JawaPos.com - Rupanya di Palestina masih terjadi persaingan kekuasaan antara otoritas Hamas dan Fatah. Meski keduanya tetap sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina hingga saat ini.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Saleh Muhammad Al Shun mengatakan, sebenarnya sempat terjadi perpecahan di Palestina. Ini mengakibatkan tidak ada lagi pilpres untuk memilih Presiden Palestina.
Presiden Mahmoud Abbas, terang Zuhair, telah menjabat sebagai Presiden Otoritas Palestina selama 12 tahun atau dalam kurun waktu dua periode. "Sosok Abbas adalah Presiden yang dicintai warganya," katanya beberapa waktu lalu.
Pemerintahan Palestina sendiri menjunjung tinggi aspirasi dan keinginan rakyatnya. Di Palestina, hak untuk berbicara terbuka dua kali lipat.
Fokus Pemerintah Palestina memberikan aspirasi penduduk Palestina. Namun sayangnya siapa pun yang akan keluar negara Palestina, bahkan Presiden Palestina sekalipun, harus mendapat izin dari Israel.
Presiden Mahmoud Abbas diketahui telah membubarkan pemerintahan Hamas Ismail Haniyeh dan mengangkat Fayyad untuk membentuk pemerintahan darurat. Namun, Haniyeh dan Hamas menyatakan bahwa tindakan tersebut ilegal.
Selain itu, kabar rakyat Palestina menginginkan Abbas mundur berkaitan dengan pemilu tidaklah benar. Sampai sekarang, Palestina belum menjadi negara yang berdaulat karena perang antara Israel dan Palestina terus berlangsung hingga detik ini.
Zuhair menegaskan, saat ini Presiden Abbas dalam keadaan yang sangat baik. Presiden tetap menjalankan tugasnya bahkan sempat menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri (Menlu) Perancis dan Jerman yang berkunjung ke Palestina.