← Beranda

Lembah Setyowati, Anggota DPRD Surabaya yang Masih Aktif Melukis

Dhimas GinanjarRabu, 11 Oktober 2023 | 22.48 WIB
DEWAN SEKALIGUS SENIMAN: Lembah Setyowati memamerkan lukisan bunga matahari karyanya (8/10). Bagi Lembah, melukis merupakan ekspresi jiwa.

Melukis bagi Lembah Setyowati lebih dari sekadar hobi, namun wujud mengekspresikan ide dan meluapkan emosi. Anggota Komisi A DPRD Surabaya itu berkali-kali pameran tunggal di dalam dan luar negeri.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

PISAU palet digoreskan di atas kanvas. Di ujungnya menempel cat akrilik aneka warna. Ada kuning, hijau, biru, dan merah. Kombinasi warna itu menghasilkan gambar timbul yang indah. Yaitu, bunga matahari dengan kelopak kuning menyala.

’’Saya selalu tertarik melukis bunga matahari. Karena bunga ini mengandung nilai kehidupan,’’ kata Lembah Setyowati kepada Jawa Pos Minggu (8/10) lalu.

Lembah melukis di ruang tamu rumahnya di Jalan Taman Putro Agung, Kelurahan Rangkah, Tambaksari. Dulu, ruangan berukuran 5 x 5 meter disulap sebagai galeri bernama Anggun Cipta Galeri. Tapi, galeri itu sudah lama ditutup.

’’Karena kesibukan di DPRD juga mungkin kurang terurus,’’ ujarnya.

Ketertarikan Lembah pada dunia seni lukis berlangsung sejak 1980-an. Saat itu, usia perempuan yang duduk di Komisi A DPRD Surabaya itu baru 28 tahun. Dia tertarik karena almarhum ayahnya, Soewarno Harso, juga seorang pelukis.

Ditambah lagi pengaruh ibu mertuanya, Wiwiek Hidayat, yang juga pelukis ternama di Surabaya kala itu. ’’Lama-lama saya lihat mereka melukis jadi terpengaruh juga,’’ tuturnya.

Lembah pun menggeluti bidang seni lukis secara otodidak tanpa kuliah di jurusan seni lukis. Berkat ketekunan dan keuletannya, dia berhasil menjadi pelukis profesional.

Dalam kiprahnya di seni lukis, Lembah banyak terpengaruh oleh aliran ekspresionisme. Yaitu, menekankan pada bentuk ekspresi objek lukisan. Itu menggambarkan keadaan jiwa sang perupa yang spontan.

Lembah mengaku sangat terinspirasi dari gaya melukis maestro dunia Vincent van Gogh. Pelukis legendaris asal Belanda itu adalah pengusung aliran ekspresionisme. Di Indonesia tokoh beraliran ekspresionisme adalah Affandi.

’’Saya tidak tahu siapa Van Gogh, tapi lukisan beliau tentang bunga matahari sangat menjiwai saya,’’ tuturnya.

Pengalaman tak terduga muncul ketika dirinya mengikuti pameran tunggal di Amsterdam, Belanda, pada 2003. Karena gaya melukisnya dianggap mirip Van Gogh, dia sampai diundang untuk melanjutkan pameran di kota kelahiran sang maestro di Zundert.

Tepatnya di Cultureel Centrum Van Gogh. ’’Di sana lukisan saya bertema bunga matahari banyak dibeli pengunjung orang Belanda,’’ kenangnya bangga.

Selama kiprahnya, ibu empat anak itu mengaku sudah menghasilkan lebih dari seribu lukisan. (*/c6/aph)

EDITOR: Dhimas Ginanjar