← Beranda

Stadion Palaran, Warisan Megah PON yang Kini Terbengkalai

Estu SuryowatiKamis, 24 Mei 2018 | 14.30 WIB
Wajah megah Stadion Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, yang kini tak terawat.

JawaPos.com - Sudah hampir tiga tahun terakhir perawatan Stadion Utama Palaran, sangat minim. Kerusakan fasilitas nampak di sejumlah sisi stadion.


Kondisi ini sangat ironis, sebab ia pernah menjadi ikon kebanggaan Benua Etam. Sepuluh tahun lalu saat Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON), pemerintah sangat bersemangat membangun stadion utama ini.


Kemarin Rabu (23/5), Kaltim Post (Jawa Pos Grup) mendatangi kompleks olahraga yang dilengkapi sejumlah fasilitas olahraga berstandar internasional itu. Ironisnya, ketika memasuki kompleks stadion, koran ini sudah disambut dengan jalan yang rusak. Bahkan tergenang air berwarna kecokelatan.


Akses menuju stadion yang tersusun dari paving block tertutup rumput liar. Sehingga riskan untuk dilewati pengendara motor atau mobil. Kondisi tak jauh beda juga dapat disaksikan ketika memasuki tribune stadion.


Jika diperhatikan, kursi tribune dengan kapasitas 67 ribu penonton itu berwarna dasar biru, hijau, dan kuning. Namun, kini tampak memudar. Bahkan, kursi juga ditumbuhi rumput liar.


Tidak hanya itu, kursi tampak berlumut dan rusak. Kondisi itu diduga sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Sehingga tidak layak digunakan.


Di sudut bangunan stadion, banyak tanaman liar yang hidup dan tumbuh. Tentu merusak kemegahan, apalagi warna dinding juga tak elok dipandang. Sebab, telah berubah warna menjadi kehijau-hijauan karena lumut yang menempel.


Padahal, selain PON 2008, stadion yang dibangun dengan anggaran hampir Rp 1 triliun itu pernah menggelar kejuaraan sepak bola Piala Gubernur Kaltim, Februari lalu.


Menurut Kepala Pengelola Stadion Utama Palaran Hasbar, sejak dua tahun terakhir, anggaran hanya dialokasikan untuk perawatan lanskap stadion. "Termasuk perawatan rumput dan taman stadion," kata Hasbar dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Kamis (24/5).


Meski begitu, Hasbar tak menampik masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terutama membersihkan rumput liar di area stadion. "Perawatan lanskap sudah terjadwal untuk seluruh area stadion. Tetap saja kami terkendala anggaran," katanya.


"Apalagi pekerja hanya berjumlah 10 orang. Sementara kompleks stadion memiliki seluas 88 hektare," keluh Hasbar.


Dia juga tak tahu sampai kapan kerusakan fasilitas stadion tersebut bisa diperbaiki. Hal itu mengingat keuangan daerah juga belakangan lagi minim.


"Tiga tahun lalu ada pengecatan. Tapi tidak menyentuh seluruh bangunan," imbuhnya.


Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Stadion Palaran Ednandar S Samad menambahkan, perawatan terakhir dilakukan pada 2016. Namun sampai sekarang tidak ada anggaran pemeliharaan khusus untuk stadion.


"Apalagi anggaran sebelumnya kecil. Terakhir perbaikan gedung serbaguna serta gedung lain hanya Rp 900 juta. Jelas kurang untuk mencakup seluruh area stadion," ucapnya.


Sebenarnya, lanjut dia, sekarang masalah di stadion itu pada sisi kebersihan. Memang ada biaya kebersihan Rp 1,2 miliar. Namun, anggaran itu untuk dua stadion, yakni, Stadion Madya Sempaja dan Stadion Utama Palaran.


"Sudah termasuk pemeliharaan gedung dan perawatan rumput. Sementara untuk Palaran, secara keseluruhan memiliki luas 88 hektare dan di Sempaja 4 hektare. Tentu tidak memadai," imbuh dia.


Apalagi, selama ini pemeliharaan dilakukan oleh pihak ketiga, terutama bagian cleaning service. Memerlukan Rp 1 miliar hanya untuk perawatan di Stadion Utama Palaran.


"Bagaimana untuk perawatan lainnya. Saya tidak dapat memprediksi nilainya," ungkap dia.


Masalah lain muncul, peminat kompleks olahraga di Stadion Utama Palaran itu kurang lantaran aksesnya jauh dari kota. Sementara yang menggunakan fasilitas olahraga di Palaran hanya Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim dan TNI yang berlatih berenang.


"Makanya akan sia-sia jika dirawat rutin," kata Ednandar.


Kendati demikian, jika ingin perbaikan fasilitas berjalan efektif, dia menyarankan Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Perumahan Rakyat (PUTRPR) Kaltim melakukan audit. Jadi, perencanaan bisa ditentukan.


"Saya tidak bisa menggambarkan anggarannya. Di sana ada tribune stadion, gedung bulu tangkis, gedung serbaguna, lapangan tenis, softball, panjat tebing, kolam renang, dan lain-lain. Semuanya perlu perawatan," paparnya.

EDITOR: Estu Suryowati