← Beranda

Mengenal As’ad Humam, Sosok Legendaris di Cover Buku Iqro’ yang Dipakai Belajar Ngaji

Mohammad Maulana IqbalKamis, 21 Maret 2024 | 21.56 WIB
Sosok As’ad Humam penemu metode belajar Iqro’./Sumber foto: Muhammadiyah.or.id

 

JawaPos.com- Tahukah kamu siapa Sosok As’ad Humam? Ya, ia merupakan tokoh berpengaruh dalam dunia metode belajar Al Quran, yang fotonya terpampang apik di belakang cover buku Iqro’.

Kenapa bisa fotonya berada di kitab ngaji atau Iqro'? Karena As’ad Humam diketahui sebagai penemu metode Iqro’ yang digunakan kebanyakan anak belajar ngaji di Indonesia.

Bahkan sebagaimana dikutip dari muhammadiyah.or.id, Kamis (21/3), buku Iqro’ ini telah melalang buana ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Kakek yang difotonya memegang tongkat itu kelahiran asli Selokraman, Kotagede, Yogyakarta pada 1933. Ayahnya Humam Siradj adalah seorang pebisnis sukses di pasar Bringharjo, Yogyakarta.

Seorang profesor Universitas Meiji dan sastrawan asal Jepang Mitsuo Nakamura dalam The Crescent Arises over the Banyan Tree (2012) menyebut bahwa As’ad Humam merampungkan pendidikan di SD Muhammadiyah Kleco, kemudian SMP Negeri di Ngawi, dan pendidikan SMA di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Baca Juga: Profil KH As’ad bin Humam, Sosok di Balik Buku Mengaji Iqro’

Bersama Jazir Asp selaku pegiat Muhammadiyah, As’ad Humam menemukan metode Iqro’ di Pusat Kebudayaan Muhammadiyah, Kotagede, Yogyakarta.

Namun, bagi Mitsuo Nakamura meskipun lahir di lingkungan Muhammadiyah, gerakan Iqro’ hadir secara berdikari tak terikat dengan Muhammdiyah.

Awalnya pada 1980-an sudah ada metode Qiroati yang dipelopori Kiai Dahlan Salim Zarkasyi asal Semarang. As’ad Humam jug sempat mengajar menggunakan metode ini pada anak-anak di Kotagede.

Namun, As’ad Humam mulai menyadari bahwa metode tradisional Baghdadi ini kurang efektif karena membutuhkan 2-3 tahun untuk penguasaannya.

Akhirnya ia mulai merumuskan dan menemukan metodenya sendiri yakni Iqro’ di bawah pohon jambu sebelah rumahnya.

Jika metode baghdadiyah lebih pada mengeja antarahuruf, bunyi, dan harakat secara terpisah, misalnya ba, ta, ja, ka, dan lain seterusnya

Berbeda dengan metode Iqro’, yang mengajarkan cara membaca langsung dalam sistem suku kata, misalnya “ba-ta”, “ka-ta”, “ba-ja”. Kemudian langsung dilanjut dengan kosa kata yang ada di surat pendek.

Baca Juga: 5 Tips Berhasil Khatamkan Al Quran Selama Bulan Ramadan

Pasca penemuan metode Iqra’, As’ad Humam bersama Jazir Asp serta bantuan dari Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola (AMM) Yogyakarta, mereka membangun TK Alquran AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986.

Sejak saat itu pula mulailah membludak dan mendapatkan antusiasme yang tinggi di masyarakat. Di titik itu lah mulai banyak pendirian lembaga yang mengajarkan metode Iqro’ ini.

Berdirilah Taman Pendidikan Alquran AMM, Ta’limuq Quran Lil Aulad AMM, dan kursus Tartilil Quran AMM.

Pada tahun 1988, di kampungnya sendiri Selokraman, Kotagede, berdirilah Taman Kanak-kanak Alquran (TKA) untuk anak usia 4-6 tahun, dan setahun kemudian didirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk anak usia 7-12 tahun.

Metode Iqro’ terus berkembang hingga ke Gresik dan Semarang. Bahkan pada 1988 metode ini memeroleh pengakuan dari Menteri Agama dan didistributorkan dalam skala nasional pada 1992.

Disebut juga oleh Anna M. Gade dalam bukunya Perfection Makes Practice Learning, Emotion, and the Recited Qurʼān in Indonesia (2004). bahwa metode ini tidak hanya diajarkan di kalangan Muhammadiyah saja, melainkan lingkungan Nahdlatul Ulama juga berjasa dalam pengenalan metode ini.

Baca Juga: 4 Ayat Al Quran yang Menjadi Landasan Puasa Ramadhan Umat Islam, Simak Lengkapnya di Sini!

Dilansir dari Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, disebutkan pada 1992, Kementerian Pendidikan Malaysia mengundang pengajar metode Iqro’  dari  Kotagede untuk “menatarkan” metode tersebut pada guru agama di 9 negara bagian Malaysia. Pada 1994, metode ini secara resmi diterapkan di Malaysia.

Selepas meninggalnya As’ad Humam pada Jumat, 2 Februari 1996, metode yang diciptakannya terus menyebar ke Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika.

 ***

EDITOR: Novia Tri Astuti