Main game bisa menjadi candu yang bikin lupa waktu. Tak heran, muncul stigma game hanya kegiatan malas-malasan. Namun, game juga bisa mengantarkan seseorang pada karir level dunia.
NURUL KOMARIYAH, Surabaya
Itu pulalah yang dialami Thomas Julian Ongo. Lelaki asal Surabaya tersebut saat ini bekerja di Bandai Namco Studios Malaysia. Salah satu cabang industri video game terkenal di dunia. Pusatnya di Jepang. Cabangnya berdiri kukuh di Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Sudah setahun ini Thomas berkarya di sana.
Game keluaran Bandai Namco terbilang banyak. Beberapa di antaranya Dragon Ball dan One Piece. Ada juga game Pacman dengan karakter bola kuning yang melewati labirin sembari menghindari beberapa hantu.
Saat berbincang lewat sambungan telepon dengan Jawa Pos Minggu malam (12/7), alumnus Universitas Kristen (UK) Petra jurusan arsitektur itu menceritakan perjalanannya hingga sampai di Bandai Namco.
”Dari SD lupa kelas berapa, saya pernah bikin game sendiri. Dengan menggunakan buku, lego, atau kartu-kartu mainan. Dibuat seperti role playing game (RPG). Terus waktu SMP, saya mulai mencoba buat di komputer. Iseng-iseng saja, enggak ada yang pernah jadi. Hahaha...” kenangnya, lantas terbahak. Sejak kecil dia memang gamer sejati. Terutama menggilai games yang bergenre single player, adventure, action, dan RPG seperti Resident Evil, Final Fantasy, Bioshock, dan Metro.
”Saya tahu kelebihan saya itu utamanya ada di matematika, desain, IT, dan seni tiga dimensi. Tapi, dulu enggak pernah kepikiran menyeriusi industri game. Saya pikir itu semua hanya bisa berhenti sebagai hobi. Jadi, pilihan yang paling wajar dulu itu ya ambil jurusan arsitektur pas kuliah,” terangnya.
Sepanjang menjadi mahasiswa, hobi dalam membuat game kerap kali terbawa dalam hati dan pikirannya. Terlebih saat Thomas beberapa kali dipercaya sebagai tim publikasi, dekorasi, dan dokumentasi (pubdekdok) pada acara-acara kampus.
Dia pernah ditunjuk membuat poster lomba desain arsitek yang diselenggarakan kampus. Atau juga poster untuk sosialisasi pekan olahraga. Selain itu, bersama beberapa mahasiswa lain yang terpilih, Thomas didaulat sebagai salah satu anggota tim yang membuat maskot untuk ospek mahasiwa baru. Tepatnya pada 2016 dan 2017. Dia masih ingat, saat itu karakter video animasi maskot yang dibuat berwujud seperti tunas yang tumbuh dalam sebuah pot. ”Dari situ saya mulai belajar animasi secara otodidak. Lalu, terpikir untuk belajar lebih dalam lagi mengenai sesuatu yang saya suka,” imbuhnya.
Dia mulai sadar bahwa berkarir di industri game bukan lagi hal yang mustahil. Lelaki 25 tahun itu mulai melakukan riset. Mencari kampus di luar negeri yang bisa menjadi jujukan belajar. Tidak hanya itu, dia juga membutuhkan dana. Dia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya.
Lulus dari UK Petra, dia melanjutkan pendidikan selama setahun di 3dsense Media School, Singapura. Jurusan yang diambil adalah entertainment industry yang banyak mempelajari video game dan film.
Di situ Thomas menemukan dirinya yang sesungguhnya. Dia mengatakan, dunia game selalu bisa membuatnya tenggelam dalam imajinasi. Dia senantiasa hanyut dan larut dalam sebuah game.
”Saya suka pada dunia yang imajinatif. Dan itu semua ditawarkan dalam game. Mulai visual, sound, musik yang ada dalam game membuat saya seolah berada di dunia lain,” jelasnya.
Thomas mengaku belajar lebih keras selama di Singapura. Jangan dikira mudah dan mulus-mulus saja. Dia sempat mengalami kendala bahasa. Meski jago nge-game, Thomas dengan jujur mengakui bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus.
”Banyak orang yang bilang, kalau suka main game itu bahasa Inggrisnya pasti bagus. Tapi, tidak juga. Nilai listening bahasa Inggris saya pernah paling jelek kedua di kelas waktu SMA,” kenangnya. Hal tersebut membuat anak kedua di antara tiga bersaudara itu tekun mengejar kemampuan bahasa Inggris sebelum terbang ke Singapura. Saat menjalani studi di sana, dia tidak pernah risau terkendala komunikasi. ”Untungnya, khusus untuk mahasiswa yang berkaitan dengan seni itu tidak butuh skill persuasif yang hebat. Karena hasil karya seninya yang bicara,” imbuhnya.
Namun, Thomas mengaku selama menjalani studi setahun di Singapura, keseriusannya berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Semua itu didasari semangat untuk bisa mencetak portofolio terbaik. Hal tersebut terbukti tidak sia-sia. Di ujung masa studinya, beberapa bulan sebelum lulus, dia digaet Bandai Namco Studios Malaysia. Kemampuannya dianggap layak sekaligus kompeten untuk masuk jajaran kreator games di sana.
Tercatat sejak Juni 2019, Thomas bergabung dengan studio itu sebagai seorang environment artist. Tugasnya membuat setting dan properti aset atau benda yang nanti dilewati oleh karakter-karakter di dalam game. Bisa berupa pohon, jalan, dinding, gedung, bangunan, dan sebagainya. Dia mengatakan, total hanya ada tiga orang dari Surabaya yang bekerja di sana, termasuk dirinya. Selebihnya adalah kreator dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Terjun secara profesional di industri game level dunia membuatnya mendapat banyak hal baru. Dia jadi mengerti tentang alur kerja dalam proses pembuatan game. Yang ternyata memerlukan waktu cukup panjang. Satu game bisa dipersiapkan 4−5 tahun dengan melibatkan kurang lebih 100−200 orang. Sebelum akhirnya dirilis kepada khalayak umum.
Thomas menyadari bahwa berkarya di industri game internasional menuntut ide-ide baru. Untuk menyegarkan kreativitas, dia senantiasa melakukan kegiatan eksperimental yang menantang. Kegiatan semacam itu dilakukannya di luar pekerjaan kantor. ”Saya nggak stop hanya di kantor. Di luar itu, saya tantang diri saya sendiri untuk menyelesaikan goal yang masih berhubungan dengan hobi. Supaya muncul ide-ide,” tegasnya.
Selain itu, Thomas membagikan tip untuk bisa tetap survive di industri game. Salah satunya harus selalu mau mengikuti perkembangan. Terbuka dalam hal ilmu dan teknologi baru. Terutama di era digital yang segalanya bisa diakses dengan mudah dan cepat. ”Untuk teman-teman yang punya minat sama dalam mengembangkan game, jangan pernah putus asa. Jangan berpikir kalau itu tidak bisa dijadikan pekerjaan. Jangan juga takut distigma. Tetap ikuti passion,” katanya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=W8FebjrnM00
https://www.youtube.com/watch?v=Uz1ypfMAb_c
https://www.youtube.com/watch?v=WdXxerlZVos