← Beranda
OpenAI Perlambat Pengembangan AI Setelah Insiden Peretasan Hugging Face
Mellyna Putri DiniarJumat, 21 Agustus 2026 | 04.25 WIB
Sam Altman, CEO dan salah satu pendiri OpenAI (The Guardian)

 

JawaPos.com - OpenAI memperlambat pengembangan model kecerdasan buatan (AI) setelah agen AI yang tengah diuji perusahaan meretas Hugging Face pada bulan lalu. Insiden tersebut mendorong perusahaan menahan sejumlah pelatihan berskala besar, menghentikan pengujian model selama dua pekan, serta memperketat sistem pengawasan terhadap agen AI dalam proses riset dan pelatihan.

Dalam pengumuman terbaru, OpenAI mengatakan perombakan mencakup sistem riset dan pelatihan. Pengujian model dihentikan selama dua pekan, sementara perusahaan menambah sistem AI lain untuk memantau perilaku agen yang sedang dievaluasi. Sejumlah pelatihan berskala besar yang telah direncanakan juga masih ditahan.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (20/8/2026), OpenAI belum menjelaskan kapan perlambatan dimulai atau kapan ritme pengembangan kembali normal. Mia Glaese, pemimpin keselamatan OpenAI, mengatakan, "Kami masih sangat jauh dari semuanya kembali normal." Pernyataan itu menunjukkan bahwa jeda tersebut bukan sekadar penundaan teknis jangka pendek.

Baca Juga: Meta Glasses Laris, Privasi Publik Terancam Jadi Korban

Fokus berikutnya adalah alignment, yakni memastikan model tetap mengikuti pengawasan manusia dan bertindak sesuai tujuan yang ditetapkan.

CEO OpenAI Sam Altman menulis, "Kami kini membutuhkan bukti lebih kuat tentang perilaku yang selaras di seluruh proses pelatihan." Ia menilai kemampuan sistem yang semakin tinggi membuat alignment menjadi persoalan yang harus dihadapi seluruh industri.

Tekanan tersebut datang ketika OpenAI bersaing ketat dengan Anthropic untuk membangun model paling maju sekaligus mempersiapkan langkah menuju pasar saham Amerika Serikat. Kedua perusahaan selama ini menonjolkan percepatan kemampuan AI, tetapi perkembangan itu juga memperbesar risiko ketika agen diberi kemampuan menjalankan tugas secara mandiri.

Kasus Hugging Face bukan satu-satunya alasan OpenAI memperketat pengamanan. Reuters melaporkan dari San Francisco bahwa perusahaan menghentikan pelatihan Astra, model generasi berikutnya, sementara pekerjaan yang paling sensitif dipindahkan ke "sandbox" yang lebih kuat.

Reuters juga menyebut OpenAI masih mempertanyakan efektivitas pemantauan chain-of-thought, karena riset awal menunjukkan model dapat menyembunyikan niat melanggar aturan dari proses penalarannya.

Pada saat yang sama, Astra menghadapi persoalan berbeda. OpenAI mengatakan evaluasi internal terbaru menunjukkan kemajuan besar dalam pengodean agen dan keamanan siber sehingga perusahaan tidak dapat mengesampingkan kemungkinan model itu mendekati ambang keamanan siber kritis. Namun, OpenAI menegaskan Astra bukan model yang terlibat dalam peretasan Hugging Face.

Menurut OpenAI, ambang kritis tersebut berkaitan dengan kemampuan menemukan dan mengembangkan eksploitasi zero-day pada sistem penting yang terlindungi tanpa campur tangan manusia, atau menjalankan strategi serangan siber baru terhadap target terlindungi hanya berdasarkan tujuan tingkat tinggi.

Karena itu, perusahaan memperketat lingkungan pengujian, membatasi akses jaringan dan perangkat, mengenkripsi bobot model, serta memperluas pemantauan dan eksekusi terisolasi.

Langkah itu juga berlangsung setelah Senator Amerika Serikat Bernie Sanders mendesak OpenAI, Anthropic, dan Meta menghentikan pengembangan AI.

Dalam suratnya, Sanders menulis, "Demi kemanusiaan, tepati kata-kata Anda. Hentikan pengembangan AI." Seruan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keselamatan AI mulai bergeser dari perdebatan internal industri menjadi tekanan politik di Washington.

Pada akhirnya, perlambatan OpenAI bukan berarti perusahaan meninggalkan perlombaan AI. Justru, langkah tersebut menunjukkan perubahan medan persaingan: kemampuan model berkembang sampai titik ketika pengamanan harus ikut mengejar laju inovasi. 

OpenAI kini harus membuktikan bahwa kontrol, pemantauan, dan alignment dapat berkembang secepat kemampuan AI yang ingin mereka bangun. Perusahaan juga menghadapi tuntutan untuk memperluas strategi keselamatan bersama pemerintah dan lembaga keselamatan AI.

Baca Juga: OpenAI Luncurkan ChatGPT for Teens, Dibekali Fitur Anti-Nyontek dan Kontrol Orang Tua

EDITOR: Candra Mega Sari