JawaPos.com - Pengumuman pengurus Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendapat sentimen yang relatif positif. Tercermin dari pergerakan pasar saham Indonesia yang rebound. Terjadi aksi penguatan.
"Sesudah pengumuman berbalik menguat. Terjadi aksi penguatan. Kalau kita lihat cukup positif orang-orang yang di dalamnya. Karena positif itu, market pasar saham yang sempat turun 4,5 persen kemudian penurunannya terbatas. Bahkan market berhasil menguat hari ini. Artinya kita melihat pasar cukup positif," ucap analis pasar modal Hans Kwee kepada Jawa Pos, Selasa (25/3).
Tokoh-tokoh yang menjadi pengurus Danantara bisa dianggap diterima oleh pasar cukup baik. Mengingat, badan pengelola investasi ini sangat dinantikan. Tentu sangat diperhatikan perkembangannya oleh para investor, terutama asing.
"Ray Dalio tokoh yang hebat, punya reputasi yang bagus. Thaksin (Shinawatra) memang pernah masuk penjara. Tapi beliau adalah mantan Perdana Menteri Thailand. Secara umum sih harusnya tokoh-tokoh yang oke lah ya nama-namanya itu," ujar Hans.
Meski, sentimen Danantara juga sempat negatif. Karena para investor asing khawatir. Jangan sampai Danantara menyebabkan nasib bank-bank Himbara menjadi seperti badan usaha milik negara (BUMN) karya.
"Artinya, ya sebaiknya danantara itu tidak menugaskan bank-bank BUMN untuk penugasan-penugasan yang tidak profit orientated. Itu yang harus dihindarkan. Jadi bekerja secara profesional, tidak ada penugasan, tidak ada intervensi, kemudian benar-benar orientasinya profit," beber dosen Magister Fakultas Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya itu.
Selain itu, pengurus BUMN yang berada di bawah Danantara sebaiknya dipilih secara profesional. Hindari unsur-unsur politik. Jika pemerintah bisa melakukan dengan cermat, maka sentimennya akan sangat positif untuk Danantara maupun BUMN.
"Jadi menghindarkan unsur politik di danantara dan BUMN yang ada di bawah Danantara itu penting. Kemudian dilakukan secara bisnis oriented. Bukan penugasan yang cenderung bisa merugikan," terangnya.
Meski demikian, sentimen investor asing masih menyoroti defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Ditambah komunikasi pemerintah yang kurang bagus. Padahal tidak hanya sekadar pendapatan negara yang turun. Justru termasuk platform Cortex yang tidak berfungsi. Padahal investasinya Rp 1,3 triliun.
"Itu kurang dikomunikasikan. Sehingga narasi yang muncul Indonesia nggak ada duit, nggak ada cashflow. Nah itu berisiko kalau (investor) asing melihat itu nanti rating Indonesia downgrade. Bahaya," tandasnya.