JawaPos.com - Banyak orang mengira pola makan atlet elite identik dengan suplemen, makanan berteknologi tinggi, atau menu khusus yang dirancang di laboratorium. Padahal, prinsip nutrisi yang diterapkan para atlet profesional ternyata sudah lama hadir dalam berbagai hidangan tradisional dari berbagai belahan dunia.
Vice President of Health and Wellness Herbalife Dr. Luigi Gratton mengatakan, makanan yang diwariskan secara turun-temurun dari berbagai negara justru telah memiliki konsep yang sejalan dengan kebutuhan gizi atlet. Makanan itu memenuhi keseimbangan karbohidrat, protein, lemak sehat, hingga penggunaan bahan pangan alami menjadi fondasi yang sama antara kuliner tradisional dan nutrisi olahraga modern.
"Selama puluhan tahun berkecimpung di bidang nutrisi olahraga, saya justru belajar bahwa makanan yang dahulu dimasak oleh nenek kita sesungguhnya jauh lebih dekat dengan prinsip nutrisi atlet elite daripada yang kita bayangkan," ujar Dr. Gratton kepada wartawan, Senin (3/8).
Baca Juga: Intip! Ramalan Finansial Zodiak Selasa 4 Agustus 2026: Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, dan Virgo
Berikut tujuh makanan tradisional dari berbagai negara yang ternyata menerapkan prinsip nutrisi ala atlet elite.
1. Bibimbap Korea, Menu Lengkap dalam Satu Mangkuk
Bibimbap menjadi contoh hidangan yang memenuhi konsep Performance Plate. Dalam satu porsi terdapat nasi sebagai sumber karbohidrat, aneka sayuran, daging sapi tanpa lemak sebagai protein, serta telur yang melengkapi kebutuhan gizi.
Kombinasi tersebut membuat bibimbap mampu menyediakan energi sekaligus membantu proses pemulihan setelah aktivitas fisik.
2. Huevos Rancheros Meksiko, Kaya Protein dan Karbohidrat
Hidangan khas Meksiko ini memadukan telur, kacang-kacangan, dan nasi. Kombinasi tersebut menghasilkan keseimbangan karbohidrat dan protein yang dibutuhkan tubuh sebelum maupun sesudah berolahraga. Selain bergizi, makanan ini juga mudah dicerna sehingga cocok dikonsumsi menjelang latihan.
3. Feijoada Brasil, Menu Pemulihan Setelah Aktivitas Berat
Feijoada merupakan semur kacang yang dipadukan dengan daging sapi dan daging babi yang dimasak perlahan. Menu ini kaya akan karbohidrat dan protein sehingga dinilai sejalan dengan prinsip nutrisi olahraga untuk membantu proses pemulihan tubuh setelah aktivitas intens.
4. Paella Spanyol, Sumber Energi Sebelum Bertanding
Paella mengombinasikan nasi, makanan laut atau ayam, sayuran, dan saffron dalam satu sajian. Komposisi tersebut menjadikannya sebagai menu yang ideal untuk memenuhi kebutuhan energi sebelum beraktivitas atau bertanding.
5. Hummus dan Kurma dari Timur Tengah
Hummus menyediakan protein nabati dari kacang arab dan lemak sehat dari tahini, sedangkan kurma menjadi sumber karbohidrat alami yang cepat diserap tubuh. Kurma juga mengandung kalium yang membantu menjaga keseimbangan cairan, sehingga sering menjadi pilihan sebelum melakukan aktivitas fisik.
6. Jollof Rice Afrika Barat, Perpaduan Gizi Seimbang
Jollof rice disajikan bersama ikan atau ayam panggang sehingga menghadirkan kombinasi karbohidrat, protein, serta berbagai vitamin dan mineral.
Hidangan ini menjadi contoh bahwa makanan sehari-hari masyarakat setempat telah memenuhi kebutuhan nutrisi yang mendukung performa tubuh.
7. Shakshuka Afrika Utara, Sarapan Tinggi Protein
Shakshuka terdiri atas telur yang dimasak bersama saus tomat dan rempah-rempah seperti jintan.
Menu ini kaya protein, vitamin, dan mineral sehingga cocok dikonsumsi sebagai sarapan sebelum beraktivitas maupun sebagai makanan setelah berolahraga.
Dr. Gratton menegaskan bahwa nutrisi olahraga tidak berarti meninggalkan budaya kuliner yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, prinsip utama yang perlu diterapkan adalah mengonsumsi makanan utuh dengan keseimbangan makronutrien, memperbanyak sayur dan buah berwarna-warni, menjaga hidrasi, serta menyesuaikan pola makan dengan tingkat aktivitas.
"Ketika Anda menyaksikan para pemain terbaik dunia berlaga, ingatlah bahwa makanan yang mereka konsumsi untuk mendukung performa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hidangan yang ada di dapur kita sendiri. Ternyata, nasihat nenek kita memang benar. Fondasinya sudah ada sejak dulu, dunia olahraga hanya memberikan nama baru bagi prinsip tersebut," tutupnya.