Dalam event food bazaar Kepo Wonderland x Mandiri x Jawa Pos pada November tahun lalu, ada sosok penting di balik layar. Dia adalah Michael Putra Bani, penggagas Kepo Market sejak tujuh tahun lalu. Semangat yang menjadi napas utamanya adalah membantu UMKM untuk punya wadah berjualan.
NURUL KOMARIYAH, Surabaya
TUJUH tahun berturut-turut, event food bazaar Kepo Market selalu digelar secara konsisten. Awalnya, event itu diselenggarakan enam kali dalam setahun. Makin lama, durasi pelaksanaannya bertambah. Yakni, sampai sepuluh kali di setiap tahunnya. Ratusan tenant makanan dan minuman yang berpartisipasi membuat Kepo Market jadi surga kuliner, khususnya bagi pencinta jajanan alias foodies.
Founder Kepo Market Michael Putra Bani menginisiatori food bazaar tersebut pada Januari 2016. Saat itu, dia melihat banyaknya event bazar yang sukses digelar di Jakarta. Pria 31 tahun tersebut lantas menjajal menerapkan event serupa di Surabaya. Sambutannya pun luar biasa. Pergelaran itu jadi jujukan untuk berburu aneka rupa makanan.
Mulai makanan khas Indonesia, Jepang, Korea, Chinese food, hingga kudapan khas Thailand. Sejak awal, Michael sudah menggunakan nama Kepo Market. Alasannya, supaya warga Surabaya penasaran dan ingin tahu alias kepo untuk datang. Selain itu, nama tersebut mudah diingat karena sudah menjadi kata yang khas diucapkan oleh muda-mudi.
’’Pertama diadakan pada 2016, kami bisa menggandeng 120 tenant F&B dan lifestyle. Meliputi penggiat UMKM dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan. Antusiasme saat itu terbilang sangat tinggi. Dan dua bulan setelahnya, yakni pada Maret, kami langsung bikin yang kedua,’’ ujar alumnus Manajemen Bisnis UK Petra itu.
Michael menuturkan bahwa tujuan utama Kepo Market adalah sebagai bentuk dukungan kepada penggiat UMKM. Terlebih mereka yang selama ini belum punya store. Maka, bazar adalah wadah yang bisa mempertemukan UMKM dengan pembelinya secara langsung. Dengan demikian, transaksi tidak melulu dilakukan secara online.
”Kepo Market selalu saya adakan di Galaxy Mall. Bagi UMKM, kalau mau sewa di mal kan kontraknya paling sedikit setahun. Harus keluar biaya yang tidak sedikit untuk bayar kontrak. Belum lagi untuk renovasi toko. Kalau ikut bazar, mereka hanya bayar murah, tapi bisa menemukan keramaian yang bikin produknya lebih dikenal,’’ paparnya.
Selain itu, kegiatan bazar dengan melibatkan UMKM semacam itu dianggapnya mampu membantu memutar perekonomian di Jatim. Seiring waktu, Kepo Market pun berkolaborasi untuk memberikan dampak yang lebih besar. Salah satunya bekerja sama dalam Jawa Pos Culinary yang diadakan saban tahun. Kerja sama itu dilakukan sejak 2018.
November 2022 adalah pergelaran yang ketiga Kepo Market bersama Jawa Pos setelah dua tahun absen lantaran dihantam pandemi. Dalam tiga hari, tidak kurang dari 130 ribu pengunjung yang mampir. Ada 250 stan yang terlibat. Perinciannya, 190 tenant makanan dan minuman yang menjual 7.200 menu serta 60 gerai fashion.
”Di situ kami mengumpulkan UMKM paling favorit dari beberapa kota di Jatim. Jadi, kalau mau nyicipin kuliner khas Malang, misalnya, nggak perlu jauh-jauh ke Malang karena ada banyak yang jual di Kepo Market dengan Jawa Pos,’’ imbuhnya.
Melalui cara semacam itu, perekonomian yang layu bahkan terpuruk selama masa sulit pandemi bisa kembali bangkit. Ke depan, Michael mengonsep Kepo Market yang lebih ramah anak. Yakni, menyandingkan konsep kuliner dengan playground.