← Beranda

NASA Temukan Permen Karet dan Gula di Asteroid Bennu, Bukti Kehidupan Berasal dari Luar Angkasa?

Nanda PrayogaKamis, 18 Desember 2025 | 04.11 WIB
Ilustrasi pekerja yang mengecat logo NASA. (NASA)

JawaPos.com - NASA kembali membuat dunia sains terperangah. Bukan alien atau pesawat canggih, kali ini kejutan datang dari sebuah asteroid kecil bernama Bennu.

Sampel batuan yang dibawa pulang oleh misi OSIRIS-REx ke Bumi ternyata menyimpan rahasia besar. Siapa sangka, di dalam batuan hitam legam itu terdapat "resep dapur" kehidupan yang selama ini kita cari.

Dikutip dari CBS News, para ilmuwan menemukan kandungan gula hingga zat misterius yang lengket. Saking uniknya, zat ini sampai dijuluki “permen karet luar angkasa”. Temuan ini seolah memberi petunjuk baru: benarkah kehidupan di Bumi sebenarnya "dikirim" dari luar angkasa?

Bukan Sekadar Batu Kosong

Selama ini, Bennu hanya dianggap sebagai batuan kuno biasa yang mengelilingi Matahari. Namun, analisis mendalam mengubah pandangan itu.

Di balik tampilan luarnya yang kasar, Bennu menyimpan material organik yang kompleks. Penemuan ini bukan lelucon, meski terdengar menggelitik. Zat-zat ini justru berpotensi menjadi kepingan puzzle yang hilang tentang bagaimana kehidupan bermula di alam semesta.

Pertanyaan klasik "dari mana kita berasal?" kini makin relevan. Apakah bahan kehidupan muncul sendiri di Bumi, ataukah dibawa oleh tamu jauh seperti asteroid?

Gula di Luar Angkasa: Kode Awal Kehidupan

Salah satu temuan yang paling menyita perhatian adalah keberadaan gula. Jangan bayangkan gula pasir di dapur Anda, ini adalah gula dalam level molekuler yang krusial.

Dalam biologi, gula adalah komponen vital penyusun struktur DNA dan RNA. Tanpa gula, mustahil ada sistem genetik pada makhluk hidup.

Keberadaan gula di Bennu menegaskan bahwa bahan dasar kehidupan bisa terbentuk secara alami di ruang hampa, jauh dari Bumi. Ini mendukung teori bahwa asteroid berperan sebagai "kurir kosmik" yang mengantarkan paket kehidupan ke planet-planet muda.

Seperti yang dijelaskan dalam laporan tersebut, sistem biologis purba mungkin berawal dari hal sederhana. Ilmuwan Jepang, Yoshihiro Furukawa, menjelaskan bahwa kehidupan awal kemungkinan tidak serumit sekarang. Sistem biologis purba mungkin hanya bergantung pada molekul pembawa pesan sederhana sebelum berevolusi menjadi sistem sel kompleks.

Misteri “Permen Karet” Purba

Selain gula, ada temuan lain yang membuat ilmuwan mengernyitkan dahi: zat lengket aneh yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Teksturnya yang tidak biasa membuat ilmuwan menyebutnya mirip getah atau permen karet. Diduga, zat ini terbentuk pada masa-masa awal tata surya, saat planet-planet masih berupa debu dan gas yang bergejolak.

Scott Sandford, salah satu ilmuwan yang memimpin penelitian ini, mengatakan bahwa zat tersebut mungkin merupakan salah satu perubahan material paling awal yang terjadi di asteroid primitif.

Zat lengket ini diyakini mengandung prekursor kimia—bahan mentah yang bisa memicu reaksi menuju kehidupan. Ini membuktikan bahwa reaksi kimia kompleks sudah terjadi di luar angkasa jauh sebelum Bumi benar-benar terbentuk.

Analisis sampel Bennu juga mengungkap fakta, asteroid ini membawa debu kosmik dari bintang-bintang mati.

Debu ini mengandung unsur berat sisa ledakan bintang tua yang terjadi miliaran tahun lalu. Unsur-unsur inilah yang kemudian bercampur dan membentuk planet, termasuk tubuh manusia. Secara harfiah, temuan di Bennu mengingatkan bahwa kita semua terbuat dari debu bintang. 

Apa arti semua temuan ini bagi kita?

Bahan baku kehidupan tidaklah langka. Ia tersebar luas di tata surya, menunggu kondisi yang tepat untuk tumbuh.

Asteroid Bennu telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang alam semesta. Dan dengan temuan ini, kita selangkah lebih dekat untuk memahami bahwa mungkin, kita tidak sendirian di luar sana.

EDITOR: Kuswandi