JawaPos.com - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai masuk ke pembelajaran kewirausahaan siswa SMA dan SMK.
Teknologi ini digunakan untuk membantu mencari ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, menyusun materi promosi, hingga menemukan peluang usaha baru.
Penggunaan AI tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran kewirausahaan bagi 6.125 siswa SMA dan SMK di 10 kota pada tahun ajaran 2026–2027.
Baca Juga: Muse Meta Jadi Aplikasi Gratis Terlaris, Mark Zuckerberg Kembali Membidik Platform Digital Baru
Selain teknologi, siswa juga diajak mengembangkan bisnis berdasar potensi ekonomi dan kearifan lokal di lingkungan sekitar.
Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan konsep bisnis.
Para siswa menjalankan Student Company, sehingga mereka dapat mengalami langsung proses membangun usaha, mulai dari membaca kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, hingga mengelola operasional serta keuangan.
Baca Juga: Google Danai Pembangkit Nuklir Georgia untuk Menambah Daya bagi Lonjakan Kebutuhan Data Center
Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan karena dunia usaha mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi dan perilaku konsumen.
“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang," kata Country Manager Zurich Indonesia Edhi Tjahja Negara.
"Memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat, sehingga mereka tumbuh lebih percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Edhi Tjahja Negara.
AI Dipakai untuk Mengembangkan Ide Bisnis
Dalam pembelajaran tahun ini, AI tidak hanya diperkenalkan sebagai teknologi baru, tetapi ditempatkan sebagai salah satu alat yang dapat digunakan siswa dalam proses pengembangan usaha.
Siswa dapat memanfaatkannya untuk mengeksplorasi ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, membantu menyusun materi promosi, hingga melihat kemungkinan pengembangan produk.
Dengan demikian, teknologi digunakan sebagai pendukung proses berpikir dan pengambilan keputusan, bukan sebagai pengganti kreativitas siswa.
Baca Juga: Jensen Huang Bantah Klaim AI Akan Memusnahkan Manusia pada 2030
Aspek etika juga menjadi bagian dari pembelajaran.
Siswa diarahkan untuk memahami penggunaan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab, termasuk tetap mempertimbangkan integritas serta peran manusia dalam menghasilkan dan mengembangkan ide.
“Transformasi teknologi dan perkembangan lanskap ekonomi membuka banyak peluang baru bagi generasi muda," tutur kata Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation Adriana Poglia.
Baca Juga: AS dan Tiongkok Siapkan Jalur Peringatan AI untuk Cegah Krisis di Tengah Perang Teknologi
"Melalui ZEP, kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” ungkap Adriana Poglia.
Potensi Lokal Jadi Sumber Ide Usaha
Teknologi bukan satu-satunya perubahan dalam pembelajaran.
Tahun ini, siswa juga diarahkan untuk melihat potensi di lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi bisnis.
Baca Juga: Apple Siapkan Smart Display untuk Saingi Echo Show dan Nest Hub, Bisa Kenali Wajah Pengguna
Budaya, sumber daya lokal, serta kebutuhan masyarakat menjadi bahan untuk menemukan ide usaha yang memiliki identitas dan nilai tambah.
Pendekatan ini mempertemukan pemanfaatan teknologi dengan pemahaman terhadap kondisi nyata di sekitar siswa.
Dalam prosesnya, siswa mendapatkan pendampingan dari guru dan mentor.
Mereka juga memperoleh perspektif mengenai dunia usaha, literasi finansial, serta dunia kerja.
Baca Juga: Winamp Bangkit Kembali dan Tawarkan Layanan Streaming Premium
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati mengatakan pengalaman langsung menjalankan bisnis dapat membantu siswa mengubah kreativitas menjadi peluang yang lebih konkret.
“Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai," terang Utami.
"Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan,” ujar Utami.
Baca Juga: Perlambatan AI atau Kejar Tiongkok, Bos Teknologi AS Terbelah soal Masa Depan AI
Pengembangan pembelajaran tersebut merupakan kelanjutan fase kedua program yang pada tahun pertama telah menjangkau lebih dari 10.000 siswa.
Dari proses tersebut, lahir 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp 339 juta.
Para siswa mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ide, membangun, dan menjalankan usaha secara langsung di sekolah.
Baca Juga: Jack Clark Sebut Jurusan Sastra dan Filsafat Makin Relevan saat AI Geser Pekerjaan Teknologi
Bisnis pelajar yang dinilai menonjol kemudian dapat mengikuti kompetisi di tingkat regional dan nasional, serta berpeluang melanjutkan pengalaman ke ajang kewirausahaan pelajar tingkat internasional.
Fase kedua pembelajaran ini ditargetkan menjangkau 16.975 siswa hingga 2028.
Perluasan tersebut berlangsung ketika keterampilan digital, pemahaman finansial, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi semakin menjadi bagian dari kebutuhan dunia kerja dan kewirausahaan.