JawaPos.com – Banyak pria terlihat percaya diri saat pertama kali bertemu, tetapi psikologi mengungkap ada tanda-tanda halus yang bisa menunjukkan bahwa mereka sebenarnya menyimpan ego besar dan mental yang rapuh.
Dalam lima menit pertama, biasanya bisa terlihat dari cara mereka berbicara, gestur tubuh, hingga reaksi terhadap hal kecil.
Pria dengan ego tinggi namun mental lemah sering kali berusaha mendominasi percakapan, tapi tidak nyaman ketika mendapat sedikit kritik.
Psikologi menekankan bahwa pengenalan cepat ini penting agar kamu bisa lebih waspada dalam menilai karakter seseorang.
Jangan terkecoh oleh tampilan luar, karena lima menit pertama bisa jadi cukup untuk membaca sisi dalam seorang pria.
Dilansir dari geediting.com pada Senin (22/9), bahwa ada lima tanda kenali pria dengan ego dan mental lemah di lima menit pertama.
- Mendominasi percakapan dengan pamer pencapaian
Dalam 60 hingga 90 detik pertama pertemuan, perhatikan bagaimana dia merespons perkenalan sederhana yang kamu berikan.
Ketika kamu mencoba memperkenalkan diri atau berbagi sesuatu tentang diri kamu, dia langsung mengalihkan pembicaraan ke dirinya sendiri dengan cara yang mencolok.
Dia akan memotong pembicaraan kamu dan mulai menceritakan prestasi-prestasinya, atau melakukan "topic-shifting" di mana setiap topik yang kamu bawa selalu dihubungkan kembali ke kesuksesannya.
Contohnya, ketika kamu menyebutkan bahwa kamu suka berlari, dia akan langsung menyela dengan berkata bahwa dia pernah menyelesaikan marathon dalam waktu di bawah 3 jam tahun lalu.
Pola ini disebut sebagai narcissistic conversational, yaitu kebiasaan memberikan "shift-response" yang mengalihkan perhatian ke diri sendiri alih-alih memberikan "support-response" yang tetap fokus pada lawan bicara.
Perilaku ini muncul karena dia memiliki kebutuhan mendesak untuk mendapatkan pengakuan dan kekaguman secara cepat ketika harga dirinya terasa goyah.
Cara terbaik merespons adalah dengan memberikan pengakuan singkat seperti "bagus, sepertinya kamu sudah berlatih keras" lalu mengarahkan kembali ke topik bersama dengan bertanya "apa yang membuatmu tertarik dengan lari?"
- Bereaksi berlebihan terhadap perbedaan pendapat kecil
Pada menit ke-2 atau ke-3 percakapan, cobalah memberikan pandangan alternatif yang tidak berbahaya atau koreksi ringan untuk melihat reaksinya.
Ketika kamu menyampaikan pendapat berbeda seperti "aku lebih suka restoran yang berbeda" atau memberikan koreksi kecil, dia akan menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok.
Suaranya akan mengeras, dia akan mulai memberikan justifikasi berlebihan, atau bahkan melontarkan komentar tajam yang terasa menyerang.
Perubahan ini mungkin terasa halus, tetapi kamu akan merasakan suasana menjadi tegang hanya karena hal sepele.
Reaksi berlebihan ini terjadi karena individu dengan harga diri yang tidak stabil cenderung mengalami kemarahan dan keinginan untuk menyerang balik ketika mereka merasa tertantang.
Ini bukan menunjukkan rendah diri, melainkan harga diri yang tinggi namun goyah yang merasa terancam ketika mendapat sedikit kritik atau perbedaan pendapat.
Cara terbaik menghadapinya adalah dengan tidak ikut meningkatkan ketegangan dan menggunakan bahasa yang tidak personal seperti "perbedaan selera membuat hidup lebih menarik."
- Memberikan dalih sebelum diminta
Sejak awal pertemuan, perhatikan apakah dia sering memberikan disclaimer atau alasan pembenaran sebelum ada yang memintanya.
