JawaPos.com – Psikologi membedakan dengan jelas antara seseorang yang rentan secara emosional dan seseorang yang memang lemah emosional dalam cara mereka merespons kehidupan.
Tanda-tanda kelemahan emosional paling mudah dikenali melalui ucapan-ucapan berulang yang mencerminkan ketidakmampuan mengambil tanggung jawab atas diri sendiri.
Orang yang lemah emosional cenderung egois dan belum melakukan kerja batin yang diperlukan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (30/5), berikut sebelas ucapan yang hampir selalu diulang oleh orang-orang yang lemah emosional berdasarkan sudut pandang psikologi.
1. "Kayaknya aku memang orang yang buruk"
Orang yang lemah emosional tidak tahu cara melewati rasa tidak nyaman yang muncul saat menerima kritik atau umpan balik yang tidak menyenangkan.
Profesor Thomas G. Plante menjelaskan bahwa kritik sering dirasakan sebagai serangan terhadap harga diri, sehingga orang cenderung membelokkannya demi melindungi ego.
2. "Kamu terlalu sensitif"
Orang yang lemah emosional sering memproyeksikan karakteristik yang mereka sembunyikan dalam diri sendiri kepada orang-orang di sekitar mereka.
Daripada mengakui bahwa mereka mungkin sudah bertindak terlalu jauh, mereka lebih memilih menyalahkan orang lain atas reaksi yang sebenarnya wajar.
3. "Semua orang selalu meninggalkan aku"
Orang yang mengucapkan frasa ini memandang diri mereka sebagai korban permanen dan tidak mampu melihat peran mereka sendiri dalam hubungan yang berakhir.
Terapis Nancy J. Kislin menjelaskan bahwa menyalahkan orang lain sepenuhnya hanya menghalangi pertumbuhan dan membuat seseorang terus mengulangi pola hubungan yang sama.
4. "Kenapa ini selalu terjadi padaku?"
Cara seseorang memandang kesulitan yang datang menentukan apakah mereka akan berkembang atau terus tenggelam dalam pola pikir yang melemahkan.
Orang yang lemah emosional larut dalam ketidakberdayaan ketika menghadapi situasi buruk, alih-alih melihatnya sebagai pelajaran hidup yang berharga.
5. "Kalau kamu peduli, kamu pasti tahu"
Frasa ini digunakan sebagai alat kontrol untuk membuat orang lain merasa bersalah atas sesuatu yang tidak pernah dikomunikasikan secara jelas.
Psikolog berlisensi Lynn Margolies menegaskan bahwa rasa hormat terhadap batasan orang lain justru melindungi hubungan dari kebencian dan jarak emosional.
6. "Aku tidak butuh siapapun"
Mengisolasi diri sambil mengklaim tidak membutuhkan orang lain justru melemahkan ketahanan emosional, bukan memperkuatnya.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan koneksi untuk berkembang, dan menolak hal ini hanya akan memperparah kondisi emosional seseorang dari waktu ke waktu.
7. "Kamu yang membuatku melakukan ini"
Ucapan ini adalah cara klasik untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan sendiri dengan mengalihkan kesalahan sepenuhnya kepada orang lain.
Profesor sosiologi Thomas Henricks menjelaskan bahwa ketergantungan pada atribusi yang salah ini tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga menyakiti orang lain.
8. "Tidak ada yang mengerti aku"
Orang yang lemah emosional cenderung tenggelam dalam perasaan tidak dipahami meski orang-orang di sekitar mereka sudah berusaha keras untuk hadir.
Mereka tidak menyadari betapa menyakitkannya ucapan tersebut bagi orang-orang yang selama ini berjuang sungguh-sungguh untuk memahami dan mendukung mereka.
9. "Tidak ada yang menghargai aku"
Terapis kognitif Joanna Grover menjelaskan bahwa mengelola pikiran seperti melatih otot fisik, karena konsistensi membangun ketahanan emosional dari dalam.
Terus tenggelam dalam perasaan tidak dihargai tanpa berusaha mengkomunikasikan kebutuhan secara terbuka hanya akan memperburuk kondisi emosional seseorang.
10. "Enak ya jadi kamu"
Psikolog Mark Travers menjelaskan bahwa respons pasif-agresif seperti ini jarang menyelesaikan masalah dan justru cenderung memperburuk situasi yang ada.
Orang yang lemah emosional tidak mampu mengendalikan rasa iri sehingga melampiaskannya dengan cara yang perlahan merusak persahabatan dan hubungan penting.
11. "Aku tidak pernah bisa melakukan apapun dengan benar"
Saat menghadapi kesalahan, orang yang lemah emosional memilih tenggelam dalam keputusasaan daripada belajar dan bangkit dari pengalaman tersebut.
Dengan ego yang terluka dan tidak ada keinginan untuk bertumbuh, mereka membiarkan setiap kegagalan kecil menjadi alasan untuk terus diam di tempat.
***