← Beranda
Gemini Makin Canggih, tapi Google Justru Bikin Pengalaman AI Terasa Ribet
Nanda PrayogaKamis, 27 Agustus 2026 | 22.59 WIB
Tampilan Google Gemini Spark. (Istimewa)

JawaPos.com - Google terus memperluas kemampuan Gemini dengan menghadirkan beragam fitur berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, semakin banyak kemampuan yang ditawarkan, pengalaman pengguna justru dinilai berpotensi menjadi lebih rumit karena berbagai fitur tersebut hadir dengan nama, ikon, dan ruang navigasi masing-masing.

Seperti dilansir dari TechCrunch, kondisi itu terlihat dari pembaruan Gemini Live yang diumumkan Google pada Rabu (26/8). Dalam pengumumannya, Google menekankan bahwa pengguna tidak lagi perlu menentukan fitur mana yang harus digunakan ketika memberikan perintah kepada Gemini melalui suara.

“Anda tidak perlu menebak-nebak apakah suatu tugas memerlukan Spark, Daily Brief, atau pencarian cepat di kotak masuk,” ungkapnya.

Pesan tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Gemini dapat menangani berbagai kebutuhan tanpa membuat pengguna memikirkan mekanisme di baliknya. Namun, persoalannya justru muncul dari cara Google memperkenalkan sejumlah kemampuan tersebut sebagai fitur dengan identitas tersendiri.

Di dalam aplikasi Gemini, misalnya, pengguna dapat menemukan beberapa pilihan seperti chat, Spark, dan Daily Brief. Masing-masing memiliki fungsi serta posisi tersendiri dalam navigasi aplikasi. Bagi pengguna yang hanya ingin memberikan perintah kepada AI, banyaknya pilihan tersebut justru berpotensi membuat pengalaman terasa kurang sederhana.

Daily Brief menjadi salah satu contoh. Fitur tersebut dirancang sebagai semacam rangkuman personal berbasis AI yang memberikan pembaruan secara proaktif dengan memanfaatkan informasi dari sejumlah layanan Google, termasuk Gmail dan Calendar.

Konsepnya memang terdengar praktis. Namun, dalam penerapannya, Daily Brief dapat memberikan informasi yang belum tentu memiliki urgensi bagi pengguna. Sistem bahkan dapat mengingatkan kembali aktivitas yang sebelumnya dilakukan, seperti riset yang pernah dikerjakan melalui chatbot atau pencarian tertentu di Google.

Hal semacam itu justru dapat menimbulkan kesan tidak nyaman. Pengguna mungkin pernah mencari informasi mengenai beasiswa pendidikan, penyelamatan hewan, atau berbagai topik lainnya tanpa memiliki keinginan untuk mendapatkan pengingat mengenai pencarian tersebut di kemudian hari.

Di sisi lain, Spark justru menawarkan fungsi yang lebih menarik. Fitur tersebut memungkinkan AI bertindak sebagai agen yang dapat menjalankan tugas tertentu atas nama pengguna.

Masalahnya, kemampuan tersebut kembali dikemas Google sebagai sebuah merek atau fitur khusus. Padahal, dari perspektif pengguna, mereka seharusnya tidak perlu mengetahui bagian internal mana yang bekerja ketika memberikan sebuah perintah.

Idealnya, pengguna cukup menyampaikan apa yang ingin dilakukan. Setelah itu, AI yang menentukan metode paling tepat untuk menyelesaikan permintaan tersebut, termasuk menggunakan agen khusus apabila memang diperlukan.

Persoalan ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada Gemini. Sejumlah perusahaan AI juga mulai menghadirkan berbagai mode dan istilah khusus yang membuat struktur internal produk semakin terlihat oleh konsumen.

Anthropic, misalnya, membuat pengguna Claude memilih antara mode “chat” dan “cowork”. Bahkan, hingga baru-baru ini, kedua mode tersebut tidak sepenuhnya menggunakan riwayat percakapan yang sama.

Hal serupa juga terlihat pada ChatGPT yang menyediakan pilihan antara mode “Chat” dan “Work”. Bagi pengguna awam, pembagian semacam itu dapat membuat interaksi dengan AI terasa lebih teknis.

Alih-alih cukup menyampaikan kebutuhan, pengguna justru dituntut memahami istilah dan merek yang digunakan perusahaan untuk menjelaskan kemampuan AI mereka.

Padahal, salah satu daya tarik terbesar AI seharusnya justru terletak pada kemampuannya menyederhanakan pekerjaan. Pengguna tidak perlu mengetahui bagaimana model bekerja di balik layar selama tugas yang diminta dapat diselesaikan dengan baik.

Pendekatan berbeda terlihat dari Apple melalui Siri. Meskipun perkembangan AI Siri kerap dianggap tidak seagresif kompetitornya, pendekatan Apple yang mengintegrasikan kecerdasan AI ke dalam fitur yang sudah dikenal pengguna justru memiliki keunggulan tersendiri.

Pengguna perangkat Apple tidak harus mempelajari sistem baru untuk memanfaatkan kemampuan tersebut. Fitur seperti Spotlight Search, Photos, kamera iPhone, hingga perintah suara Siri dapat dibuat lebih pintar tanpa mengubah kebiasaan pengguna secara drastis.

Prinsip yang sama juga terlihat pada semakin banyaknya layanan AI berbasis pesan. Pengguna cukup mengirimkan perintah dalam bentuk teks kepada asisten AI, kemudian sistem menentukan tindakan yang diperlukan.

Model interaksi semacam itu menawarkan antarmuka yang sederhana. Pengguna tidak perlu memikirkan fitur mana yang harus dipilih atau produk AI mana yang sesuai dengan tugas tertentu.

Pada akhirnya, tantangan Gemini bukan semata-mata soal seberapa banyak kemampuan baru yang dapat ditambahkan Google. Persoalannya adalah bagaimana seluruh kemampuan tersebut dapat disatukan dalam pengalaman yang terasa sederhana.

AI yang semakin pintar seharusnya membuat pengguna semakin sedikit berpikir tentang cara kerja sebuah aplikasi. Jika pengguna justru harus menghafal berbagai nama fitur dan menentukan mode yang tepat sebelum memberikan perintah, kecanggihan teknologi tersebut berisiko terasa lebih rumit daripada manfaat yang ditawarkannya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra