← Beranda

Sambutan si Burung Hantu, Lahapnya si Predator Amazon di Surabaya Night Zoo

Wahyu Zanuar BustomiSenin, 26 Juni 2023 | 19.30 WIB
DIBUKA UNTUK UMUM: Pengunjung melihat ikan aligator di area akuarium Surabaya Night Zoo tadi malam (25/6).

Surabaya Night Zoo menjadi taman satwa ketiga di tanah air dan yang pertama di Jawa Timur yang bisa jadi opsi berwisata pada malam hari. Konsepnya dibuat tematik dan berganti-ganti.

GALIH ADI P.-WAHYU Z. BUSTOMI, Surabaya

---

BARU saja joran yang di ujung talinya tergantung paha ayam itu dijulurkan, dengan cepat penghuni kolam bereaksi. Disambar dengan cepat moncong bergerigi buaya senyulong.

Teriakan pengunjung semakin lantang ketika buaya lain merangsek menuju tempat umpan.

”Seram juga kalau menyambar,” ujar Windi, salah seorang pengunjung Surabaya Night Zoo (SNZ), kepada Jawa Pos tadi malam (25/6).

SNZ resmi dibuka tadi malam dan menjadi taman satwa ketiga di tanah air yang bisa jadi pilihan berwisata pada malam hari. Taman Safari Bogor dan Bali Safari yang lebih dulu memulai. Konsepnya sama: menunjukkan jenis satwa yang melek saat malam. SNZ dibuka setiap Sabtu dan Minggu pukul 18.00–22.00.

Hanya karena SNZ buka malam, para hewan yang menghuni tempat konservasi tersebut tak lantas diajak banting tulang siang malam. Semua yang ”bertugas” adalah satwa nokturnal alias binatang yang memang aktif dan lincah saat malam.

Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) menetapkan harga tiket Rp 100 ribu. Dengan tarif sedemikian, para pengunjung sudah bisa berkeliling serta lebih dekat dengan 20 jenis satwa di sana.

Saat masuk, pengunjung dibagi per kelompok. Satu kelompok terdiri atas 25 orang dengan didampingi dua pemandu. Mereka memakai bahasa Inggris dan Indonesia.

Saat pengunjung kali pertama masuk, burung hantu menjadi satwa penyambut. Ada 12 burung malam ini yang ditempatkan di sela taman. Tapi, awas jangan sembarangan jepret, apalagi memakai flash. Bakal kena semprit petugas.

Berikutnya, zona yang ditawarkan adalah kompleks akuarium dan reptil. Tampak berbagai jenis ular seperti kobra dan piton serta iguana hingga biawak. Mereka santai berjalan-jalan di kandang masing-masing.

Ada beberapa atraksi yang ditawarkan. Selain ke buaya, ada pula sesi memberi makan makan arapaima. Predator sepanjang 1,5 meter asal kawasan Amazon di Amerika Selatan itu begitu lahap menyantap saat pawang melempar kepala ayam ke arah kolam. Sambaran yang membuat air beriak hingga mengenai sebagian pengunjung.

Bukan hanya itu, berbagai mural tentang hewan juga bisa menjadi spot foto. Lukisan itu dibuat dengan cat fosfor. Berpendar ketika terkena cahaya ultraviolet. Konsep cat fosfor itu menghiasi hampir seluruh area KBS. Mulai lorong bangunan, tembok pagar, hingga pembatas antara hewan nokturnal dan non-nokturnal. Lukisan-lukisan itu dibuat dengan memberdayakan komunitas mural di Surabaya.

Tantangan membuat Surabaya Night Zoo (SNZ) tidak gampang. Luas KBS hanya sekitar 5 hektare, sedangkan luasan SNZ hanya 5–7 persen dari luas kebun binatang yang berusia 103 tahun tersebut.

Animal welfare (kesejahteraan hewan) menjadi tuntutan wajib. Suara dan kegiatan hiburan tidak boleh mengganggu satwa. Apalagi saat malam. Karena itu, mata Ika Darmayanti tidak boleh terlena. Segala aktivitas pengunjung harus dipantau keeper burung hantu tersebut. Terutama saat mereka mulai mengeluarkan gadget. Lampu flash saat memotret yang dikhawatirkan. ”Nggak boleh. Kasihan satwanya,” tegasnya.

Silauan lampu flash tidak hanya mengganggu kesehatan mata burung hantu, tetapi juga rawan menimbulkan refleks burung. Akibatnya, burung bisa berontak.

KBS memproyeksikan SNZ sebagai sarana edukasi. Dirut PDTS KBS Chairul Anwar menyebut, tantangan terbesar justru perilaku pengunjung. ”Apalagi saat animo masyarakat tinggi,” ujarnya.

Karena area yang terbatas, pengamanan pun begitu ketat. Pembatas atau partisi dibuat model tiga dimensi. Pengaman disiapkan setiap 10 meter. Begitu juga pada rombongan yang berjalan. Selain dua pemandu, ada dua petugas keamanan yang diikutkan.

Chairul mengungkapkan, yang ditonjolkan SNZ adalah sensasi malam hari layaknya di hutan. Konsep dibuat tematik setiap bulan dengan tujuan tawaran suasana yang berbeda. Untuk bulan pertama ini, temanya adalah Adventure of the Jungle.

Chairul menyebut SNZ sebagai langkah terobosan memodernisasi KBS sehingga nilai warisan dan kekiniannya bisa jalan bersamaan. ”Sekaligus mejadi objek wisata baru di Surabaya dan Jatim. Sebab, di Jatim hanya KBS yang membuka night zoo,” ungkapnya. (*/c14/ttg)

EDITOR: Ilham Safutra