Sebelum ada yang menanyakan atau meminta sesuatu darinya, dia akan menyebarkan berbagai alasan seperti "aku buruk dalam mengingat nama," "aku capek hari ini," atau "aku tidak persiapan untuk ini."
Dalam lima menit pertama, kamu mungkin mendengar dua atau tiga bantalan preventif semacam ini yang dilontarkan tanpa diminta.
Perilaku ini disebut self-handicapping, yaitu menciptakan atau mengklaim adanya hambatan di muka agar jika terjadi kesalahan, hal tersebut tidak akan dianggap mencerminkan kemampuan aslinya.
Orang melakukan ini untuk melindungi harga diri ketika mereka tidak yakin dengan performa atau citra mereka di mata orang lain.
Studi klasik menunjukkan bahwa partisipan akan memilih opsi yang justru menghambat performa mereka ketika kemampuan mereka diragukan, tepat untuk melindungi harga diri jika mereka gagal.
Respons terbaik adalah dengan menormalkan ketidaksempurnaan dengan berkata "santai saja, ini kan kasual" dan beralih ke hal spesifik seperti "nama apa yang ingin aku ingat?"
- Tidak pernah bertanya dengan tulus
Pada menit ke-3 atau ke-4, amati apakah dia jarang menindaklanjuti komentarmu dengan rasa ingin tahu yang genuine.
Alih-alih menunjukkan ketertarikan pada apa yang kamu katakan, dia justru terus memberi sinyal status melalui jam tangan, jaringan pertemanan, harga barang, atau tempat eksklusif yang pernah dia kunjungi.
Bahkan ketika dia bertanya sesuatu, pertanyaan tersebut sering kali hanya menjadi batu loncatan untuk kembali memamerkan dirinya sendiri.
Kamu akan menyadari bahwa dia tidak benar-benar tertarik mendengar jawabanmu, melainkan hanya menunggu giliran untuk berbicara tentang dirinya lagi.
Perilaku ini muncul karena harga dirinya sangat bergantung pada persetujuan, citra, dan performa, sehingga dia terus mengejar penanda eksternal untuk validasi.
Dia sangat sensitif terhadap feedback dan cenderung menghindari situasi yang tidak memberikan validasi yang dia butuhkan.
Cara menghadapinya adalah dengan mengarahkan ke substansi dengan bertanya "apa yang kamu suka dari bidang/jam tangan/kota itu?" untuk melihat apakah dia bisa beralih dari sekedar memberi sinyal ke berbagi makna yang lebih dalam.
- Merendahkan orang lain dan tidak bisa menerima candaan
Pada menit ke-4 atau ke-5, perhatikan apakah dia sering melontarkan sindiran halus terhadap rekan kerja yang tidak hadir, mengejek orang asing, atau melakukan permainan superioritas halus.
Dia mungkin berkata "kebanyakan orang tidak mengerti hal ini" atau membuat perbandingan yang menempatkan dirinya di posisi lebih tinggi dari orang lain.
Ketika kamu mencoba menggodanya dengan ringan, dia akan kaku atau langsung membalas dengan keras, menunjukkan bahwa dia tidak bisa tertawa untuk dirinya sendiri.
Dia tampak terdorong untuk melakukan perbandingan ke bawah, yaitu mencari orang yang terlihat lebih buruk darinya agar merasa lebih baik.
Perbandingan sosial ke bawah ini adalah cara defensif untuk mengatur harga diri dengan merasa lebih baik melalui kontras dengan seseorang yang dianggap "di bawah" dirinya.
Pola ini sering muncul ketika dia merasa terancam dan biasanya terjadi bersamaan dengan gerakan protektif lainnya terhadap harga dirinya.
Cara terbaik menghadapinya adalah tetap bersikap baik namun tegas dengan berkata "aku berusaha tidak membicarakan orang yang tidak ada di sini" dan lihat apakah dia menyesuaikan diri atau malah mencari target baru untuk dikritik.
***