← Beranda

Claire Margareth Sinto, Siswa Sekolah Ciputra yang Kumpulkan 20 Medali Kejuaraan

Galih Adi PrasetyoSenin, 4 Desember 2023 | 23.16 WIB
PRESTASI: Claire, siswa kelas VII SMP Ciputra Surabaya, menunjukkan beberapa medali dan piala yang dia raih dari berbagai perlombaan internasional.

Dalam setahun Claire Margareth Sinto berhasil mengumpulkan 20 medali dari berbagai ajang olimpiade internasional. Baginya, matematika tak sekadar menghafalkan rumus hitung-hitungan, tetapi memahaminya untuk memperoleh jawaban.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

PADA usia 8 tahun, Claire Margareth Sinto mengikuti olimpiade matematika untuk kali pertama. Kejuaraan tersebut membuat dia makin jatuh hati pada matematika. Setahun terakhir, siswa kelas VII Sekolah Ciputra itu berhasil mengumpulkan 20 medali.

Claire menyukai hitung-hitungan. Termasuk dalam pelajaran sekolah, harus ada angkanya biar bisa lebih paham. Dia tidak begitu menyukai pelajaran hafalan.

Alasannya bikin capek. Hitung-hitungan membuatnya lebih nyaman saat belajar. Hitungan juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

”Ini karena saya tidak terlalu suka mengingat sesuatu, tetapi saya menikmati memahami sesuatu dan itulah yang dimaksud dengan matematika. Matematika itu tidak ingat rumusnya. Saya memahami rumusnya sehingga bisa menggunakannya untuk menjawab pertanyaan lain,” kata siswa kelas VII Sekolah Ciputra itu.

Karena menyukai hitung-hitungan, Claire semakin serius belajar matematika. Berbagai olimpiade dia ikuti. Itu dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuannya.

Beragam prestasi berhasil didapatkan Claire. Pada 2023, total lebih dari 20 medali diperoleh dari kompetisi internasional, baik di tingkat Asia maupun dunia.

Pada lomba Mental Math World Championship (MMWC) 2023, dia menduduki posisi kedua terbaik di Indonesia. Lomba itu berjalan maraton selama setahun. Pesertanya ribuan. Kompetisi tersebut menuntut peserta berpikir cepat dalam menjawab soal yang diberikan.

”Menurut saya, yang paling mengintimidasi adalah peserta dari India. Mereka sangat siap dan pandai dalam kompetisi matematika mental seperti itu,” terangnya.

Selain itu, Claire juga menyabet medali perunggu International Mathematical Olympiad (IMO) di Hongkong serta medali perunggu World Mathematics Invitational (WMI) di Taiwan.

Itu belum termasuk medali yang dia dapatkan dari lomba di luar matematika. Kompetisi debat misalnya. Pelajar yang hobi membaca buku itu mengatakan, debat berguna mengasah cara berpikirnya. Sebab, dalam debat setiap orang dituntut untuk berpikir kritis. Banyak membaca adalah salah satu modal besar yang sudah dimiliki Claire.

Claire mempelajari matematika dari buku dan internet. Dia tidak mengikuti les privat. Apabila sudah lelah dalam belajar, dia tidak pernah memaksakan diri.

”Kalau sampai capek atau jenuh tidak pernah. Karena belajar matematika ini bebas. Sehari bisa dua atau tiga jam, lalu istirahat. Kalau capek, main game,” ujar anak pasangan dokter Boedi Raharjo Sinto dan Joan Margaretha itu.

Puluhan medali yang sudah dikumpulkan itu tak lantas membuat Claire puas. Tahun depan dia sudah memasang target memenangi kompetisi tingkat dunia.

”Targetnya bisa masuk ke kompetisi IMO. Ini kompetisi yang paling bergengsi karena harus lolos kompetisi lain seperti IMO Hongkong, Taiwan, dan Thailand,” paparnya.

Ayah Claire, dokter Boedi Raharjo Sinto, tidak pernah memaksakan anaknya untuk terus belajar sepanjang waktu. Dia memberikan kebebasan agar anaknya tidak tertekan. Untuk kompetisi yang diikuti, Boedi juga membebaskan anaknya memilih.

”Mau ikut yang mana terserah, kami bebaskan dia memilih dan menjalaninya. Namun, memang kebanyakan kompetisi yang diikuti ini adalah kepesertaan individu,” paparnya. (*/c6/aph)

EDITOR: Dhimas Ginanjar