← Beranda
George Town di Penang: Kota Warisan Dunia yang Memikat dengan Sejarah dan Budaya
Jelita Indriana PutriKamis, 18 September 2025 | 16.56 WIB
George Town bukan sekadar kota wisata biasa, tetapi perpaduan dari sejarah, budaya, dan modernitas. (Klook Travel)

JawaPos.com - George Town di Pulau Penang, Malaysia, adalah salah satu destinasi wisata yang kaya akan pesona sejarah dan budaya. Kota ini ibarat sebuah kanvas besar yang menampilkan perpaduan harmonis budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Eropa.

Dikutip dari Bafageh Tour and Travel, George Town telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2008, berkat arsitektur kolonialnya yang terawat, mural jalanan yang memikat, hingga kuliner jalanan yang terkenal lezat. Berjalan-jalan di kota ini seperti menyusuri lorong waktu, di mana tradisi lama berpadu manis dengan gaya hidup modern.

Cheong Fatt Tze Mansion

Salah satu ikon yang tak boleh dilewatkan adalah Cheong Fatt Tze Mansion. Dilansir dari Hotels.com, bangunan megah bergaya abad ke-19 ini langsung mencuri perhatian dengan arsitektur biru indigo yang ekspresif.

Rumah besar bergaya Hakka-Teochew ini sempat hampir hancur, namun pada 1990-an diselamatkan melalui proyek konservasi dan kini berfungsi sebagai hotel butik bersejarah. Upaya pelestariannya bahkan memenangkan berbagai penghargaan arsitektur internasional.

Bangunan ini juga telah menjadi lokasi syuting film dunia, mulai dari film Prancis pemenang Oscar Indochine (1993) hingga film The Blue Mansion (2009). Di dalamnya, pengunjung bisa menemukan 38 kamar yang menampilkan kaca patri bergaya art-nouveau, lantai ubin khas Peranakan, 220 jendela kayu, 7 tangga, serta 5 halaman berlapis granit. Wisatawan bisa mengikuti tur berpemandu selama satu jam atau bahkan menginap di hotel butik ini untuk merasakan atmosfer klasiknya secara langsung.

Pinang Peranakan Museum

Dari sekian banyak destinasi di George Town, Pinang Peranakan Mansion adalah salah satu yang paling difavoritkan wisatawan. Menurut laman Anoushka Probyn, museum ini merupakan sebuah kompleks besar yang menampilkan koleksi antik serta perabotan khas komunitas Peranakan. Budaya Peranakan sendiri lahir dari percampuran imigran Tionghoa dengan masyarakat Melayu, sehingga menghasilkan tradisi unik yang kaya warna.

“Museum ini dipenuhi koleksi furniture vintage, peralatan kaca mewah, dan benda antik lainnya. Bangunannya sendiri sama menawannya dengan artefak yang dipamerkan, memberikan pelajaran luar biasa tentang gaya warna yang memukau,” tulis Anoushka Probyn di laman pribadinya.

Museum ini buka setiap hari pukul 09.30 hingga 17.00, dengan tiket masuk RM25 untuk dewasa. Tur berpemandu tersedia gratis, tetapi banyak wisatawan juga senang menjelajah sendiri untuk lebih leluasa menikmati keindahannya.

Leong San Tong Khoo Kongsi

Tidak lengkap berkunjung ke Penang tanpa melihat Leong San Tong Khoo Kongsi, rumah yang dijuluki Permata Warisan Penang. Dikutip dari Klook Travel, tempat ini terdiri dari rumah yang megah, panggung opera, dan halaman luas.

Pada 2006, rumah klan Khoo Kongsi merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Bangunan aslinya sempat hancur akibat kebakaran tahun 1901, tetapi dibangun kembali dengan arsitektur menawan yang masih bisa dinikmati hingga kini.

Tempat ini bukan hanya simbol warisan, tetapi juga mercusuar harapan bagi klan Khoo yang dahulu merantau dari Tiongkok menuju Malaya. Kini, Khoo Kongsi menjadi contoh terbaik dari konservasi dan restorasi warisan budaya.

Penang Street Art

George Town juga dikenal dengan seni mural jalanan yang membuat suasana kota semakin hidup. Dikutip dari Hotels.com, Dewan Kota Penang mengundang seniman Lithuania lulusan London, Ernest Zacharevic, untuk menghadirkan sentuhan seni pada ruko-ruko tua di pusat kota. Proyek ini sukses besar, mengubah beberapa sudut kota menjadi destinasi wisata populer.

Karya Zacharevic tersebar di berbagai jalan utama, seperti Muntri Street, Weld Quay, Lebuh Leith, Armenian Street, hingga Ah Quee Street. Salah satu mural paling terkenal adalah Little Girl in Blue, lukisan setinggi 20 kaki yang menggambarkan seorang anak kecil berbaju piyama biru laut. Mural ini unik karena dilengkapi dua jendela asli dari bangunan yang menjadi “kanvas”-nya.

Penang Hill

Jika ingin menikmati udara sejuk dan panorama kota dari ketinggian, wisatawan bisa menuju Penang Hill. Kawasan perbukitan ini sejak era kolonial sudah menjadi tempat peristirahatan populer, terutama bagi kaum Britania. Kini, Penang Hill menawarkan beragam pilihan wisata, mulai dari restoran, penginapan, tempat ibadah, hingga wahana unik seperti simulator gempa dan topan.

Salah satu daya tarik utamanya adalah Penang Hill Funicular, kereta kabel yang membawa pengunjung dari kaki bukit hingga puncak hanya dalam waktu 5-10 menit. Dikutip dari Tiket.com, jalur funikular ini termasuk salah satu yang terpanjang dan tertinggi di Asia Tenggara, menjadikannya pengalaman tak terlupakan.

Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan hijau dan langit biru yang memukau. Sesampainya di puncak, panorama George Town terbentang luas, indah baik di siang maupun malam hari. Tak heran, banyak wisatawan menjadikan pengalaman naik funikular ini sebagai agenda wajib dalam kunjungan mereka.

Dilansir dari laman Anoushka Probyn, selain menikmati pemandangan, pengunjung juga bisa beristirahat di kafe tersembunyi, Kopi Hutan yang berada di tengah pepohonan rimbun. Kafe ini terkenal dengan sajian kue, termasuk Burnt Basque Cheesecake dan Maple Walnut Cheesecake yang sering habis hanya dalam hitungan menit. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah