← Beranda

Menelisik Jejak Listrik di Tanah Raja

Mohamad Nur AsikinMinggu, 16 Januari 2022 | 16.00 WIB
COVER BUKU
JawaPos.com - Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero telah hadir selama 76 tahun menerangi Indonesia. Namun, sejarah kelistrikan di Indonesia masih kurang diminati kalangan sejarawan karena kajiannya didominasi pendekatan teknis yang kadang sulit dipahami masyarakat awam.

Komisaris PLN Eko Sulistyo berupaya mengungkap sejarah kelistrikan dari sisi lain berdasar hasil penelitiannya. Melalui bedah buku Jejak Listrik di Tanah Raja, dia berusaha menggambarkan listrik dan kolonialisme di Surakarta.

Dalam acara yang berlangsung di Newsroom Jawa Pos tersebut, Eko menjelaskan tentang sejarah kelistrikan serta transformasi yang dihadirkan di Vostelanden alias wilayah kekuasaan kerajaan di Surakarta. Yakni, Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran yang dimulai pada 1901 hingga 1957.

"Pesan dari buku ini, saya ingin masalah listrik jangan dipahami dari infrastruktur kerasnya. Tapi, listrik juga menghadirkan jaringan lunak atau infrastruktur lunak yang saya sebut dengan perubahan sosial, budaya, pendidikan, dampak ekonomi, dan sebagainya," paparnya, Sabtu (15/1).

Kehadiran listrik, kata dia, memunculkan budaya baru di kota. Kota yang dialiri listrik akan menjadi kota yang ekonominya lebih maju daripada daerah yang tidak dialiri listrik. Hal itu juga terjadi di Amerika, Afrika, negara komunis, maupun negara kapitalis.

Sejarah tersebut kini memberikan mandat kepada PLN untuk melistriki atau mencapai rasio elektrifikasi 100 persen. "Supaya jangan sampai ada lubang dari daerah tertentu yang belum teraliri listrik. Rasio elektrifikasi ini yang akan terus kita kejar," ucapnya.

Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) Gong Matua Hasibuan mengatakan, komitmen PLN sebagai BUMN adalah menghadirkan listrik dari Sabang sampai Merauke. Menurut dia, buku yang ditulis Eko Sulistyo itu merupakan buku pertama yang menjelaskan bisnis listrik dengan sangat keras.

"Keras dalam arti dengan menggunakan berbagai mesin, transmisinya tinggi, dan karena kami harus melayani masyarakat 24 jam. Barangkali selama ini kami hanya fokus tentang bagaimana menyediakan listrik. Ternyata, ada bahasa yang lebih lugas, terlihat dalam buku ini, yang mungkin bisa kita jelaskan kepada para pelanggan tentang semua kesulitan yang kita hadapi dalam menyediakan listrik. Sehingga kita bisa mendapatkan dukungan yang lebih besar lagi dari para stakeholder dan seluruh pelanggan," jelasnya.

Seperti misalnya ketika listrik padam yang membuat pelanggan kebingungan, padahal PLN sedang berusaha memperbaiki. Melalui buku itu, PLN akan berusaha membangun komunikasi yang berbeda dari yang selama ini dilakukan agar masyarakat bisa lebih memahami.

Sementara itu, Dekan FIB Unair Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum yang menjadi salah satu narasumber menyambut baik dan sangat gembira atas terbitnya buku tersebut. Sebab, kata dia, dalam kajian sejarah, diskografi tentang kelistrikan sangat jarang ditemukan. Padahal, relevansi kajian sejarah dengan kelistrikan saat ini sangat erat.

Dia mengatakan, Surakarta merupakan kawasan kerajaan Jawa yang dianggap sebagai kota tradisional. Namun, justru kota itu berubah total dengan hadirnya listrik. Berbagai perubahan terjadi. Dulu, sebelum listrik hadir, penerangan sangat bergantung pada obor dan gas yang sangat terbatas. Dengan adanya listrik yang begitu cepat berkembang, Kota Solo menjadi terang benderang. "Ini kemudian berdampak sangat banyak. Di balik kota yang terang itu, ternyata ada dampak multi. Inilah mengapa listrik begitu menyedot perhatian masyarakat atas dampak yang ditimbulkan," ujarnya.

Listrik yang dipasang di Kota Solo sebagai jantung tradisi terbesar di Indonesia berhasil mendobrak suasana tradisional tersebut dengan kemodernan. Karena itu, berbagai perangkat, terutama perangkat komunikasi, yang sangat luar biasa saat ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik jika tak ada listrik. Listrik mampu menghubungkan manusia dengan jarak yang sangat jauh menjadi sangat dekat. Jaringan komunikasi itu dapat terlaksana berkat adanya listrik.

Sekjen Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KPAT) Ahmad Fahrudin yang turut hadir dalam diskusi tersebut menambahkan, keraton mempunyai semangat untuk mandiri. Semangat itu dapat terus dikembangkan untuk seterusnya. Masyarakat bisa belajar bagaimana renewable energi tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga semangat untuk menerangi seluruh negeri bisa tercapai. Menurut dia, buku itu sangat bagus.

"Kita menganggap kita mungkin orang awam yang buta sejarah. Selama ini tidak mengetahui perkembangan listrik di Indonesia. Dengan buku ini, kita dapat gambaran bagaimana listrik dimulai di Indonesia, mulai zaman kolonial, masuknya Belanda, pertumbuhan industri, itu dapat kita pelajari," tuturnya.

Acara diakhiri dengan pemberian plakat yang diserahkan oleh Eko Sulistyo kepada Purnawan secara simbolis sebagai bentuk kepedulian PLN kepada masyarakat.
EDITOR: Mohamad Nur Asikin