JawaPos.com - Google Cloud memperluas strategi bisnis kecerdasan buatan (AI) dengan menggandeng perusahaan konsultan global Accenture. Keduanya membentuk unit bisnis gabungan yang akan menempatkan para insinyur langsung di perusahaan klien untuk membantu mempercepat penerapan teknologi dan layanan AI Google.
Seperti dilansir dari TechCrunch, unit tersebut diberi nama Accenture Gemini Enterprise Business Group. Langkah ini menjadi bagian dari ekspansi Google ke bisnis forward-deployed engineers (FDE), yakni insinyur yang bekerja langsung bersama perusahaan klien untuk membangun dan menerapkan solusi teknologi sesuai kebutuhan bisnis.
Google akan melatih hingga 1.000 insinyur FDE dari Accenture. Para insinyur tersebut nantinya akan bekerja bersama klien korporasi untuk membangun aplikasi AI khusus menggunakan platform Gemini Enterprise.
Menurut juru bicara Google, unit baru itu akan beroperasi di bawah naungan Accenture.
Ekspansi tersebut menunjukkan semakin sengitnya persaingan perusahaan teknologi dalam memanfaatkan peluang bisnis dari penerapan AI di sektor korporasi. Google tidak sendirian. Sejumlah pemain besar seperti OpenAI, Anthropic, Microsoft, dan Amazon juga mulai membangun unit atau layanan serupa dengan menempatkan tenaga ahli secara langsung di perusahaan klien.
Strategi tersebut muncul di tengah besarnya investasi perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Para hyperscaler menggelontorkan dana hingga ratusan miliar dolar untuk pengadaan GPU, pembangunan pusat data, serta penyediaan kapasitas energi.
Masalahnya, pendapatan langsung dari bisnis AI hingga kini masih belum sebanding dengan besarnya investasi tersebut.
Google Cloud sendiri mencatatkan pendapatan USD 24,8 miliar pada kuartal II 2026, dengan pertumbuhan yang turut didorong oleh permintaan terhadap layanan AI untuk perusahaan (enterprise AI).
Namun, Alphabet sebagai induk Google memiliki beban investasi yang tidak kecil. Per 30 Juni, perusahaan tersebut dilaporkan memiliki akumulasi komitmen pembelian dan kewajiban kontraktual mencapai USD 811 miliar.
Karena itu, kemampuan perusahaan AI untuk menciptakan permintaan yang berkelanjutan menjadi semakin penting. Terlebih, sejumlah perusahaan masih kesulitan membuktikan keuntungan nyata dari pengeluaran mereka untuk teknologi AI.
Salah satu persoalan yang dihadapi perusahaan adalah kurangnya keahlian untuk mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja secara efektif. Teknologi tersebut tidak cukup hanya digunakan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga harus mampu memangkas biaya atau membantu meningkatkan pendapatan.
Di sinilah tenaga FDE memainkan peran penting. Mereka diharapkan dapat menjembatani kebutuhan bisnis dengan kemampuan teknis AI, sekaligus membantu perusahaan membangun solusi yang benar-benar sesuai dengan alur kerja mereka.
Data Ramp pada Agustus menunjukkan persaingan di pasar AI perusahaan juga semakin ketat. Google menyumbang sekitar 6 persen dari total belanja AI tingkat perusahaan di antara pelanggan Ramp di Amerika Serikat. Angka tersebut masih berada di bawah Anthropic sebesar 43,5 persen dan OpenAI sebesar 39,7 persen.
Google menilai data tersebut belum sepenuhnya menggambarkan posisi mereka di pasar korporasi. Sebab, banyak pelanggan Ramp tidak mencakup perusahaan besar yang memiliki kesepakatan AI strategis dengan Google Cloud, seperti Oracle, Meta, Anthropic, dan ServiceNow. Kesepakatan tersebut juga memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar penggunaan API model AI.
Kerja sama dengan Accenture merupakan bagian terbaru dari agresivitas Google dalam memperluas model FDE sepanjang 2026. Sebelumnya, Google Cloud meluncurkan komitmen ekosistem mitra senilai USD 750 juta yang mencakup penempatan tenaga ahli FDE di sejumlah perusahaan konsultan, termasuk Capgemini, Cognizant, dan Deloitte.
Google juga menjalin kerja sama jangka panjang dengan CVC Capital Partners untuk menempatkan tenaga FDE secara langsung di perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolio firma investasi tersebut.
Namun, persaingan tidak hanya datang dari raksasa teknologi. Sejumlah perusahaan baru yang secara khusus menawarkan jasa penempatan insinyur di perusahaan klien untuk membangun alur kerja AI yang disesuaikan juga mulai bermunculan.
Di antaranya adalah Ode yang bekerja sama dengan Anthropic dan The Deployment Co. milik OpenAI. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menjadi tantangan baru bagi perusahaan konsultan besar seperti Accenture.
Bagi Accenture, kerja sama dengan Google juga melengkapi berbagai program FDE yang telah dibangun sepanjang tahun. Perusahaan tersebut sebelumnya menjalin praktik FDE dengan Microsoft pada Maret, mengembangkan inisiatif serupa bersama ServiceNow pada Mei, serta meluncurkan program bersama SAP pada Juni.
Dengan semakin banyaknya perusahaan yang berupaya mengintegrasikan AI ke dalam bisnis, kemampuan untuk menerapkan teknologi tersebut secara nyata di lingkungan kerja diperkirakan akan menjadi medan persaingan baru. Bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki model AI paling canggih, tetapi siapa yang mampu membantu perusahaan mengubah teknologi tersebut menjadi hasil bisnis yang terukur.