← Beranda
7 Weton yang Disebut Punya Jalan Hidup Berliku, Namun Berakhir dengan Kemakmuran
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 23.53 WIB
seseorang yang derajatnya melangit (Freepik/prostock-studio)

JawaPos.com -- Kehidupan seseorang tidak selalu berjalan dalam kondisi yang sama. Ada masa ketika seseorang harus menghadapi berbagai kesulitan, tetapi ada pula saat ketika keadaan berubah menjadi lebih baik dan penuh kesempatan.

Dalam tradisi Jawa, perjalanan tersebut kerap dikaitkan dengan weton kelahiran. Weton merupakan gabungan antara hari dan pasaran kelahiran yang dalam primbon digunakan untuk menafsirkan karakter serta kecenderungan perjalanan hidup seseorang.

Sejumlah weton bahkan dipercaya memiliki pola kehidupan yang cukup unik. Pada fase awal, pemiliknya disebut harus melewati berbagai tantangan dan keterbatasan. Namun, setelah semakin dewasa, mereka dipercaya memiliki peluang untuk merasakan kehidupan yang lebih mapan.

Penafsiran tersebut merupakan bagian dari kepercayaan primbon Jawa dan bukan kepastian mengenai masa depan seseorang.

Dilansir dari kanal YouTube Ngaos Jawa, berikut tujuh weton yang disebut memiliki perjalanan nasib dari masa sulit menuju kehidupan yang lebih berkecukupan.

Baca Juga: Dikenal Gigih dan Berpendirian Teguh, 15 Weton Ini Konon Berpotensi Jadi Orang Berada

1. Senin Legi – Kesulitan Menjadi Pengalaman Berharga

Senin Legi sering digambarkan sebagai pribadi yang lembut, tetapi memiliki perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Sejak usia muda, mereka dipercaya dapat menghadapi berbagai keterbatasan dan persoalan.

Meski demikian, berbagai pengalaman tersebut justru dianggap membentuk mental yang lebih kuat. Kesabaran dan kemampuan bertahan menjadi modal penting ketika memasuki tahap kehidupan berikutnya.

Dalam penafsiran primbon, keberuntungan Senin Legi dipercaya mulai terlihat ketika memasuki usia yang lebih matang. Peluang usaha, pekerjaan, maupun sumber penghasilan baru disebut dapat bermunculan setelah melewati berbagai ujian.

2. Selasa Pahing – Perlahan Menemukan Jalan Rezeki

Pemilik weton Selasa Pahing dipercaya memiliki karakter kuat dan teguh. Namun, perjalanan awal mereka disebut tidak selalu mendapatkan apresiasi dari lingkungan.

Ada kalanya mereka merasa kurang diperhatikan atau harus menjalani kehidupan dengan penuh kemandirian. Situasi tersebut dipercaya membentuk ketangguhan dan membuat mereka terbiasa menghadapi keadaan tanpa banyak bergantung kepada orang lain.

Ketika memasuki usia dewasa, Selasa Pahing disebut memiliki peluang mendapatkan berbagai sumber rezeki. Bentuknya bisa berupa perkembangan usaha, aset, tempat tinggal, atau kesempatan lain yang datang secara tidak terduga.

3. Rabu Pon – Bangkit Setelah Melewati Masa Sulit

Rabu Pon kerap digambarkan sebagai weton dengan perjalanan hidup yang penuh dinamika. Persoalan pekerjaan, hubungan, maupun kondisi kehidupan bisa saja menjadi ujian yang harus mereka hadapi.

Namun, mereka dipercaya memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit. Pengalaman tersebut membuat pemilik Rabu Pon semakin matang dalam menentukan langkah.

Dalam penafsiran primbon, perubahan kondisi dipercaya mulai terasa ketika usia bertambah. Kesuksesan dapat muncul melalui usaha pribadi, pekerjaan, maupun ide yang awalnya terlihat sederhana tetapi kemudian berkembang.

4. Kamis Wage – Sabar Menghadapi Keterbatasan

Kamis Wage sering dikaitkan dengan karakter pekerja keras dan sederhana. Pemilik weton ini dipercaya dapat mengalami keterbatasan dalam perjalanan hidupnya, termasuk harus menunda sejumlah keinginan karena kondisi ekonomi.

Meski begitu, mereka dikenal tidak mudah menyerah. Kesabaran dan ketekunan dianggap menjadi kekuatan yang secara perlahan membuka kesempatan baru.

Menurut penafsiran primbon, kehidupan Kamis Wage dapat menjadi lebih stabil ketika memasuki usia matang. Setelah berkeluarga atau memiliki fondasi kehidupan yang lebih kuat, mereka dipercaya berpeluang menikmati kondisi finansial yang lebih baik dan bahkan membantu orang di sekitarnya.

5. Jumat Kliwon – Melewati Tekanan Menuju Kesuksesan

Jumat Kliwon merupakan salah satu weton yang sering mendapat perhatian dalam berbagai pembahasan primbon Jawa. Pemiliknya dipercaya memiliki karakter kuat, tetapi perjalanan hidupnya dapat diwarnai berbagai tekanan.

Mereka disebut mampu mengalami fase kehidupan yang penuh ketidakpastian. Namun, pengalaman tersebut dipercaya justru membangun ketahanan mental dan membuat mereka semakin siap menghadapi tantangan.

Ketika kesempatan datang, Jumat Kliwon disebut mampu memanfaatkannya dengan baik. Perkembangan bisnis, peningkatan karier, maupun kepercayaan dari orang lain dipercaya dapat menjadi jalan menuju kondisi yang lebih mapan.

6. Sabtu Pon – Ditempa Kehidupan Sebelum Menikmati Hasil

Sabtu Pon kerap digambarkan sebagai weton yang harus melewati proses panjang sebelum merasakan keberuntungan. Masa muda mereka dipercaya dapat diwarnai perjuangan, mulai dari merantau hingga menghadapi kegagalan dalam pekerjaan atau usaha.

Berbagai pengalaman tersebut diyakini membentuk karakter yang lebih kuat. Mereka menjadi terbiasa menghadapi persoalan dan tidak mudah menyerah ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.

Dalam penafsiran primbon, peluang Sabtu Pon disebut semakin terbuka ketika memasuki usia matang. Kesuksesan usaha, peningkatan kedudukan, hingga bertambahnya aset dipercaya dapat terjadi setelah melewati proses yang panjang.

7. Minggu Legi – Dari Dipandang Sebelah Mata Menuju Kemapanan

Minggu Legi dipercaya mempunyai perjalanan hidup yang penuh perubahan. Pada fase awal, mereka dapat menghadapi keterbatasan atau kurang mendapatkan penghargaan dari lingkungan sekitar.

Namun, karakter murah hati dan suka membantu menjadi salah satu sifat yang sering dikaitkan dengan weton ini. Sikap tersebut dipercaya dapat membuat mereka memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang.

Dalam penafsiran primbon, keberuntungan Minggu Legi disebut dapat semakin terlihat seiring bertambahnya usia. Kehidupan yang sebelumnya sederhana dipercaya dapat berubah menjadi lebih berkecukupan, termasuk memiliki aset dan mendapatkan penghormatan dari lingkungan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho