JawaPos.com – Lamongan dikenal sebagai salah satu kawasan wisata religi penting di Jawa Timur berkat keberadaan makam wali dan situs Islam bersejarah yang tersebar di seluruh penjurunya.
Setiap destinasi menyimpan kisah penyebaran Islam yang kaya nilai budaya, sosial, dan sejarah yang layak untuk dipelajari dan dihayati.
Kawasan pesisir utara Jawa Timur ini juga menghubungkan berbagai situs wali melalui jalur bersejarah yang dikenal sebagai Jalan Daendels.
Dilansir dari laman museumislamindonesia.com dan Disbudporapar Lamongan pada Jumat (29/5), berikut tujuh rekomendasi tempat wisata religi buat liburan di Lamongan.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata di Lamongan yang Lagi Ramai buat Liburan Panjang maupun Akhir Pekan
1. Makam Sunan Drajat
Berlokasi di Drajat, Paciran, makam Wali Songo bernama asli Raden Qasim ini merupakan putra Sunan Ampel yang mendirikan surau dan mengajar penduduk di wilayah Lamongan.
Sunan Drajat memperoleh ilmu Islam dari ayahnya di pesantren Ampeldenta sebelum berguru ke Sunan Gunung Jati di Cirebon, kemudian diutus berdakwah hingga menetap di Lamongan.
Ajaran yang dikembangkannya menekankan etos kerja keras, kedermawanan, tenggang rasa, pengentasan kemiskinan, dan gotong royong yang kuat di tengah masyarakat.
Sunan Drajat juga menyebarkan Islam melalui seni dengan menciptakan tembang Pangkur dan menggunakan gamelan bernama Singo Mengkok yang kini tersimpan di Museum Sunan Drajat dalam kompleks makam.
Di kompleks ini juga terdapat Museum Sunan Drajat yang menyimpan benda-benda bersejarah dan baru saja selesai direvitalisasi oleh Kementerian PUPR.
2. Makam Syekh Maulana Ishaq
Berlokasi di Desa Kemantren, Paciran, tepat di tepi laut dengan pemandangan yang sangat indah, makam ayah Sunan Giri ini ditempatkan dalam cungkup bersama dua makam santrinya.
Kompleks pesarean yang kini telah diperluas mampu menampung ratusan peziarah dengan nyaman, dan tepat di sebelahnya berdiri Masjid Al Abror dua lantai di atas lahan seluas 5 hektar.
Syekh Maulana Ishaq dikenal dalam sejarah sebagai menantu Raja Blambangan yang berhasil menyembuhkan putri raja saat wabah melanda, sebelum akhirnya menetap dan berdakwah di Lamongan.
Lokasi makamnya dapat dijangkau dari Jalan Daendels melalui jalan kampung sejauh beberapa ratus meter, menjadikannya destinasi yang mudah diakses peziarah dari berbagai daerah.
3. Makam Sunan Sendang Duwur
Berlokasi di puncak Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur, Paciran, sekitar 4 km dari Wisata Bahari Lamongan, makam Raden Nur Rahmad yang wafat pada 1535 M ini dapat dicapai dengan kendaraan karena akses jalannya sudah tersedia dengan baik.
Kompleks makamnya merupakan karya arsitektur tinggi yang memadukan unsur Islam dan Hindu, ditandai dengan Gapura Bentar di bagian luar dan Gapura Paduraksa berukiran kayu jati di bagian dalam.
Dua batu hitam menyerupai kepala kala yang menghiasi Gapura Paduraksa menjadi keunikan tersendiri, dan gapura ini kini diabadikan sebagai gerbang selamat datang yang menjadi ikon kota.
Sunan Sendang Duwur juga dikenal dalam sejarah karena dikisahkan memindahkan masjid dalam semalam dari Mantingan ke bukit ini, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Sendang Duwur yang dibangun sejak 1531 M.
4. Museum Islam Indonesia Lamongan
Berlokasi di Jalan Raya Daendels Paciran, satu area dengan Wisata Bahari Lamongan dan Maharani Zoo, museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan tiket Rp15.000 di hari kerja dan Rp20.000 di akhir pekan.
Museum pelopor Islam pertama di Indonesia ini menghadirkan konsep yang lebih estetik dan modern, dilengkapi teknologi Augmented Reality yang dapat diunduh melalui aplikasi Indonesian Islamic Art Museum AR.
Koleksinya mencakup benda-benda dari berbagai peradaban Islam besar dunia dan Nusantara, termasuk Kesultanan Ottoman Turki, Mughal India, Kerajaan Demak, Mataram Islam, Samudera Pasai, dan peninggalan Wali Songo.
5. Masjid Namira
Berlokasi di Jalan Raya Lamongan-Mantup, Kramat Jaya, Jotosanur, Kecamatan Tikung, masjid yang dibangun pada 2013 di atas lahan seluas 2,7 hektar ini menghadirkan konsep unik bernuansa Masjidil Haram.
Daya tarik utamanya adalah kain Kiswah berukuran besar di dinding mihrab imam, yaitu kain penutup Ka'bah yang juga ditemukan dalam versi lebih kecil di berbagai sudut masjid.
Kehadiran kain Kiswah asli menjadikan Masjid Namira sebagai salah satu masjid paling unik dan diminati wisatawan religi di kawasan Jawa Timur.
6. Masjid Agung Lamongan
Masjid yang pertama kali didirikan pada tahun 1908 ini memiliki arsitektur khas Jawa dan telah dipugar menjadi lebih modern dengan dua menara tinggi yang tampak sangat indah di malam hari.
Di dalam masjid tersimpan Mushaf Al-Quran terbesar berukuran 240 x 155 x 18 sentimeter karya Ustaz Rusdi Aliuddin yang menjadi koleksi kebanggaan.
Di sisi utara masjid terdapat makam aulia dengan empat nisan bersejarah, dan di halaman depannya terdapat Gentong air serta batu pasujudan yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.
7. Makam Nyi Andongsari
Berlokasi di Bukit Gunung Ratu, Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, makam ini dipercaya sebagai makam Dewi Andongsari yang diyakini masyarakat setempat sebagai ibunda Patih Gajah Mada.
Situs ini sedang dalam proses revitalisasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan rencana pembangunan cungkup makam, tempat istirahat, musholla, tempat wudhu, kamar kuncen, dan gapura seluas 2.706 m².
Keberadaan makam ini menjadi bukti kuat keyakinan masyarakat bahwa Patih Gajah Mada berasal dari kawasan ini, yang juga dipercaya sebagai tempat kelahirannya semasa ibundanya diasingkan dari istana.