← Beranda

Suhu Panas Landa Pusat-Pusat Pariwisata di Bali

AntaraSelasa, 25 Juni 2024 | 20.41 WIB
Ilustrasi wisatawan di Pantai Kuta, Badung, Bali.

JawaPos.com–Fenomena peningkatan suhu udara di wilayah perkotaan dibandingkan wilayah pedesaan atau urban heat island (UHI) melanda pusat-pusat pariwisata di Pulau Bali.

”Itu terjadi di pusat-pusat pariwisata, karena emisi karbon tinggi dan panasnya juga tinggi,” kata Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana I Nyoman Sunarta seperti dilansir dari Antara, Selasa (25/6).

Fenomena urban heat island yang kentara terjadi di Denpasar. Daerah itu memiliki pertumbuhan pembangunan yang lebih cepat ketimbang daerah lain di Bali.

Selain itu, Desa Canggu di Kabupaten Badung juga mengalami fenomena serupa akibat kemacetan lalu lintas terjadi setiap hari. Emisi karbon dan tingginya kepadatan lahan terbangun menyebabkan panas matahari menjadi lama tersimpan dan terperangkap di permukaan bumi.

”Sehingga menyebabkan pusat-pusat pariwisata memiliki suhu yang lebih hangat,” papar I Nyoman Sunarta.

Penelitian yang dilakukan pada 2001 hingga 2019 mengungkapkan bahwa peningkatan suhu di kawasan pariwisata dan perkotaan sebesar 0,1 derajat Celsius. Sedangkan di pedesaan hanya sebesar 0,06 derajat Celsius setiap tahun.

”Pengetahuan lokal harus dipertimbangkan di situ,” kata Sunarta.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa pengetahuan lokal sangat penting sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang kini terjadi di Bali.

Pengetahuan lokal menawarkan solusi yang holistik dan terintegrasi untuk pelestarian ekosistem laut dan pesisir. Sebab, menggabungkan aspek ekologis, sosial, dan budaya dalam satu kesatuan.

”Bila Bali ingin selamat, kita perlu kembali ke alam, tradisi, dan budaya,” kata Sunarta.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah