← Beranda
Kepemimpinan 18 Tahun Berakhir, Adobe Ganti CEO di Tengah Tekanan AI dan Perubahan Industri Kreatif
Mellyna Putri DiniarRabu, 9 September 2026 | 00.29 WIB
Adobe menghadapi babak baru ketika AI mengguncang bisnis perangkat lunak kreatifnya (Business Insider)

 

JawaPos.com - Adobe memasuki fase baru ketika kecerdasan buatan mulai mengubah fondasi industri perangkat lunak kreatif yang selama puluhan tahun menjadi kekuatannya. Setelah lebih dari 18 tahun dipimpin Shantanu Narayen, perusahaan menunjuk Anil Chakravarthy sebagai presiden sekaligus CEO baru mulai 1 Desember 2026, sementara Narayen beralih menjadi executive chair.

Pergantian itu tidak sekadar rotasi pucuk pimpinan. Adobe juga menghadapi tekanan pasar yang semakin besar untuk membuktikan bahwa produk seperti Photoshop, Illustrator, dan Creative Cloud tetap memiliki nilai ketika teknologi generatif AI memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dan video berkualitas tinggi dengan keterampilan teknis yang jauh lebih sedikit.

Dilansir dari TheStreet, Senin (7/9/2026), saham Adobe turun hampir 7 persen pada Jumat (4/9), setelah perusahaan mengumumkan pergantian CEO dan pengunduran diri David Wadhwani, kepala divisi kreativitas dan produktivitas Adobe. Saham Adobe sebelumnya telah merosot lebih dari 21 persen sepanjang 2025 dan kembali turun sekitar 18 persen pada 2026 hingga sebelum perdagangan Jumat.

Baca Juga: Mark Zuckerberg Tolak Proposal Regulator AI Nasional dalam Pembicaraan Pribadi dengan Donald Trump

Chakravarthy bergabung dengan Adobe pada 2020 setelah sebelumnya menjabat CEO Informatica. Dia pernah memimpin bisnis Digital Experience, operasi lapangan global, lalu Customer Experience Orchestration.

Pengalaman tersebut relevan dengan arah Adobe yang semakin mengandalkan AI berbasis agen untuk membantu perusahaan mempersonalisasi interaksi dengan pelanggan. Narayen menyebutnya sebagai "pemimpin transformasional" dengan pengetahuan mendalam mengenai bisnis Adobe.

Namun, perubahan itu berlangsung bersamaan dengan keluarnya Wadhwani, yang hampir lima tahun memimpin bisnis kreativitas dan produktivitas Adobe dan sempat dipandang sebagai kandidat CEO. Artinya, Adobe bukan hanya mengganti figur di puncak, tetapi juga kehilangan salah satu eksekutif yang berada dekat dengan bisnis kreatif yang paling langsung menghadapi perubahan akibat AI.

Tantangan utamanya adalah bagaimana Adobe mengubah investasi AI menjadi pertumbuhan tanpa menggerus model bisnis berlangganan yang selama ini menjadi sumber pendapatan berulang. Perusahaan telah memperluas Firefly dan fitur generatif AI ke Photoshop serta rangkaian Creative Cloud. Di sisi lain, Canva, Figma, dan platform AI baru ikut menurunkan hambatan bagi pengguna untuk membuat konten digital.

Tekanan tersebut tercermin dalam penilaian Wall Street. Morgan Stanley pada Juli menurunkan rekomendasi Adobe menjadi Underweight dari Equalweight dan memangkas target harga dari USD 365 menjadi USD 240, atau setara sekitar Rp6,44 juta menjadi Rp4,23 juta per saham dengan kurs Rp17.640 per dolar AS.

Kekhawatirannya mencakup strategi freemium, yakni model layanan dengan fitur dasar gratis dan fitur lebih lengkap berbayar, pergantian pimpinan, peningkatan investasi AI, serta risiko Creative Cloud tergantikan sebagian oleh AI generatif.

Meski demikian, pandangan pasar tidak sepenuhnya negatif. Barclays menaikkan target harga Adobe menjadi USD 295 atau sekitar Rp5,20 juta dari USD 250 atau sekitar Rp4,41 juta, sedangkan RBC Capital menaikkannya menjadi USD 315 atau sekitar Rp5,56 juta dari USD 285 atau sekitar Rp5,03 juta. RBC tetap memberikan rekomendasi Outperform dan menilai percepatan kembali pendapatan berulang tahunan menjadi kunci bagi peningkatan valuasi Adobe.

Chakravarthy sendiri menempatkan AI agen sebagai pusat agenda barunya. "Saya bersemangat memanfaatkan peluang untuk mendorong pertumbuhan dan kepemimpinan Adobe dalam era berikutnya dari perangkat lunak agen untuk kreativitas, produktivitas, dan pengalaman pelanggan," ujarnya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa strategi Adobe bukan mundur dari AI, melainkan menjadikannya bagian inti dari model bisnis.

Ujian pertama akan datang pada 10 September ketika Adobe merilis laporan keuangan kuartal III tahun fiskal 2026. Perusahaan sebelumnya menaikkan proyeksi laba tahunan pada Juni karena meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis AI. Kini investor membutuhkan bukti lebih konkret bahwa teknologi tersebut bukan hanya fitur tambahan, melainkan mampu mempertahankan sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis.

Baca Juga: Jensen Huang Sebut AGI Telah Hadir, Nvidia Siapkan 400.000 Cip Baru

Perubahan ini sekaligus menandai berakhirnya kepemimpinan Narayen dan dimulainya pertaruhan baru bagi Adobe. Selama 18 tahun, Narayen membawa perusahaan dari model perangkat lunak kemasan menuju layanan berlangganan berbasis cloud.

Kini, Chakravarthy mewarisi transformasi berikutnya, yakni membuktikan bahwa Adobe tetap relevan ketika AI membuat produksi konten profesional semakin mudah dan cepat. Dengan saham yang masih tertekan, Wall Street belum sepenuhnya yakin bahwa perubahan tersebut akan berhasil.

EDITOR: Candra Mega Sari