← Beranda

Selain Airlangga, Berikut Nama Raja-Raja Nusantara yang Diabadikan Menjadi Nama Kereta oleh PT KAI

Avief ZakawalySenin, 28 Agustus 2023 | 14.03 WIB
Ilustrasi kereta api Indonesia.

JawaPos.com–Nama-nama kereta api yang saat ini beroperasi di Indonesia, beberapa diketahui berasal dari nama satwa mitologi seperti KA Sancaka, KA Lodaya, KA Harina, KA Gumarang. Beberapa lagi diambil dari nama gunung seperti KA Argo Bromo Anggrek, KA Argo Wilis, KA Argo Semeru, KA Argo Lawu, serta nama-nama sungai seperti KA Bengawan, KA Brantas, KA Progo, dan lain-lain.

Pengambilan nama untuk beberapa kereta api lain di Indonesia ada yang terinspirasi dari nama para raja di Nusantara. Melalui unggahan di akun Instagram, KAI mengungkapkan hal tersebut bertujuan sebagai bentuk penghormatan.

”Raja-raja di Nusantara ini diabadikan dalam nama kereta, sebagai bentuk penghormatan KAI terhadap warisan sejarah. Dengan harapan mengingat kembali masa-masa kejayaan dan sebagai warisan budaya,” tulis akun KAI tersebut.

Berikut sembilan nama raja yang dipilih KAI untuk diabadikan menjadi nama kereta api di Indonesia.

  1. Airlangga

Airlangga merupakan pendiri Kerajaan Kahuripan yang memerintah pada 1009-1042. Pada akhir masa pemerintahannya, dia membagi kerajaan menjadi dua untuk kedua putranya yakni Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala. Hingga saat ini, nama Airlangga masih dikenang terutama bagi masyarakat Jawa.

Namanya menjadi inspirasi untuk penamaan KA Airlangga yang diluncurkan pada 1 Oktober 2021 dengan rute Surabaya Pasarturi-Pasar Senen PP dan beroperasi sebagai kereta ekonomi subsidi/PSO. Selain menjadi nama KA, nama Airlangga juga diabadikan sebagai nama salah satu universitas negeri terkemuka di Kota Surabaya.

  1. Brawijaya

Prabu Brawijaya merupakan gelar yang dianggap melekat sebagai penguasa Kerajaan Majapahit, yang merupakan gabungan dari kata Bhre dan Wijaya yang memiliki arti penguasa keturunan Wijaya. Namanya diadopsi menjadi KA Brawijaya dengan rute Malang-Gambir PP.

KA tersebut merupakan KA dengan layanan eksekutif dan diluncurkan pada 10 Maret 2021. Selain itu, nama Prabu Brawijaya juga digunakan sebagai nama salah satu universitas negeri terkemuka di Kota Malang, Jawa Timur.

  1. Dharmawangsa

Dharmawangsa dikenal sebagai raja terakhir dari Kerajaan Medang periode Jawa Timur dan bergelar nama Abhiseka Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Dia memerintah pada 991-1016. Dalam Prasasti Sirah Keting, nama Dharmawangsa disebut sebagai anggota Wangsa Isyana.

Namanya disematkan sebagai salah satu nama KA di kelas campuran dan diluncurkan pada 2 Desember 2019 dengan rute Surabaya Pasarturi-Pasar Senen PP. Selain itu, namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kota Surabaya.

  1. Gajayana

Gajayanalingga Jagatnata merupakan nama raja dari Kerajaan Kanjuruhan di dekat Kota Malang sekarang. Kerajaan Kanjuruhan sendiri diduga telah berdiri pada abad ke-8 Masehi dan bukti tertulis terkait keberadaan kerajaan itu adalah Prasasti Dinoyo.

