← Beranda

Kurma saat Puasa Ramadhan : Mitos dan Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Risma Aris MayaSenin, 2 Maret 2026 | 13.15 WIB
Salah satu mitos kurma adalah kurma terlalu manis (freepik)

JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan memang selalu identik dengan buah kurma sebagai menu berbuka puasa. Sunnah mengonsumsi kurma membuat buah ini semakin populer setiap Ramadhan tiba.

Namun, dibalik popularitasnya, masih banyak mitos dan fakta tentang kurma yang perlu dipahami. Dalam hadis riwayat Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan kurma sebelum shalat. Praktik ini menjadi dasar tradisi berbuka puasa dengan kurma di berbagai negara Muslim.

Secara nutrisi, United States Department of Agriculture mencatat bahwa kurma mengandung karbohidrat alami, serat, kalium dan antioksidan. Kandungan ini membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Menurut Harvard T.H Chan School of Public Health, karbohidrat sederhana dari buah dapat membantu meningkatkan energi secara cepat setelah periode tidak makan. Hal ini menjelaskan alasan kurma efektif untuk berbuka puasa Ramadhan.

Baca Juga: Puasa Ramadhan Sehat : 7 Cara Mengatur Porsi Makan agar Berat Badan Tetap Stabil

Berikut beberapa mitos dan fakta seputar kurma di bulan Ramadhan sebagaimana dilansir dari laman NIH dan Mayo Clinic, Senin (2/3) :

  1. Mitos : Kurma terlalu manis dan tidak sehat saat puasa

Banyak orang mengira kurma terlalu manis sehingga tidak baik untuk kesehatan. Padahal rasa manis kurma berasal dari gula alami seperti glukosa dan fruktosa.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di National Institutes of Health, kurma memiliki indeks glikemik sedang hingga rendah tergantung jenisnya.

Artinya kurma tidak langsung menyebabkan lonjakan gula darah drastis jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Baca Juga: Takjil Sehat Ramadhan: 7 Olahan Ubi Tradisional Lezat untuk Menu Berbuka Puasa

  1. Fakta : Kurma membantu pemulihan energi saat berbuka

Saat puasa, tubuh mengalami penurunan kadar gula darah. Kurma membantu mengembalikan kadar tersebut dengan cepat namun tetap alami.

Mayo Clinic menjelaskan bahwa makanan dengan kandungan karbohidrat alami dapat membantu pemulihan energi setelah berpuasa. Karena itu, kurma sangat cocok sebagai takjil Ramadhan.

  1. Mitos : semakin banyak kurma dimana semakin baik

Sebagian orang beranggapan makan kurma dalam jumlah besar akan memberi manfaat lebih besar. Padahal segala sesuatu yang berlebihan tidak baik.

WHO merekomendasikan pembatasan konsumsi gula harian meskipun berasal dari sumber alami. Mengonsumsi 1-3 butir kurma saat berbuka sudah cukup untuk mendapatkan manfaatnya.

  1. Fakta : Kurma kaya serat untuk pencernaan

Puasa dapat mengubah pola makan dan memengaruhi sistem pencernaan. Serat dalam kurma membantu menjaga kesehatan usus selama Ramadhan.

Menurut kajian ilmiah di National Library of Medicine, kandungan serat dalam kurma berperan dalam melancarkan sistem pencernaan. Ini penting untuk mencegah sembelit saat puasa.

  1. Mitos : Semua jenis kurma sama nilai gizinya

Banyak yang mengira semua kurma memiliki kandungan nutrisi yang sama. Faktanya setiap varietas memiliki komposisi gula dan antioksidan yang berbeda.

Data dari Food and Agriculture Organization menunjukkan variasi kandungan nutrisi pada berbagai jenis kurma. Meski berbeda, semuanya tetap kaya nutrisi dan baik dikonsumsi saat Ramadhan.

  1. Fakta : Kurma mengandung antioksidan

Kurma mengandung senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan membantu melawan radikal bebas dalam tubuh.

Penelitian yang dipublikasikan melalui National Institutes of Health menyebutkan bahwa kurma memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Hal ini mendukung daya tahan tubuh selama bulan puasa Ramadhan. ***

EDITOR: Setyo Adi Nugroho