JawaPos.com - Isar Aerospace, perusahaan rintisan asal Jerman, berhasil membawa roket Spectrum ke orbit dari Andøya Spaceport, Norwegia, pada Sabtu (5/9/2026). Keberhasilan ini menjadikan Isar perusahaan komersial pertama yang berhasil melakukan peluncuran ke orbit dari daratan Eropa, sebuah capaian penting bagi upaya kawasan itu membangun kemampuan peluncuran sendiri.
Spectrum, roket dua tahap setinggi 28 meter, membawa sejumlah satelit kecil ke orbit rendah Bumi dan dirancang mengangkut muatan hingga 1.000 kilogram. Keberhasilan tersebut menjadi kemajuan besar setelah penerbangan perdana pada 2025 hanya berlangsung sekitar 30 detik. Peluncuran kedua juga sempat tertunda akibat cuaca buruk, masalah teknis, dan kapal yang berada di dekat lokasi peluncuran.
Dilansir dari Financial Times, Selasa (8/9/2026), CEO Isar Aerospace Daniel Metzler menyebut keberhasilan peluncuran tersebut sebagai sebuah terobosan. "Kami telah mencetak sejarah," kata Metzler. Menurutnya, pencapaian itu "akan membentuk masa depan strategis, ekonomi, dan teknologi Eropa." Metzler juga melihat peluang besar di tengah keterbatasan kapasitas peluncuran global yang membuat banyak satelit dan perangkat antariksa masih tertahan di Bumi.
Baca Juga: Bos Teknologi Inggris Sebut AI Bisa Bantu Sembuhkan Kanker, Tapi Terhambat Kekurangan Cip
"Kini ada perangkat keras di seluruh dunia yang secara harfiah masih tertahan di Bumi,” ujar Metzler. "Perusahaan satelit, pemerintah, semuanya berada dalam daftar tunggu hanya kepada beberapa entitas." Kondisi tersebut menjadi peluang bisnis bagi Isar. Perusahaan yang didirikan pada 2018 itu mengatakan kapasitas peluncurannya telah dipesan hingga akhir 2028, bahkan sebelum Spectrum berhasil mencapai orbit.
Perusahaan bahkan menargetkan pabrik barunya di Munich mampu memproduksi hingga 40 roket per tahun. Metzler mengatakan Isar kini memiliki "jalur pesanan bernilai puluhan miliar euro" yang harus dipenuhi. Perusahaan juga berencana mengembangkan roket yang sedikit lebih besar agar dapat membawa muatan lebih berat sekaligus menekan biaya.
Langkah tersebut mempertemukan Isar dengan SpaceX milik Elon Musk, yang telah mendominasi pasar peluncuran satelit dan menekan biaya melalui skala operasinya. Namun, Metzler mengingatkan bahwa perjalanan menuju orbit tidak mudah.
"SpaceX membutuhkan empat kali percobaan untuk berhasil mencapai orbit," katanya kepada Financial Times. Bagi Isar, penerbangan kedua yang sukses karena itu merupakan pijakan awal, bukan tanda bahwa perusahaan telah menyamai kemampuan SpaceX.
Kesenjangan Eropa dengan Amerika Serikat masih besar. Pada 2025, entitas Eropa hanya mencatat tujuh peluncuran sukses ke orbit dan seluruhnya berasal dari Guyana Prancis. Amerika Serikat mencatat sekitar 180 peluncuran, sebagian besar oleh SpaceX, sedangkan Tiongkok sekitar 90. Keberhasilan Isar dari Norwegia memberikan Eropa kemampuan peluncuran orbital dari wilayah kontinennya sendiri.
Dorongan tersebut juga semakin terkait dengan pertahanan. Metzler mengatakan proporsi permintaan dari pelanggan terkait pertahanan melonjak dari sekitar 15 persen menjadi 60 persen dalam 12 bulan terakhir.
"Dengan masa jabatan kedua Donald Trump, Eropa belajar dengan cara yang sulit bahwa kami perlu memiliki kemampuan berdaulat sendiri," ujarnya. Kebutuhan itu mencakup satelit komunikasi dan pengintaian, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap Washington.
Secara finansial, Isar bernilai sekitar €2 miliar atau Rp41,1 triliun, berdasarkan kurs €1 senilai Rp20.550, setelah mengumpulkan €270 juta atau sekitar Rp5,55 triliun dalam pendanaan Juni. Perusahaan juga telah mendapat dukungan dari Badan Antariksa Eropa. Meski demikian, Metzler mengatakan IPO "belum menjadi agenda" perusahaan.
Isar kini menjadi bagian dari kelompok perusahaan rintisan Eropa yang berusaha mengembangkan industri peluncuran baru, bersama Rocket Factory Augsburg dari Jerman, PLD Space dari Spanyol, dan MaiaSpace dari Prancis.
Direktur Jenderal ESA Josef Aschbacher menyebut keberhasilan Spectrum sebagai "langkah menuju sektor layanan peluncuran Eropa yang lebih beragam dan otonom." Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa keberhasilan tersebut dapat diubah menjadi peluncuran rutin dan layanan komersial yang mampu bersaing dengan SpaceX.
Baca Juga: Rusia Kehilangan Seluruh 16 Satelit Terbaru, Ambisi Menyaingi Starlink Tersandung di Orbit