← Beranda
Tiga Weton Bertulang Wangi: Dihormati Makhluk Halus, Dijauhkan dari Gangguan Gaib, dan Diberkahi Kekuatan Spiritual
Zulfa Putri HardiyatiKamis, 14 Agustus 2025 | 14.43 WIB
ilustrasi weton beruntung. (freepik)

JawaPos.com - Dalam jagat kepercayaan Jawa, tidak semua manusia dilahirkan dengan aura yang biasa-biasa saja. Ada kelahiran yang membawa pengaruh besar, tidak hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam gaib yang tak kasat mata.

Di antara banyaknya kelahiran weton, ada tiga yang dianggap istimewa karena diyakini memiliki apa yang disebut tulang wangi atau balung kuning, sebuah pancaran spiritual dari dalam diri yang mampu membuat makhluk halus tunduk tanpa perlawanan.

Fenomena tulang wangi bukan hanya mitos semata dalam kebudayaan Jawa, melainkan bagian dari kepercayaan yang diwariskan turun-temurun lewat kitab primbon.

Tulang wangi dianggap berada di sekitar bagian rusuk, menjadi simbol dari kekuatan batin yang tidak semua manusia miliki. Hanya mereka yang terlahir dalam weton tertentu saja yang diyakini membawa anugerah ini.

Keberadaan tulang wangi menjadikan seseorang lebih kuat secara spiritual, lebih tenang menghadapi gangguan tak kasat mata, bahkan tak jarang, justru membuat makhluk gaib menjauh atau tunduk.

Menurut pemaparan kanal YouTube Primbon Cirebon, berikut adalah tiga weton yang dipercaya memiliki tulang wangi:

1. Senin Pahing – Si Sensitif yang Disakralkan Alam Gaib

Weton Senin Pahing dalam primbon dikenal sebagai pribadi yang peka secara spiritual. Mereka memiliki tubuh yang sering dianggap mudah sakit atau lemah secara fisik, namun justru inilah salah satu pertanda dari kekuatan batin yang besar.

Makhluk halus konon enggan mendekati mereka karena aura yang dipancarkan dari tulang wangi-nya.

Ada semacam pengaruh alami dari tubuh mereka yang menggetarkan dunia gaib, membuat entitas tak kasat mata merasa waspada, bahkan takut. Dalam keseharian, Senin Pahing juga dikenal sebagai sosok yang memiliki insting kuat dan sering mengalami firasat atau mimpi yang mengandung makna tersembunyi.

2. Kamis Wage – Si Perasa Halus dengan Indra Keenam

Pemilik weton Kamis Wage dipercaya sering mengalami mimpi yang seolah menjadi isyarat atau penglihatan dari masa depan. Mimpi-mimpi ini bukan sembarangan, karena acap kali menjadi dejavu atau peringatan sebelum kejadian penting terjadi.

Mereka yang terlahir di Kamis Wage disebut-sebut memiliki semacam pengawal gaib, yang bertugas memberi perlindungan dari berbagai serangan energi negatif. Kepekaan inilah yang membuat mereka bisa "membaca" situasi dan energi tempat, dan karena tulang wangi yang mereka miliki, keberadaan mereka jarang diganggu oleh makhluk halus. Justru sebaliknya, banyak entitas gaib menjauh karena merasa kalah kuat secara aura.

3. Selasa Legi – Sang Ksatria Gaib Berjiwa Tangguh

Selasa Legi adalah weton yang dianggap membawa kekuatan spiritual paling tinggi di antara ketiganya. Mereka yang lahir di hari ini sering digambarkan dalam primbon sebagai sosok yang berwibawa, teguh, dan memiliki pelindung dari dimensi gaib.

Tulang wangi pada weton ini membuat mereka tidak hanya kebal terhadap gangguan makhluk halus, tetapi juga menjadikan mereka sebagai titik kekuatan dalam keluarga.

Bahkan dalam beberapa kisah, keberadaan Selasa Legi dipercaya bisa menenangkan suasana rumah atau tempat yang rawan gangguan halus. Mereka adalah figur pelindung yang memiliki karisma tak terlihat namun terasa.

Tentu saja, semua ulasan ini bersumber dari kepercayaan dan warisan leluhur yang penuh makna spiritual. Tidak semua orang diwajibkan untuk mempercayainya, namun banyak pula yang merasa cocok dan menemukan ketenangan dalam mempercayai primbon.

Yang paling penting adalah mengingat bahwa segala sesuatu tetap kembali kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya Dia-lah sumber segala kekuatan dan penjagaan sejati.

Maka dari itu, bagi siapa saja yang terlahir dengan weton-weton ini, anggaplah sebagai pengingat akan tanggung jawab batin dan spiritual yang lebih besar. Sebab semakin kuat aura yang dibawa, semakin besar pula peran untuk membawa ketenangan dan perlindungan bagi lingkungan sekitar.

EDITOR: Hanny Suwindari