Raja Gajayana bertahta selama 29 tahun, tepatnya pada 760-789. Dia merupakan raja yang sangat dihormati dan dicintai rakyatnya karena dinilai mampu membawa ketenteraman di seluruh negeri. Namanya digunakan sebagai nama KA kelas eksekutif dengan rute Malang-Gambir PP. Kereta tersebut beroperasi pertama kali pada 28 Oktober 1999.

  1. Jaka Tingkir

Mas Karebet atau yang lebih sering disebut Jaka Tingkir, merupakan pendiri sekaligus raja pertama dari Kerajaan Pajang (sebuah kesultanan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak). Dia memerintah pada 1568-1582.

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meski tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Namun hal tersebut tetap dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang dan bergelar Adipati Adiwijaya. Namanya menjadi inspirasi nama kereta api kelas ekonomi komersial dengan rute Purwosari-Pasar Senen PP dan mulai beroperasi sejak 8 Desember 2013.

  1. Jayabaya

Jayabaya merupakan nama seorang raja dari Kerajaan Panjalu (Kediri) yang memerintah sekitar 1135-1159. Masa di saat dia bertakhta, disebut sebagai masa kejayaan dari Kerajaan Panjalu. Raja Jayabaya juga terkenal dengan ramalannya.

Salah satu ramalannya yang terkenal adalah Mbesuk yen wis ana kreta tanpa jaran, tanah jawa kalungan wesi yang artinya Kelak jika ada kereta tanpa kuda, Pulau Jawa akan berkalung besi. Dan ramalan tersebut menjadi cikal bakal keberadaan jalur rel beserta kereta api di Pulau Jawa. Namanya pun turut masuk dalam daftar nama raja Nusantara yang diabadikan menjadi nama KA dengan rute Malang-Pasar Senen PP yang merupakan kereta dengan kelas campuran dan diluncurkan sejak 18 Oktober 2014.

  1. Kertajaya

Sri Maharaja Srengga atau Kertajaya merupakan raja terakhir dari Kerajaan Panjalu. Dia menduduki takhta Kerajaan pada 1194-1222. Puncak pemerintahannya berakhir setelah dikalahkan Ken Arok dari Tumapel dan hal tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa Kerajaan Panjalu.

Namanya dijadikan sebagai nama layanan KA legendaris, dengan kelas layanan ekonomi komersial rute Surabaya Pasarturi-Pasar Senen PP dan telah beroperasi sejak 1994. Nama Raja Kertajaya juga diabadikan sebagai nama sebuah jalan di wilayah timur Kota Surabaya.

  1. Kertanegara

Sri Maharaja Kertanegara merupakan raja terakhir dari Kerajaan Singasari. Dia memerintah pada 1268-1292. Arca Joko Dolog yang ada di Surabaya dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya dan merupakan lambang dari perwujudan dari Raja Kertanegara.

KAI mengadopsi nama Kertanegara sebagai rangkaian KA dengan rute Malang-Purwokerto PP. KA Kertanegara dioperasikan pertama kali pada 10 Maret 2021 sebagai KA dengan layanan kelas campuran.

  1. Siliwangi

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi III yang juga dikenal sebagai Raja Jayadewata putra Prabu Dewa Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana lahir sekitar 1401 M di Kawali Ciamis. Dia mengawali pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun (1482–1521). Pada masa itu Pakuan Pajajaran yang saat ini terletak di Kota Bogor mencapai puncak perkembangannya.

Nama Siliwangi digunakan sebagai nama rangkaian KA yang pertama kali beroperasi sebagai KA dengan layanan kelas eksekutif dan ekonomi pada 8 Februari 2014. KAI kemudian meluncurkan KA Siliwangi sebagai angkutan perintis kelas ekonomi pada 19 Februari 2016 dengan subsidi dari pemerintah.

Kemudian seiring dengan reaktivasi jalur KA ruas Cianjur-Padalarang, lintas pelayanannya diperpanjang hingga Stasiun Ciranjang pada 30 Juli 2019. Dan kemudian diperpanjang lagi hingga Stasiun Cipatat pada 21 September 2020.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah