JawaPos.com – Kelompok-kelompok Yahudi mengkritik Paus Fransiskus dan menuntut klarifikasi atas komentarnya yang menuduh Israel melakukan tindakan terorisme serta genosida di Gaza.
Melansir dari Reuters pada Jumat (24/11), Paus Fransiskus menyatakan komentar tersebut pada Rabu (22/11) setelah bertemu secara terpisah dengan kerabat Yahudi dari sandera yang ditahan oleh Hamas dan Keluarganya di Palestina yang ditahan oleh Israel di penjara Vatikan.
Paus mengatakan kepada para audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, bahwa dia merasakan penderitaan yang dirasakan oleh kedua belah pihak, khususnya yang berada di Gaza.
Baca Juga: Penjelasan Quraish Shihab Tentang Perbedaan Yahudi, Bani Israil, dan Ahlul Kitab dalam Alquran
"Inilah dampak perang. Tapi di sini kita sudah melampaui perang. Ini bukan lagi perang. Ini tindakan terorisme, bahkan ada genosida," katanya.
Ketua Tertinggi Gereja Katolik itu, meminta doa agar kedua belah pihak berhenti melakukan serangan yang pada akhirnya akan membunuh semua orang.
Sementara itu, Dewan Majelis Rabi Italia (ARI) dalam pernyataannya pada Kamis (23/11), mengatakan jika Paus secara terbuka menuduh adanya tindak terorisme.
Baca Juga: Serukan Gencatan Senjata di Gaza, Tokoh Islam dan Yahudi AS Bersatu Pimpin Unjuk Rasa
Mereka menuduh para pemimpin Gereja yang tidak disebutkan namanya itu, tidak mengutuk serangan Hamas dan hanya menempatkan Israel sebagai pihak yang menyerang dan pihak yang diserang dalam posisi yang sama atas nama ketidakberpihakan.
Sementara itu, pada konferensi berita Palestina, Rabu (22/11), mereka yang bertemu dengan Paus mengatakan bahwa dia juga mengutuk tindakan Hamas sebagai teror tetapi juga mengungkapkan jika Israel telah melakukan genosida. Paus mengungkapkan itu untuk menjelaskan situasi di Gaza.
Sebelumnya, Para pejuang Palestina Hamas melintasi pagar perbatasan pada 7 Oktober, mereka membunuh 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 sandera, menurut perhitungan Israel.
Baca Juga: Ribuan Kaum Yahudi Gelar Aksi Duduk di Bawah Patung Liberty, Serukan Gencatan Senjata di Gaza
Atas serangan tersebut, Israel kemudian membalasnya dengan klaim pertahanan diri. Israel lantas mengepung Kota Gaza dan menjatuhkan ribuan bom melalui jalur udara dan darat, akibatnya lebih dari 14.000 warga Gaza meninggal dunia, sekitar 40 persen di antaranya adalah anak-anak.
Dalam sebuah postingan di X, platform yang sebelumnya dikenal dengan Twitter, akun American Jewish Committee (AJC) menuliskan ucapan terima kasih kepada Paus karena telah bertemu dengan keluarga tawanan yang disandera oleh Hamas.
“Namun, beliau (Paus) menggambarkan bahwa perang Israel-Hamas bukan tindakan perang, tetapi sebagai 'terorisme'. Pembunuhan dan penculikan warga sipil oleh Hamas adalah terorisme. Pertahanan diri Israel bukanlah terorisme, tolong klarifikasi,” tulisnya dalam postingan X pada Rabu (22/11).
Sebuah organisasi hak asasi manusia Yahudi yang berbasis di AS, Simon Wiesenthal Center, dalam pernyataannya meminta agar Paus tidak melupakan penderitaan pada 7 Oktober yang berasal dari tindakan Hamas yang tidak dapat ditoleransi.
Para rabi Italia kemudian mempertanyakan manfaat dari dialog Yahudi-Kristen selama beberapa dekade, jika ketika orang Yahudi diserang, Vatikan lalu merespons dengan akrobatik diplomatik.
Sementara di pihak lain, yaitu Kardinal Matteo Zuppi yang telah melakukan beberapa misi perdamaian di Ukraina untuk Paus, membelanya pada Kamis (23/11), Ia mengatakan kepada wartawan bahwa Paus tidak menempatkan semua orang pada pandangan yang sama dan Paus sangat memahami motivasi pemerintah Israel.