JawaPos.com – Puncak haji tinggal seminggu lagi. Wukuf di Arafah, yang direncanakan berlangsung pada 5 Juni (9 Dzulhijah), menjadi momen paling sakral yang ditunggu-tunggu jutaan jemaah dari seluruh dunia.
Namun, di balik persiapan spiritual itu, ada tantangan besar yang harus diantisipasi secara teknis: pengaturan arus jemaah di Mina, terutama di area lempar jumrah.
Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) Harun Ar Rasyid menjelaskan, tahun ini tim Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memetakan secara detail bagaimana pergerakan jemaah di kawasan Mina, terutama yang menuju Jamarat.
“Dari total 203 ribu jemaah haji Indonesia (525), akan ada sekitar 95 kloter yang mengambil skema tanazul, sehingga mereka berpotensi mengambil jalur jamarat lantai bawah,” ujar Harun saat orientasi lapangan di Mina, Rabu (28/5) dini hari.
Tanazul adalah jemaah haji langsung kembali ke hotel setelah melempar jumrah. Sementara itu, lantai 3 Mina akan dipadati mayoritas jemaah reguler.
Ada alasan logis di balik ini: maktab (tenda) jemaah haji Indonesia memang sebagian besar berada dekat mulut terowongan Mina yang langsung terhubung ke lantai atas. Secara alami, konsentrasi arus jemaah akan terkumpul di sana.
“Oleh karena itu, kebijakan yang kami ambil, pengawasan di atas dan di bawah itu berbeda. Kami memperkuat lantai bawah dengan tambahan tujuh pos pantau khusus Tanazul. Ini baru kami berlakukan tahun ini,” jelas Harun.
Tidak hanya membagi jalur dan memperkuat pos pengawasan, Harun juga memastikan bahwa seluruh petugas mendapatkan sosialisasi intensif.
“Kami lakukan sosialisasi kepada petugas, baik Satgas Arafah, Satgas Muzdalifah, maupun Satgas Mina. Juga kepada seluruh ketua kloter. Ini penting supaya mereka bisa menyampaikan secara jelas kepada jemaahnya,” tegasnya.
Menurut Harun, semua upaya ini bertujuan satu: memastikan jemaah memahami alur pergerakan dan bisa melaksanakan manasik dengan lancar. Apalagi, kepadatan di Mina selalu menjadi tantangan besar, terutama pada 10 Dzulhijah saat lempar jumrah aqabah.
Semua ini menunjukkan betapa kompleksnya persiapan menghadapi puncak haji. Tidak hanya soal pergerakan fisik, tetapi juga pemetaan psikologis dan komunikasi agar jemaah merasa aman. Dengan strategi ini, PPIH berharap, seluruh jemaah haji Indonesia bisa menjalani puncak ibadahnya dengan lancar dan khusyuk.