← Beranda

Pohon Beringin di Keraton Yogyakarta Ternyata Punya Nama-nama, Begini Sejarahnya

Bintang PradewoRabu, 10 Juli 2024 | 02.15 WIB
Menguak Cerita dibalik Keberadaan Pohon Beringin di Keraton Yogyakarta. (kratonjogja.id)

JawaPos.com - Puluhan pohon beringin ditanam di dalam kawasan Keraton Yogyakarta. Pohon beringin yang besar dan rimbun sebagai tanaman kerajaan. Ini merupakan ikon Keraton Yogyakarta dan sangat bersejarah.

Beberapa di antaranya bahkan memiliki nama. Salah satunya, keberadaan pohon beringin kembar di Alun-alun Utara.

Dilansir dari www.kratonjogja.id, kedua pohon tersebut diberi pagar berbentuk persegi, dan dinamai dengan ringin kurung melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya.

Beringin yang di sisi barat dikenal sebagai Kiai Dewadaru, sedang yang di sisi timur dikenal sebagai Kiai Janadaru.

Kiai Dewadaru yang berarti "cahaya ketuhanan", Dewa yang memiliki makna sifat-sifat ketuhanan dan daru yang memiliki arti cahaya.

Ditempatkan di sebelah barat sumbu filosofi di sisi yang sama dengan lokasi Masjid Gedhe sehingga berfungsi sebagai pusat keagamaan yang mana agama dipandang memiliki hubungan dengan sifat-sifat ketuhanan.

Sedangkan Kiai Janadaru, yang berarti "cahaya kemanusiaan", Jana yang berarti manusia dan daru yang berarti cahaya.

Ditempatkan di sebelah timur di sisi yang sama dengan pasar Gedhe atau Pasar Beringharjo sehingga berfungsi sebagai pusat ekonomi yang mana hal tersebut melambangkan sifat-sifat kemanusiaan.

Saat ini Kiai Janadaru lebih dikenal dengan nama Kiai Jayadaru. Keberadaan kedua pohon ini dihubungkan dengan keseimbangan dan keserasian hubungan antara keduanya.

Hal tersebut, sesuai dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti yang dianut Keraton Yogyakarta. Yaitu persatuan antara raja dan rakyat, serta kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan.

Selain Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru, ada 62 pohon beringin lainnya yang mengelilingi alun-alun. Ini melambangkan usia Nabi Muhammad SAW jika dihitung berdasarkan penanggalan Jawa.

Empat di antara pohon beringin yang mengelilingi alun-alun tersebut memiliki nama, dua di utara mengapit Jalan Pangurakan dan dua di selatan di depan Bangsal Pagelaran.

Dua pohon yang mengapit Jalan Pangurakan dikenal dengan nama Kiai Wok dan Kiai Jenggot. Kiai Wok di sisi barat, namanya berasal dari kata brewok. Sementara, Kiai jenggot ada di sisi timur, yang berasal dari kata janggut.

Sedangkan, dua pohon yang berada di depan Bangsal Pagelaran dikenal dengan Agung dan Binatur.

Agung berada di sisi timur melambangkan priyayi atau penguasa dan Binatur berada di sisi barat melambangkan kawula atau rakyat.

Selain itu, Pohon beringin juga dapat ditemui di Alun-Alun Selatan atau sering disebut Alkid (Alun-Alun Kidul) yang dinamakan Supit Urang, ada juga di Plataran Kemagangan, Plataran Kamandhungan Lor, dan Plataran Sitihinggil Lor.

Di Plataran Kemagangan, terdapat pohon beringin bernama Sri Makutha Raja yang ditanam saat Sultan Hamengku Buwono VIII bertahta.

Bagi masyarakat Jawa, pohon beringin melambangkan pohon hayat, yang mana memberikan kehidupan, pengayoman, dan perlindungan.

Pohon yang besar dan rimbun dianggap menimbulkan rasa gentar dan hormat. Penghormatan terhadap pohon beringin sudah ada sejak masa Mataram Islam dan terus dilestarikan hingga saat ini.

Pohon-pohon beringin di Keraton Yogyakarta menjadi simbol filosofis yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki makna mendalam tentang kepemimpinan, keharmonisan, dan hubungan spiritual.

EDITOR: Bintang Pradewo