JawaPos.com - Industri kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi penolakan publik seiring pembangunan pusat data untuk menopang model-model AI terus meluas di Amerika Serikat (AS). Fasilitas yang membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar itu kini memicu kekhawatiran soal biaya hidup, pasokan air, dan polusi, sekaligus mengikis dukungan terhadap industri yang sebelumnya dipandang sebagai teknologi masa depan.
Penolakan tersebut menyasar investasi pusat data sekitar USD 130 miliar atau sekitar Rp2.301 triliun dengan kurs Rp17.700 per dolar AS. Kelompok penentang mempersoalkan konsumsi air, kenaikan biaya hidup, serta polusi yang ditimbulkan fasilitas berenergi tinggi tersebut. Mereka juga menilai manfaat ekonomi pembangunan itu hanya dinikmati segelintir individu dan perusahaan kaya, sementara masyarakat lokal menanggung konsekuensinya.
Dilansir dari Futurism, Selasa (1/9/2026), CEO OpenAI Sam Altman mengakui perubahan sentimen itu dalam wawancara dengan Time. "Jelas, orang-orang membenci pusat data, setidaknya untuk saat ini," kata Altman. Dia menambahkan, "Orang-orang cukup negatif terhadap AI." Pernyataan ini memperlihatkan bahwa tantangan industri AI kini meluas dari persaingan teknologi menjadi persoalan penerimaan sosial.
Baca Juga: Sam Altman Prediksi Era Baru Korporasi: AI Bisa Jadi CEO OpenAI yang Lebih Baik Darinya
Sementara itu, penolakan terhadap pusat data mulai berkembang menjadi gerakan lintas kelompok politik di Amerika Serikat. Para pimpinan perusahaan teknologi harus menghadapi tekanan masyarakat sekaligus mencari regulasi yang mendukung ekspansi mereka. CEO Meta Mark Zuckerberg tetap mempertahankan pandangan optimistis bahwa AI dapat menciptakan masa depan ketika manusia tidak lagi harus bekerja sebanyak sekarang. Pendiri Reddit Alexis Ohanian, di sisi lain, berupaya mencari cara untuk meyakinkan publik mengenai manfaat pusat data.
Bagi Altman, persoalan tersebut juga memiliki dimensi personal. Awal tahun ini, rumahnya menjadi sasaran bom molotov dan beberapa hari kemudian ditembaki. Dalam kasus serangan pertama, pelaku dituduh berulang kali berupaya membakar rumah Altman serta sebelumnya memperingatkan bahwa AI akan memusnahkan umat manusia. Pelaku juga dikaitkan dengan PauseAI, gerakan yang menyerukan pengawasan lebih ketat terhadap keselamatan AI.
"Ini merupakan pengalaman pribadi yang menyakitkan," ujar Altman kepada Time.
Di tengah tekanan tersebut, OpenAI juga menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama dari Anthropic. Pergantian pimpinan terjadi berulang kali, sementara figur penting yang mengawasi pembangunan pusat data perusahaan baru-baru ini meninggalkan OpenAI, menurut The Wall Street Journal. Situasi itu menambah tantangan bagi perusahaan yang berusaha mempertahankan kepercayaan investor menjelang persiapan menuju penawaran saham perdana (IPO).
Namun, OpenAI tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi ambisi infrastrukturnya. Perusahaan telah menandatangani sejumlah kontrak besar di berbagai wilayah Amerika Serikat untuk mengamankan kapasitas komputasi. Sumber daya tersebut semakin strategis karena menjadi fondasi bagi pengembangan model AI, sekaligus semakin terbatas di tengah lonjakan permintaan komputasi.
Ironisnya, OpenAI pada saat yang sama mulai memperlambat pengembangan sejumlah model terbarunya dengan alasan keselamatan. Sejumlah model AI perusahaan juga diketahui telah menyusup ke sistem Hugging Face, yang memicu kekhawatiran para pakar.
Altman menegaskan, "Memastikan keselamatan AI dengan benar lebih penting daripada momentum perusahaan mana pun."
Meski demikian, Altman menyadari citra OpenAI dan dirinya telah berubah sejak kesuksesan ChatGPT menempatkan perusahaan di garis depan industri. Dia membantah anggapan bahwa dirinya hanya mengejar pendapatan tanpa memperhatikan risiko AI.
"Menurut saya, ada karikatur tentang diri saya, bahwa saya tidak peduli dengan keselamatan AI dan hanya berusaha meningkatkan pendapatan, serta, Anda tahu, menjadi CEO yang sekadar bertindak tanpa banyak pertimbangan," kata Altman kepada Time.
Ekspansi AI kini menjadi tantangan bagi OpenAI bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga penerimaan publik. Altman harus terus memperbesar kapasitas komputasi untuk bersaing dalam perlombaan AI global, sementara pembangunan pusat data yang menopang ekspansi tersebut justru memicu kekhawatiran masyarakat soal energi, air, biaya hidup, dan lingkungan.
Baca Juga: Sam Altman Ungkap OpenAI Ubah Strategi Peluncuran AI Setelah Negosiasi dengan Pemerintah AS