Metaverse semakin memudahkan manusia untuk saling terhubung dalam dunia virtual. Empat dosen Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (iSTTS) pun berinovasi untuk membuat pembelajaran interaktif di dunia metaverse.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
RUANG virtual itu saling terhubung. Ada zona perpustakaan, ruang kelas, kantin, teater, gym, supermarket, techno zone, dan ruang unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bisa Jawa Pos jelajahi di dunia metaverse yang diciptakan empat dosen Institut Sains dan Teknologi Tepadu Surabaya (iSTTS) kemarin (12/4).
Mereka adalah Hansel Santoso, Herman Thuan To Saurik, Joan Santoso, dan Hartarto Junaedi. Mereka merupakan tim dari grup riset Game Technology Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Bisnis iSTTS.
Mereka membuat terobosan baru dalam menciptakan model pembelajaran interaktif di dunia metaverse. Namanya, iSTTS Metaverse. Inovasi tersebut menjadi cara unik dan menarik yang bisa dirasakan mahasiswa saat melakukan perkuliahan secara daring, tetapi terasa luring.
’’Sekarang jarak, waktu, dan wilayah geografis sudah tidak lagi menjadi masalah dengan bantuan teknologi virtual reality (VR) di dunia metaverse,” kata Joan.
Joan menyatakan, masa pandemi membuat interaksi masyarakat semakin susah. Mahasiswa pun tidak lagi ke kampus dan menjalani perkuliahan secara daring. Dari situlah, grup riset Game Technology Sistem Informasi iSTTS mengembangkan teknologi pembelajaran di dunia virtual dengan menggunakan pendekatan interaktif.
”Dengan inovasi iSTTS Metaverse, mahasiswa bisa berinteraksi seperti berada di kampus,” ujarnya.
Ada tiga bagian dalam pembuatan iSTTS Metaverse. Pertama, tim yang membuat experience seperti di dunia aslinya. Tim tersebut membuat dunia yang kembar atau sama seperti iSTTS dalam tampilan di dunia tiga dimensi (3D). Selain itu, perlu ditonjolkan cara seseorang tersebut saat berada di dunia metaverse.
”Harus ada sisi user interaktif dan experience sehingga mereka seperti berada di dunia tersebut,” imbuhnya.
Kedua, tim desain dunia metaverse. Desain di dunia iSTTS Metaverse dibuat semenarik-menariknya. Interaksi antar-player yang dihadirkan di dalam dunia tersebut juga harus menarik.
”Ketiga, tim dari saya yang mengembangkan setiap karakter di dalam dunia metaverse,” jelasnya.
Ketika player join di dalam dunia tersebut, otomatis dia menjadi avatar. Selain itu, di dalam dunia virtual tersebut juga diciptakan non playable character (NPC). Karakter yang disediakan di dalam dunia virtual itu akan membantu mahasiswa ketika join di dunianya.
”Kita mengembangkan karakter di dunia virtual itu dengan konsep kecerdasan artifisial di game sehingga dapat berinteraksi dengan mahasiswa,” terangnya.
”Kami berharap kegiatan seminar, workshop semacam expo bisa kami explore. Di iSTTS sendiri kan ada prodi desain yang kadang mereka melakukan showcase,” kata dia.
Joan menjelaskan, saat ini iSTTS Metaverse masih launching Beta. Sementara ini, inovasi iSTTS Metaverse masih diterapkan di prodi sistem informasi bisnis (SIB). Ke depan setelah enam bulan, rencananya dicoba di seluruh prodi fakultas sains dan teknologi. Kemudian, satu tahun baru diterapkan di seluruh prodi di iSTTS.