JawaPos.com - Pujian Elon Musk terhadap kapasitas manufaktur Tiongkok menyoroti peran semakin penting basis produksi Shanghai bagi jaringan bisnis Tesla dan rantai pasok kendaraan listrik global. CEO Tesla itu menyebut Gigafactory Shanghai sebagai "permata", sekaligus menilai kemampuan manufaktur dan tenaga kerja Tiongkok menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan fasilitas tersebut.
Pernyataan itu disampaikan ketika industri otomotif global berlomba membangun kapasitas kendaraan listrik, sementara perusahaan AS tetap memiliki ketergantungan besar pada basis produksi dan pasar Tiongkok. Bagi Tesla, Shanghai bukan hanya fasilitas untuk memenuhi permintaan domestik, tetapi juga salah satu pusat produksi yang memasok kendaraan ke pasar luar negeri.
Dilansir dari Anadolu Ajansı, Sabtu (26/9/2026), Musk menyampaikan penilaiannya dalam wawancara dengan CCTV Finance. Mengutip media pemerintah Global Times, ia memuji tim Tesla di Tiongkok karena dinilai berbakat, berdedikasi, dan efisien dalam manufaktur.
"Kualitasnya sangat baik, dan efisiensinya juga sangat baik. Untuk pabrik Shanghai, ini adalah sebuah permata. Sangat indah," kata Musk.
Baca Juga: DOGE Elon Musk Pangkas Bantuan AS ke Nepal, Sektor Teknologi dan Gen Z Jadi Penggerak Ekonomi Baru
Gigafactory Shanghai mulai berproduksi pada 2019 dan telah menghasilkan lebih dari 4,5 juta kendaraan, atau lebih dari 45 persen dari total produksi Tesla secara kumulatif di seluruh dunia. Skala itu menempatkan Shanghai sebagai simpul penting dalam ekspansi kendaraan listrik Tesla, sekaligus memperlihatkan bagaimana kapasitas manufaktur lokal dapat terhubung langsung dengan pasar global.
Tesla saat ini mengoperasikan dua fasilitas manufaktur utama di Tiongkok dan keduanya berada di Shanghai. Gigafactory memproduksi Model 3 dan Model Y, sedangkan Megafactory memproduksi baterai penyimpanan energi Megapack. Struktur ini memperluas peran Shanghai dari pusat perakitan kendaraan menjadi bagian dari ekosistem energi Tesla.
Pada 2025, penjualan grosir dari pabrik Shanghai, termasuk kendaraan untuk ekspor, mencapai sekitar 852.000 unit. Penjualan ritel di pasar Tiongkok pada periode yang sama mendekati 626.000 unit. Angka tersebut menunjukkan bahwa produksi Shanghai melayani dua jalur sekaligus: pasar domestik yang besar dan jaringan ekspor Tesla.
Posisi Tiongkok juga tercermin dari kontribusinya terhadap pendapatan Tesla. Negara itu menjadi pasar terbesar kedua Tesla setelah Amerika Serikat pada 2025. Dalam laporan tahunannya, Tesla mencatat pendapatan dari Tiongkok sebesar USD 20,96 miliar, setara sekitar Rp375,79 triliun dengan kurs Rp17.930 per dolar AS. Angka tersebut relatif tidak berubah dari USD 20,94 miliar atau sekitar Rp375,43 triliun pada 2024.
Reuters melaporkan Musk juga menyebut tim di fasilitas Shanghai "sangat berbakat, pekerja keras, dan dapat dipercaya." Ia kemudian mengatakan, "Pabrik Tesla di Shanghai adalah sebuah permata dan sebenarnya sangat indah jika siapa pun pernah mengunjunginya." Pernyataan itu mempertegas bahwa pujian Musk tidak hanya diarahkan pada fasilitas fisik, tetapi juga tenaga kerja yang menopang operasinya.
Di luar Tesla, komentar tersebut memperlihatkan dimensi lain dari persaingan industri global: kemampuan manufaktur menjadi faktor strategis ketika perusahaan teknologi dan otomotif memperluas produksi lintas negara. Musk bahkan mendorong masyarakat mengunjungi Tiongkok dan menyebut Shanghai, Beijing, serta Xi’an sebagai destinasi yang layak dikunjungi.
Baca Juga: Elon Musk dan Bos Open AI Sepakat Dukung Perlambatan Pengembangan AI di Tengah Risiko Teknologi
Bagi Tesla, kekuatan Shanghai terlihat dari kombinasi kapasitas produksi, pasar domestik, dan kemampuan memasok kendaraan ke luar negeri. Pujian Musk karena itu datang dari pusat bisnis yang memiliki kepentingan langsung di Tiongkok. Pada saat yang sama, lebih dari 4,5 juta kendaraan yang telah diproduksi menunjukkan bahwa Shanghai telah berkembang menjadi salah satu fondasi operasional Tesla dalam skala global.