JawaPos.com - Kita hidup di era “optimalkan segalanya”—karier, pola tidur, makronutrisi, rutinitas kesadaran diri.
Tapi begini: banyak orang yang sudah hidup selama tujuh dekade menoleh ke masa lalu dan hanya bisa geleng-geleng kepala atas hal-hal yang dulu sempat jadi obsesi.
Lewat wawancara dan refleksi dari mereka yang sudah melewati banyak musim kehidupan, terkumpul sembilan hal yang paling sering mereka harap bisa dikurangi tekanannya saat masih berusia 30-an.
Spoiler: banyak di antaranya bukanlah beban nyata. Hanya tekanan sosial yang terlalu keras menggonggong. Dilansir dari VegOut, berikut ini daftarnya.
Baca Juga: 9 Hal yang Tidak Pernah Diposting oleh Perempuan Berkelas di Media Sosial
1. Mengejar Jenjang Karier yang “Tepat”
Tekanan untuk “maju” di usia 30-an terasa seperti wajib hukumnya: gelar yang tepat, jabatan yang naik terus, milestone karier yang harus dicapai sebelum ulang tahun berikutnya.
Namun seorang mantan eksekutif berusia 74 tahun berkata, “Saya tiga kali ganti karier. Setiap kali merasa itu kesempatan terakhir. Ternyata, tidak satu pun yang benar-benar ‘terakhir’.”
Karier sering kali lebih mirip panjat tebing daripada naik tangga. Bergerak ke samping bisa sama pentingnya dengan naik ke atas. Dan kadang, tangga itu bersandar di bangunan yang salah.
Yang penting bukan apa yang sudah dilakukan, tapi apa langkahmu selanjutnya.
2. Apakah Semua Orang Menyukaimu
Baca Juga: Intip 6 Shio yang Memiliki Nasib Paling Hoki di Awal Bulan Agustus 2025, Siap-Siap Mimpi Terwujud!
Di usia 30-an, banyak orang merasa sangat sadar akan penilaian—baik di tempat kerja, lingkungan pertemanan, maupun keluarga.
Namun menurut seorang pensiunan guru berusia 80 tahun, “Ketika kamu setua saya, kamu sadar bahwa kebanyakan orang tidak terlalu memikirkan kamu seperti yang kamu kira.”
Keinginan untuk disukai semua orang hanyalah lari tanpa garis akhir. Lebih baik disukai oleh segelintir orang karena jadi diri sendiri, daripada lelah menyesuaikan diri dengan ekspektasi yang terus berubah.
3. Tubuh yang Tidak Terlihat “Sempurna”
Meski sudah makan sehat, rutin olahraga, dan menjaga pola hidup, tetap saja ada standar tubuh ideal yang terus menghantui. Perut kurang rata, kulit kurang bersih, dan seterusnya.
Tapi seorang pria berusia 72 tahun yang ditemui saat berlibur di Portugal mengatakan ini: “Saya menghabiskan bertahun-tahun khawatir bagaimana tampak saat pakai baju renang. Sekarang, saya cuma berharap dulu saya lebih sering berenang.”
Tubuh bukan pajangan media sosial. Tubuh adalah kendaraan untuk menikmati hidup.
4. Belum Punya Rumah di Usia Tertentu
Punya rumah sering dianggap sebagai tanda “sudah berhasil”. Tapi banyak orang tua mengatakan mereka berharap bisa lebih santai soal target itu.
Menurut psikolog keuangan Dr. Brad Klontz, mengejar simbol status seperti rumah justru bisa menjauhkan orang dari gaya hidup yang sebenarnya mereka inginkan.
Menyewa bukan berarti gagal. Membeli lebih lambat bukan berarti ketinggalan. Bisa jadi kamu sedang memprioritaskan fleksibilitas hidup dan itu sepenuhnya sah.
5. Merasa “Tertinggal”
Tertinggal dari siapa, sebenarnya? Seorang seniman berusia 78 tahun pernah bertanya balik begitu saat ditanya soal rasa tertinggal. Karena sejujurnya, tidak ada garis start dan finish yang seragam.
Orang lanjut usia tidak mengingat siapa yang menikah duluan atau siapa yang jadi manajer lebih cepat. Mereka ingat siapa yang baik. Siapa yang tetap penasaran. Siapa yang jujur pada dirinya sendiri, meskipun itu tidak sedang tren.
Karakter lebih membekas daripada kronologi.
6. Membuat Semua Orang Nyaman
Ini tantangan besar, apalagi bagi yang tumbuh dengan ajaran “jangan bikin orang lain tidak enak.” Namun orang-orang di usia 70-an justru berharap mereka lebih berani menetapkan batasan.
Seorang perempuan berusia 75 tahun berkata, “Kami diajari untuk memastikan semua orang merasa nyaman. Tapi tidak ada yang memberi hadiah karena tidak pernah jujur pada diri sendiri.”
Terkadang, ketidaknyamanan adalah tanda bahwa kamu mulai jujur.
7. Harus Punya Rencana Hidup yang Solid
Usia 30-an sering terasa seperti deadline untuk punya rencana hidup lengkap.
Padahal, banyak orang baru menemukan apa yang benar-benar mereka sukai di usia 40-an, 50-an, bahkan 60-an.
Menurut psikolog Stanford Laura Carstensen, seiring bertambahnya usia, emosi positif meningkat, dan orang jadi lebih fokus pada makna hidup.
Artinya? Hidup tidak menurun setelah usia 30. Justru mulai terbuka.
8. Terus-Menerus Membandingkan Diri
Perbandingan diri bisa jadi racun paling tenang. Dan di era media sosial, efeknya makin intens.
Namun perbandingan sudah ada sejak lama. Seorang musisi pensiunan bercerita, “Di tahun 70-an pun kami membandingkan kontrak, tur, dan tampil di TV. Sama saja—platformnya beda.”
Hidup bukan kompetisi estafet. Semakin sibuk melihat pencapaian orang lain, semakin sedikit energi untuk membangun hidup sendiri.
9. Menganggap Kesalahan Adalah Akhir Dunia
Kesalahan di usia 30-an sering terasa fatal. Seolah-olah semuanya runtuh karena satu keputusan keliru.
Tapi orang-orang yang sudah menua melihat kesalahan sebagai titik balik, bukan akhir.
Seorang pria berusia 82 tahun bercerita, “Kesalahan terbesar dalam karier saya justru mendorong saya membuka perusahaan sendiri. Saat itu terasa seperti bencana. Ternyata titik awal.”
Penyesalan bisa menjadi guru yang baik kalau kita membiarkannya memberi pelajaran, bukan luka yang membekas.
Kebanyakan hal yang membuat stres di usia 30-an ternyata hanyalah bayangan yang dibesar-besarkan. Dan seiring bertambahnya usia, fokus mulai bergeser: dari pencapaian ke makna, dari validasi ke kedamaian.
Mungkin itulah yang disebut bertumbuh.