JawaPos.com - BBM base fuel yang diimpor PT Pertamina Patra Niaga (PPN) belum juga diserap oleh penyedia BBM swasta. Bahkan, Vivo dan BP disebut-sebut telah mengurungkan niatnya untuk membeli BBM dari Pertamina.
Sementara itu, Shell Indonesia hingga kini masih melakukan proses B2B atau business to business dengan Pertamina. Alhasil belum ada hasil akhir mengenai apa saja yang disepakati dengan perusahaan pelat merah tersebut.
Jika ditelusuri, keengganan sejumlah penyedia BBM swasta ini tentu ada alasannya. Adapun kandungan etanol pada produk BBM disinyalir menjadi penyebab enggannya penyedia BBM swasta menyerap base fuel yang diimpor Pertamina.
Melihat hal ini, pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto, menjelaskan dampak kandungan etanol pada BBM. Salah satunya yakni menaikkan RON.
"Menaikkan RON, mengurangi emisi CO2, bersifat higroskopis (menyerap uap air). Dan jika air masuk ke bensin, etanol akan larut dalam air sehingga RON turun. Jika Etanol menguap pun RON juga akan turun," kata Tri saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (2/10).
Selain itu, kandungan etanol juga berpotensi menyebabkan seal melar (swelling) pada kendaraan-kendaraan lama. Bahkan, bisa juga membuat hasil pembakaran cenderung berfasa cair sehingga bisa menyebabkan kontaminasi ke dalam pelumas dan berpotensi menimbulkan karat, terutama pada kendaraan yang keausan silinder-ring piston sudah tinggi.
Menurut Tri, secara umum kendaraan saat ini bisa menerima bensin dengan campuran etanol hingga 20 persen. Di sisi lain, untuk mendapatkan keuntungan saat menjual BBM dengan kandungan etanol juga tak boleh sembarangan dan memerlukan trik khusus.
"Butuh aditif paket deterjen lebih banyak sehingga mengurangi margin kalau dijual dengan harga tetap atau harus dijual dengan harga lebih tinggi jika tidak ingin margin berkurang," jelasnya.
Etanol sendiri termasuk bahan bakar yang mengandung oksigen, sehingga pada kadar tinggi perlu penyesuaian Air Fuel Ratio agar campuran tidak terlalu sedikit lantaran bisa menyebabkan mesin panas.
Etanol juga memiliki kandungan energi sekitar 27 MJ/kg (bensin ± 40 MJ/kg) atau sekitar 67 persen bensin, sehingga makin tinggi kadar etanol maka konsumsi bensin akan semakin boros. Fakta lainnya, bensin yang mengandung etanol akan lebih rendah performanya, karena lebih rendah kandungan energinya.