JawaPos.com – Semakin banyak keturunan emigran Jepang dari berbagai negara datang ke Jepang untuk menelusuri asal-usul keluarga mereka. Tren yang dikenal sebagai roots tourism atau wisata leluhur itu terus berkembang berkat media sosial, melemahnya nilai tukar yen, serta meningkatnya minat terhadap silsilah keluarga.
Seperti dilansir Kyodo, Senin (27/7), diperkirakan terdapat sekitar lima juta orang keturunan Jepang yang tinggal di luar negeri. Tren tersebut dinilai membuka peluang baru untuk menggerakkan perekonomian daerah sekaligus memperkuat pertukaran budaya dan saling pengertian.
Salah satu di antaranya adalah Sergio Kohatsu, akuntan Jepang-Brasil berusia 68 tahun asal Sao Paulo. Bersama putrinya, Jessica, ia mengunjungi Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction pada pertengahan Mei untuk menelusuri perjalanan ayahnya yang beremigrasi ke Brasil hampir satu abad lalu.
Kohatsu membawa dokumen manifes penumpang yang mencatat perjalanan ayahnya menuju Brasil saat masih berusia beberapa bulan. Dokumen itu membantunya mengungkap kisah keluarga yang selama ini tidak pernah banyak diceritakan oleh sang ayah.
"Ayah saya jarang sekali menceritakan bagaimana ia datang ke Brasil. Saya selalu ingin mengetahui bagaimana dan bersama siapa ia melakukan perjalanan itu," kata Kohatsu.
Ayah Kohatsu lahir di Nishihara, Prefektur Okinawa, pada 1929. Pada tahun yang sama, ia berangkat ke Brasil bersama tiga generasi keluarganya, termasuk buyut serta kakek-neneknya, untuk bekerja di perkebunan kopi.
Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction awalnya didirikan pada 1928 sebagai National Emigration Reception Center. Hingga 1971, fasilitas tersebut menjadi tempat singgah sementara bagi para emigran Jepang sebelum berangkat ke berbagai negara, termasuk Brasil.
Pusat tersebut kini menyediakan manifes penumpang yang dihimpun dari Perpustakaan Nasional Parlemen Jepang beserta salinan foto rombongan sebelum keberangkatan apabila tersedia. Dokumen-dokumen itu menjadi sumber penting bagi para pengunjung yang ingin menelusuri sejarah keluarganya.
Direktur Eksekutif Japan-Brazil Association di Kobe, Masanori Yabu, mengatakan jumlah pengunjung terus meningkat. Pada tahun fiskal 2024, pusat tersebut menerima 165 rombongan, sedangkan pada tahun fiskal 2025 jumlahnya naik menjadi 243 rombongan.
Menurut Yabu, popularitas fasilitas tersebut meningkat setelah banyak muncul dalam video di media sosial, termasuk yang dibuat pasangan Jepang dan Jepang-Brasil. Di sisi lain, layanan tes genetik yang dapat menunjukkan asal-usul keluarga juga turut mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap penelitian silsilah.
Pemerintah Jepang ikut memperhatikan tren tersebut karena dinilai berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. Sejumlah pemerintah daerah dan organisasi lokal pun mulai mengembangkan berbagai layanan untuk membantu keturunan emigran menemukan akar keluarga mereka.
Sejak tahun fiskal 2016, Perpustakaan Prefektur Okinawa menyediakan layanan penelusuran silsilah bagi sekitar 400 ribu keturunan emigran Okinawa yang tinggal di luar negeri. Layanan tersebut menerima sekitar 250 permintaan setiap tahun.
Upaya serupa juga dilakukan Distrik Mio di Kota Mihama, Prefektur Wakayama, yang dijuluki America Village karena banyak warganya bermigrasi ke Kanada sejak era Meiji. Sementara itu, perusahaan penyedia layanan penelitian silsilah keluarga asal Tokyo, Kaju, bahkan meluncurkan situs berbahasa Inggris tahun lalu dan kini menerima sekitar 30 hingga 50 permintaan setiap bulan.
Profesor Universitas Kyoto University of Foreign Studies, Sachiko Kawakami, menilai orang-orang yang berhasil menemukan akar keluarganya biasanya akan kembali berkunjung ke tempat yang sama di kemudian hari. Menurutnya, tren wisata leluhur berpotensi menghidupkan ekonomi daerah sekaligus memperdalam pemahaman terhadap sejarah lokal melalui pertukaran budaya, meski pemerintah pusat dan daerah masih perlu meningkatkan infrastruktur untuk melayani para pengunjung.