JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai menggerakkan seluruh rumah sakit untuk lebih ramah lingkungan dengan berbagai kebijakan mereka. Salah satunya soal pemilahan sampah dari rumah sakit. Semangat ini menuju program Rumah Sakit Hijau (Green Hospital).
Rumah sakit hijau didefinisikan sebagai rumah sakit yang didesain, dibangun, dan dioperasikan serta dipelihara dengan mempertimbangkan prinsip kesehatan dan lingkungan hidup secara keberlanjutan
Gedung hijau memiliki perbedaan dengan rumah sakit hijau. Gedung hijau lebih dekat pada rancangan desain bangunan untuk memenuhi kriteria fisik, sedangkan rumah sakit hijau lebih dikembangkan ke arah pemenuhan praktik kesehatan hijau (green health care).
Direktur Penunjang RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dr Lia G. Partakusuma, SpPK menuturkan, rumah sakit hijau salah satunya dengan menerapkan pengelolaan sampah yang baik. Sehingga ada slogan baru, Jangan Membuang Sampah, tetapi Menaruh Sampah.
“Kita tak membuang sampah, tapi menaruh sampah, memilah sampah. Bukan nilainya, tetapi ada rasa bersihnya, investasi. Yang bisa dirasakan nyamannya dan jadi merasa enggak berdosa,” kata Ketua Komite Rumah Sakit Hijau dan Asri ini, Minggu (26/2).
Lebih jauh Lia menjelaskan, untuk tampil hijau harus dimulai dari perilaku. Hal itu akan membuat lingkungan nyaman dan bersih. Seluruh tekad tersebut dalam rangka mencapai lingkungan bebas sampah (zero waste).
“Kementerian Kesehatan juga sudah mulai banyak perhatian pada Green Hospital. Green artinya hijau dulu, intinya berperilaku green. Efisiensi, nyaman, bersih. Kita punya patient safety, tak harus bersih saja dan kita di RS masih urus sampah,” tegas Lia.
Ketua Kompartemen Manajemen Penunjang Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ini mencontohkan, masyarakat harus mengenal daur ulang sampah (recycle), bebas sampah (zero waste) dan kembali ke alam (Return To Earth).
Hal itu dimulai dari plastik-plastik farmasi yang lebih mudah diolah, serta makanan pasien yang bersifat lokal sehingga lebih murah. “Banyak hal yang bisa dipikirkan rumah sakit, pikirkan masalah hemat energi. Banyak nilai yang tak tergantikan, value-nya banyak aspek. Bagaimana pasien sakit membawa sesuatu nilai yang bagus untuk diterapkan dengan kebiasaan di rumah,” katanya.
Contoh lain, makanan sisa atau sampah organik selama ini dipisahkan antara makanan protein dan non protein. Sisa sayuran bisa dibuat kompos.
“Kita ini manusia yang selalu ingin menggunakan segala macam energi yang ada. Tapi kita harus berpikir segala upaya jangan sampai merusak lingkungan. Sebagai manusia harus berpikir bagaimana memelihara lingkungan. Kami pihak rumah sakit yang adalah orang kesehatan, minimal punya program yang nyata,” tutur Lia. (cr1/JPG)