuh dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi, Anda belajar membaca perubahan halus dalam nada suara, bahasa tubuh, atau suasana hati sebagai cara untuk melindungi diri sendiri.
Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami agresi antarsaudara cenderung mengembangkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap dinamika sosial. Mereka menjadi terampil dalam mengenali perubahan perilaku dan sering kali dapat merasakan ketegangan sebelum orang lain merasakannya.
Kecerdasan emosional ini dapat menjadi alat yang ampuh di masa dewasa. Kecerdasan ini membantu dalam menjalin hubungan, menyelesaikan konflik, dan bahkan unggul dalam karier yang membutuhkan keterampilan interpersonal yang kuat.
4. Rasa keadilan yang kuat
Bila Anda diperlakukan tidak adil berulang kali, Anda akan semakin memahami seperti apa seharusnya keadilan. Banyak orang yang pernah diganggu oleh saudara kandungnya tumbuh dengan rasa keadilan yang kuat dan keinginan untuk membela orang lain.
Mereka tahu bagaimana rasanya diabaikan atau dimanfaatkan, dan mereka tidak ingin melihat hal itu terjadi kepada orang lain. Entah itu menyuarakan ketidakadilan di tempat kerja, membela teman, atau memperjuangkan tujuan penting, mereka tidak takut bersuara ketika ada yang tidak beres.
Sifat ini menjadikan mereka sekutu alami bagi mereka yang tidak memiliki suara, dan dalam banyak kasus, mendorong mereka menuju peran kepemimpinan di mana mereka dapat membuat perbedaan nyata.
5. Kesulitan mempercayai orang lain
Ketika seseorang yang seharusnya menjadi keluarga berulang kali merendahkan Anda, mempermainkan pikiran, atau mempermalukan Anda di depan orang lain, hal itu mengubah cara Anda memandang orang lain.
Seiring berjalannya waktu, Anda mulai berasumsi bahwa kebaikan selalu disertai dengan syarat, atau bahwa lengah hanyalah undangan untuk terluka. Hal ini sering terbawa hingga dewasa, sehingga sulit untuk sepenuhnya memercayai orang lain, bahkan ketika mereka memiliki niat baik.
Pujian bisa terasa tidak tulus. Persahabatan bisa terasa sementara, dan mengandalkan orang lain bisa terasa seperti risiko yang tidak layak diambil.
Namun, meskipun butuh usaha untuk melupakan pola-pola ini, itu bukan hal yang mustahil. Dengan waktu dan orang-orang yang tepat, kepercayaan dapat dibangun kembali, hanya saja dengan kecepatan yang lebih lambat daripada yang mungkin terjadi pada orang lain.
6. Rasa humor yang tajam
Ketika Anda tumbuh besar dan berhadapan dengan kakak yang terus-menerus mengejek atau mengganggu, Anda belajar untuk berpikir cepat. Humor menjadi mekanisme pertahanan diri dan keterampilan bertahan hidup.
Lelucon yang tepat waktu dapat meredakan ketegangan, mengalihkan perhatian dari rasa malu, atau bahkan mengubah hinaan menjadi sesuatu yang dapat ditertawakan.
Banyak orang yang diganggu oleh saudara kandung yang lebih tua menjadi lebih cerdas dan memiliki selera humor yang tinggi. Mereka menjadi pandai membaca situasi, tahu kapan harus melontarkan lelucon, dan bagaimana menggunakan humor untuk terhubung dengan orang lain.
Meskipun sebagian humor tersebut mungkin dimulai sebagai cara untuk melindungi diri, sering kali humor tersebut berkembang menjadi salah satu keterampilan sosial mereka yang paling berharga, yang membantu mereka menavigasi percakapan, membangun hubungan, dan menyatukan orang-orang.
7. Ketahanan dalam menghadapi kesulitan
Tumbuh besar dengan saudara yang lebih tua yang menindas Anda memaksa Anda untuk beradaptasi. Anda belajar cara menangani kritik, cara untuk terus maju bahkan ketika keadaan terasa tidak adil, dan cara untuk bangkit kembali setelah dijatuhkan, terkadang secara harfiah.
Ketahanan semacam itu tidak akan hilang begitu saja di masa dewasa. Ketahanan itu muncul dalam cara Anda menghadapi kemunduran, cara Anda mengatasi tantangan, dan cara Anda menolak situasi sulit menentukan jati diri Anda.
Meskipun tidak ada seorang pun yang ingin ditindas, mereka yang pernah ditindas sering kali mengembangkan kekuatan batin yang menopang mereka dalam menjalani hidup. Mereka tahu bahwa dirinya dapat bertahan hidup di masa-masa sulit karena mereka sudah pernah mengalaminya.