← Beranda

Berjuang Pasca Erupsi Semeru: Salim Gantikan Sekop dengan Wajan untuk Bertahan Hidup

Nur UlfainyySenin, 30 September 2024 | 23.42 WIB
Salim, salah satu warga terdampak erupsi Semeru yang kini meninggalkan sekop pasir dan beralih ke wajan penggorengan. (Nur Ulfainyy/Jawa Pos)

JawaPos.com - Salim, 35, warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, kini mahir mengolah adonan martabak di atas wajan. Dua tahun lalu, Salim adalah seorang pencari pasir yang setiap harinya bergulat dengan sekop dan cangkul di Gunung Semeru. Namun, setelah erupsi besar pada Desember 2021, hidupnya berubah drastis.

Erupsi yang membawa luncuran awan panas dan material vulkanik hingga setinggi 3 meter menghancurkan desa tempat tinggal Salim dan ribuan warga lainnya. Trauma dan kehilangan rumah membuat banyak warga harus mencari cara baru untuk bertahan hidup.

Salim adalah salah satu yang memilih beralih dari penambang pasir menjadi penjual martabak di depan rumahnya.

"Sudah enggak pengen cari pasir lagi, enak begini bisa kumpul terus sama keluarga," kata Salim, yang kini merasa lebih nyaman dengan pekerjaannya sebagai pedagang martabak.

Penghasilannya saat ini memang tidak menentu. Bisa mencapai Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu saat ramai, dan hanya Rp 200 ribu saat sepi. Tapi, Salim bersyukur bisa tetap menghidupi keluarganya.

Berjualan martabak juga memberinya kesempatan untuk selalu dekat dengan anak dan istri, sesuatu yang sulit ia dapatkan saat menjadi penambang pasir.

Sebelum berjualan martabak, Salim pernah bekerja sebagai penjual martabak di Surabaya. Pandemi COVID-19 membuatnya kembali ke Lumajang dan bekerja serabutan, termasuk mencari pasir.

Namun, trauma erupsi membuatnya enggan kembali ke pekerjaan lamanya. Kini, bersama dengan keluarga, dia menetap di hunian tetap yang dibangun pemerintah melalui Kementerian PUPR di atas tanah seluas 10x14 meter.

"Dulu sempat serabutan biar tetap ada penghasilan, tapi sekarang memilih jualan martabak," tambah Salim. Bagi Salim, kehidupan yang sekarang, meski lebih sederhana, lebih ia syukuri karena bisa terus bersama keluarga di rumah yang layak dan aman.

Raut wajahnya kini penuh harapan, jauh berbeda dibanding saat erupsi meluluhlantakkan kampungnya. Bencana tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi banyak warga, tapi mereka terus berjuang dan mencari jalan keluar untuk bertahan hidup.

Kisah Salim adalah salah satu dari banyak kisah warga yang bangkit dari keterpurukan setelah erupsi Gunung Semeru.

EDITOR: Dhimas Ginanjar