← Beranda
Terasering Panyaweuyan Majalengka Punya Wajah Berbeda, Hamparan Hijau di Kaki Ciremai Bikin Candu
Rian AlfiantoKamis, 3 September 2026 | 16.35 WIB
Terasering Panyawengan Majalengka (Dok. Gelar S. Ramdhani)

 

 

JawaPos.com - Ada alasan mengapa Terasering Panyaweuyan menjadi salah satu lanskap alam yang menarik perhatian wisatawan di Majalengka. Bukan karena sawah padi yang membentang luas, melainkan karena bukit-bukit pertanian hortikultura yang tersusun mengikuti kontur lereng, berpadu dengan udara sejuk dan siluet Gunung Ciremai.

Pemandangan seperti ini membuat perjalanan ke Panyaweuyan terasa berbeda dari wisata alam kebanyakan. Wisatawan bisa menikmati hamparan tanaman hijau dari ketinggian, menyaksikan kabut yang perlahan terangkat pada pagi hari, atau menunggu perubahan warna langit menjelang petang.

Lokasinya berada di Desa Sukasari Kidul, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dari pusat Majalengka, kawasan ini berjarak sekitar 21 kilometer dan dapat ditempuh sekitar 45 menit hingga satu jam menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi perjalanan.

Bukan Persawahan Biasa

Nama terasering biasanya langsung membawa bayangan pada petak-petak sawah. Panyaweuyan menawarkan gambaran yang sedikit berbeda.

Lahan pertanian di kawasan ini didominasi tanaman hortikultura seperti bawang merah, daun bawang, dan berbagai tanaman sayuran. Tanaman tersebut mengikuti bentuk lereng dan menghasilkan garis-garis alami yang terlihat jelas ketika dipandang dari kejauhan.

Inilah yang membuat panorama Panyaweuyan memiliki karakter tersendiri. Lanskapnya bukan dibentuk sebagai taman wisata, tetapi lahir dari aktivitas pertanian masyarakat yang berlangsung di kawasan perbukitan.

Perubahan musim tanam juga membuat pemandangannya tidak selalu sama. Warna dan tekstur lahan dapat berubah mengikuti jenis tanaman serta fase pertumbuhan, sehingga kunjungan pada waktu berbeda bisa memberikan pengalaman visual yang berbeda pula.

Gunung Ciremai Menjadi Latar Utama

Daya tarik Panyaweuyan semakin kuat karena kawasan ini berada di lereng Gunung Ciremai.

Dari sejumlah titik, bentang perbukitan dan lahan pertanian dapat dinikmati dengan latar pegunungan. Ketika cuaca cerah, keberadaan Ciremai memberikan dimensi lain pada lanskap yang sudah menarik dengan sendirinya.

Sementara ketika pagi diselimuti kabut, pemandangan berubah menjadi lebih dramatis. Barisan tanaman terlihat muncul perlahan dari balik putihnya kabut, sementara cahaya matahari mulai menerangi bagian-bagian lereng.

Momen seperti inilah yang membuat Panyaweuyan tidak hanya menarik bagi wisatawan yang ingin mencari udara segar, tetapi juga bagi pencinta fotografi.

Pagi Hari jadi Waktu yang Banyak Diburu

Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan suasana paling khas, datang sejak pagi menjadi pilihan yang menarik.

Selain udara yang masih terasa lebih segar, pagi menawarkan kesempatan melihat perubahan lanskap dari gelap menuju terang. Cahaya matahari yang mulai muncul dapat menciptakan warna keemasan di atas kontur perbukitan, terutama ketika kondisi cuaca mendukung.

Kabut juga menjadi elemen yang sulit diprediksi. Kehadirannya justru membuat panorama terasa lebih hidup, tetapi tentu sangat bergantung pada kondisi cuaca saat kunjungan.

Sore hari menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan dapat menikmati kawasan dengan tempo lebih santai sambil menunggu matahari turun dan warna langit berubah.

Dengan demikian, Panyaweuyan tidak harus selalu dikunjungi untuk mengejar satu momen. Pagi cocok untuk mencari suasana berkabut dan sunrise, sedangkan sore dapat dipilih untuk menikmati lanskap menjelang matahari terbenam.

Perjalanan Menuju Lokasi Tak Kalah Menarik

Panyaweuyan berada di kawasan perbukitan, sehingga perjalanan menuju lokasi menjadi bagian yang perlu diperhitungkan.

Dari Bandung, rute dapat diarahkan melalui Sumedang dan Tol Cisumdawu, kemudian menuju Kadipaten, Majalengka, hingga Argapura.

Dari Jakarta, wisatawan dapat menggunakan Tol Cipali dan keluar di kawasan Kertajati, lalu melanjutkan perjalanan menuju Majalengka dan Argapura.

Sementara wisatawan yang datang melalui Bandara atau Stasiun Kertajati dapat mempertimbangkan kendaraan sewaan untuk menuju lokasi. Akses transportasi umum langsung ke kawasan Panyaweuyan masih terbatas.

Jalan menuju kawasan wisata memiliki tanjakan dan tikungan karena berada di wilayah perbukitan. Kendaraan dalam kondisi prima menjadi hal penting, begitu pula dengan kemampuan pengemudi menghadapi medan menanjak dan berkelok.

Namun, perjalanan tidak sepenuhnya hanya soal menghadapi jalan. Sepanjang rute menuju Argapura, wisatawan akan melewati pemandangan perbukitan dan lembah yang menjadi pemanasan sebelum tiba di lanskap utama Panyaweuyan.

Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat?

Panyaweuyan lebih cocok dinikmati dengan persiapan sederhana.

Jika ingin berburu sunrise, berangkat lebih pagi menjadi pilihan. Jaket juga sebaiknya masuk dalam perlengkapan karena udara kawasan perbukitan dapat terasa cukup dingin, terutama pada pagi hari.

Alas kaki yang nyaman juga penting karena kontur kawasan tidak semuanya datar. Bagi yang membawa kamera, pagi dan sore memberikan kondisi cahaya yang berbeda untuk mengabadikan lanskap.

Yang tak kalah penting adalah menjaga area pertanian. Lahan yang menjadi daya tarik Panyaweuyan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat setempat. Wisatawan sebaiknya tidak menginjak tanaman atau memasuki lahan pertanian sembarangan hanya demi mendapatkan sudut foto.

Pada akhirnya, Terasering Panyaweuyan bukan sekadar tempat melihat hamparan hijau. Daya tariknya justru muncul dari pertemuan antara lanskap pertanian, kontur perbukitan, udara sejuk, kabut, dan Gunung Ciremai.

Bagi wisatawan yang ingin mencari suasana alam yang tidak terlalu artifisial, kawasan ini menawarkan pengalaman yang sederhana tetapi kuat: datang ke lereng Ciremai, duduk menikmati bentang hijau, dan membiarkan lanskap pertanian menjadi pemandangan utama.

EDITOR: Estu Suryowati