JawaPos.com- Malioboro sangat terkenal sebagai destinasi wisata utama di Yogyakarta.
Tak heran bila banyak wisatawan ingin mengunjungi Malioboro, termasuk pada musim liburan Natal dan Tahun Baru ini.
Malioboro identik dengan nama jalan, yaitu jalan yang berada di sebelah utara Keraton Jogja.
Dilansir dari radarjogja.jawapos.com pada Rabu (27/12), jalan Malioboro didirikan bersamaan dengan pendirian Keraton Jogja.
Berdasarkan keterangan Pemprov DIY, kata 'Malioboro' memiliki makna khusus, yaitu karangan bunga.
Mungkin, makna itu terkait dengan masa lalu, di mana ketika Keraton Jogja mengadakan acara besar, Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga.
Meski demikian, ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa kata "Malioboro" berasal dari gelar Jenderal John Churchill (1650-1722) dari Inggris, yaitu Marlborough.
Namun, pendapat ini disanggah dengan adanya bukti sejarah yang menegaskan bahwa Jalan Malioboro sudah ada sejak berdirinya Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sejarahwan Inggris Peter Carey berpendapat bahwa Jalan Malioboro sebagai jalan raya telah dibangun dan digunakan untuk tujuan seremonial tertentu selama lima puluh tahun sebelum orang Inggris mendirikan pemerintahannya di Jawa.
Baca Juga: Jadi Primadonanya Wisata Jogyakarta, Jalan Malioboro Konon Berasal dari Kata 'Marlborough'
Konon, Malioboro dimaknai sebagai perjalanan menjadi wali (mali) dan "oboro" yang berarti mengembara.
Kawasan Malioboro terdiri dari dua nama jalan utama, yaitu Jalan Margo Mulyo dan Jalan Margo Utomo.
Ruas jalan tersebut merupakan bagian dari konsep Sangkan Paraning Dumadi, sebuah konsep tentang perjalanan manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Sangkan Paraning Dumadi memiliki simpul-simpul utama, yakni Panggung Krapyak-Keraton Jogja-Tugu Jogja.
Panggung Krapyak ke Keraton melambangkan sangkaning dumadi, atau perjalanan manusia sejak lahir, dewasa, hingga memiliki anak atau keluarga.
Sementara itu, Tugu menuju Keraton Jogja yang melalui Malioboro melambangkan perjalanan manusia menuju akhir hayatnya.
Konsep ajaran Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) ini telah ada sejak awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755.
Malioboro dulunya berfungsi sebagai rajamarga atau jalan kerajaan yang digunakan untuk kegiatan seremonial atau penyambutan tamu negara.
Selain itu, di kawasan Malioboro juga terdapat Kepatihan sebagai pusat pemerintahan dan Pasar Gede sebagai pusat ekonomi masyarakat.
***