JawaPos.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berhasil memproduksi obat pereda rasa sakit bagi penderita kanker. Adalah Samarium (Sm) 153 EDTMP, sebuah radiofarmaka yang selama ini dihasilkan BATAN. Sm 153 EDTMP bisa menggantikan morphin yang kerap digunakan penderita kanker sebagai penghilang rasa sakit.
Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Rohadi Awaludin menerangkan, Sm 153 ETDMP merupakan hasil penelitian BATAN yang cukup berarti di bidang kesehatan. Obat ini bermanfaat untuk pengobatan terapi paliatif atau penghilang rasa sakit bagi penderita kanker.
"Untuk mengurangi rasa sakit itu secara konvensional mereka biasanya menggunakan obat-obatan analgesik atau penghilang rasa sakit seperti morphin. Namun hal ini tidak bertahan lama. Sedangkan apabila menggunakan Sm 153 EDTMP bisa bertahan 1-2 bulan," ujar Rohadi pada acara bincang sehat bertajuk Peningkatan Kualitas Hidup Survivor Kanker di Hotel UNS Inn, Solo, Sabtu (2/3).
Kelebihan lain dari Sm 153 ETDMP adalah tidak menimbulkan efek ketagihan atau fly. Berbeda halnya saat penderita kanker menggunakan morphin. Dengan mengkonsumsi obat ini, penderita kanker bisa beraktifitas secara normal tanpa terganggu rasa sakit. Sm 153 ETDMP sudah mulai diproduksi dan dijual di beberapa rumah sakit melalui PT Kimia Farma.
Saat ini, BATAN terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk peningkatan penguasaan teknologi nukli. Khususnya dalam memproduksi radiofarmaka.
“Selain Sm 153 EDTMP, BATAN juga menghasilkan kit radiofarmaka MIBI yang digunakan untuk mendeteksi fungsi jantung. Kit radiofarmaka MDP yang difungsikan untuk mengetahui adanya kanker tulang primer maupun metastase tulang. Kit radiofarmaka DTPA untuk mengetahui fungsi ginjal dan MIBG bertanda I-131 untuk terapi kanker neuroendokrin,” imbuhnya.
Tetapi ada beberapa kendala dalam produksi Sm 153 EDTMP. Salah satunya sifat radioaktif yang memiliki paro waktu cukup pendek. Sehingga produk harus segera digunakan setelah diproduksi dan tidak bisa disimpan dalam waktu lama.
Jadi dibutuhkan perencanaan produksi yang cermat. Salah satunya dengan memperhatikan sarana pengangkutan yang cepat. "Terutama untuk wilayah di luar Jakarta. Karena saat ini produksi radiofarmaka baru bisa dilakukan di Jakarta," ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Manager Pengembangan Bisnis Organik Kimia Farma Wida Rahayu berharap produk radiofarmaka ini dapat bersaing dengan barang impor. Satu lagi yang penting adalah kontinuitas ketersediaan produk dan stabilitas harga dapat dijaga.
“Kami berharap BATAN dan Kimia Farma akan terus berupaya meningkatkan kualitas produknya melalui inovasi yang berkesinambungan dan meningkatkan kapasitas produknya agar kontinuitas produk terjaga,” harap Wida.